Gemerlap Batu Akik, Sudut Lain Kota Malang

0
235
IMG-20171123-WA0013
Loading...

BuktiPers.Com – Kota Malang (Jatim)

Ada pemandangan yang cukup menarik perhatian mata jurnalistik kami tepatnya di salah satu warung kopi kawasan belakang Pasar Besar Kota Malang. Kamis (23/11/2017) pagi sekitar pukul 11.00. Seorang bapak yang sudah berusia lanjut tampak membawa tas di bahu nya, bapak itu langsung menuju warung kopi tempat kami nongkrong dan memesan segelas kopi hitam, usai pesan kopi beliau langsung menuju ke suatu emperan toko yang kosong dan membuka tasnya yang ternyata berisi berupa dagangan batu akik.

Sungguh sebuah pemandangan yang menarik diri saya, dalam perspektif kegigihan dalam menjalani tekanan kehidupan.

Ketertarikan itu membawa team buktipres untuk segera mengajak berbincang dengan sosok bapak tua yang tangguh ini, beliau mengaku bernama asli Mbah Taufan tetapi orang-orang di seputaran lokasi itu yang mengenal beliau biasa memanggilnya dengan panggilan P. Mudin.

Saat BuktiPers.Com bertanya, sudah berapa lama beliau bergulat dengan jual beli barang antik, laki-laki yang telah ber umur 83 th ini mengatakan, “Sudah sejak tahun 1998 saya menekuni pekerjaan ini hingga saat sekarang ini, biasanya saya berkeliling dari Pasar Dinoyo terus ke Pasar Besar dan Pasar Barang Bekas Comboran-Kota Malang,” urainya.

Dulu saya sempat menikmati masa kejayaan usaha batu akik ini hingga bisa memenuhi kehidupan keluarga saya dan mengentas kan hidup dan pendidikan anak-anak saya.

Tapi sekarang ini peminat batu akik sudah semakin menurun drastis, tapi saya tetap saja berjualan batu-batu ini, karena hanya ini satu-satunya pekerjaan untuk mengais rejeki saya dan keluarga.
Saat kami bertanya berapa harga batu-batuan itu beliau menjawab, “Cukup murah harga batu akik untuk saat ini, yang sudah berbentuk cincin ini berkisar antara 25.000-175.000 per biji nya, tapi sekarang ini pasar lagi sepi,” ungkapnya.

“Laku satu saja sudah bagus, terkadang ketika pulang bisa membawa uang 25.000 saja, sudah lumayan, malah terkadang juga nggak ada yang laku sama sekali, sehingga ongkos untuk pulang naik mikrolet yang hanya 4.000saja, mesti pinjam ke teman-teman dulu, baru kalau besuknya laku, uang di kembalikan,” keluhnya.

Pria yang kini tinggal di kawasan belakang Universitas Gajahyana-Dinoyo Kota Malang ini berharap, bahwa suatu hari nanti terutama Pemerintah Kota Malang mampu menata kota ini dengan lebih tertata, sehingga semua sendi ekonomi dalam perperputarannya dapat berjalan dengan lancar, harapnya.

Menata kawasan-kawasan ekonomi kreatif semacam Kawasan Barang Antik, Kawasan Seni dan Kerajinan (baik yang Modern atau yang bersifat tradisi dan lokalitas) sangatlah penting untuk di pikirkan oleh Pemerintah Daerah, demi meningkatkan PAD nya. Kawasan-kawasan semacam ini justru bisa menjadi salah satu obyek kunjungan wisata lokal maupun nasional bahkan internasional karena mempunyai ciri khas yang jauh berbeda dengan Pasar Modern yang sedang banyak berkembang saat ini. Selain kondisi ekonomi masyarakat juga bisa lebih meningkat dan bisa menarik minat generasi muda untuk mau dan mampu mengembangkan potensi dirinya dalam berwirausaha atau membuka lapangan kerja sendirii.

Dari sini Batu Akik, Seni dan Kerajinan Lokal tidak hanya sebagai bahan dagangan tapi juga bisa sebagai produk kecerdasan Budaya nenek moyang kita yang bisa di eksplorasi sebagai kekayaan khas bangsa. (Hermin/Red)

Loading...