Harga Sawit Menurun, Petani Parjalihotan Mengeluh

0
38
Loading...

BuktiPers.Com – Tapteng (Sumut)

Hampir satu bulan lamanya petani Kelapa Sawit di Pinangsori mengeluh, akibat anjloknya harga jual terhadap buah sawit milik warga di wilayah ini. Sejumlah warga mengeluh menderita kerugian pada saat musin panen saat ini. Biaya untuk panen kelapa sawit ini tidak sebanding dengan hasil yang didapatkan.

Sepeti halnya di Desa Parjalihotan Kecamatan Pinangsori, Kabupaten Tapanuli Tengah, yang termasuk salah satu Desa penghasil Kelapa Sawit terbesar di kawasan ini. Puluhan Ton tiap harinya buah buah sawit masyarakat keluar dari kawasan ini. Warga di sini banyak mengeluhkan nilai jual yang tidak sebanding dengan Biaya ongkos Panen, ditambah lagi biaya untuk perawatan sawitnya.

Wak Nasution, salah satu Petani sawit di kawasan ini saat dijumpai awak media di sekitaran Sungai Parjalihotan, Senin (6/8/2018) saat sedang menurunkan hasil panen Sawitnya dari Perahu Sampan yang terbuat dari Kayu, mengatakan kalau harga sawit miliknya hanya di tawar sebesar lima ratus rupiah per kilo (Rp 500,/Kg) nya.Padahal menurut perhitungannya, dirinya harus merogoh kocek sebesar tujuh ratus rupiah per kilo (700/kg) untuk biaya operasional penjulan sawitnya mulai dari Panen hingga ke tempat timbangan di desa Parjalihotan di mana ketemu dengan Agen Sawit di Desa ini. Dirinya mengatakan harus menanggung kerugian saat ini dua ratus rupiah sekali Panen untuk tiap kilonya.

“Harga sawit saat ini cuman lima ratus rupiah (Rp 500,/Kg), sedangkan untuk biaya Panen di lahan (Tukang Dodos) sudah dua ratus (Rp 200/Kg), tambah lagi langsir dari Lahan menuju ke tepi sungai untuk di muat ke Kutuk kutuk (Sampan kayu) tiga ratus (Rp 300/Kg), Langsirnya ke dataratan Parjalihotan sudah dua ratus per kilo (Rp 200/kg) juga, jadi tetap kita rugi dua ratus rupiah setiap Panen. Dan ini sudah berjalan hampir satu bulan,” tutur Wak Nas (Nama Panggilan) pada awak media, Senin (06/08/2018).

Pak Silaholo juga menyebutkan kalau saat ini petani Sawit di wilayah ini serba salah. Apabila dipanen, tetap mengalami kerugian. Dan Apabila tidak di Panen pada saat musimnya, dikwatirkan Pohon sawit jadi rusak dan tidak berbuah lagi.

“Kita serba susah saat ini, kalau tidak dipanen pada saatnya, dua kali seminggu, takut buahnya busuk di tandanannya, bisa merusak pohon sawit dan takut tidak berbuah lagi berikutnya. Dan bila dipanen, itu tadi kita harus mengeluarkan biaya lagi untuk ongkos dan langsir. Karena lahan kita agak lumayan jauh dari sini,” tuturnya.

Warga di berharap agar keadaan ini segera membaik dan harga Buah sawit di Pinangsori dan sejumlah wilayah lainnya bisa normal kembali.

“Harapan kita, cepat cepatlah normal lagi harga ini, bisa kembali harga sawit ini di atas seribu rupiah, itu saja,” tutur warga ini lagi. (Job Purba/Red)

Loading...