Kebijakan Sepihak Angkutan Online Grab, Dianggap Tak Manusiawi

0
175
IMG-20180324-WA0027

BuktiPers.Com – Malang (Jatim)

Perkembangan kebutuhan masyarakat, akan transportasi yang aman, nyaman dan terjangkau, saat ini menjadi hal yang menjadi pertimbangan utama. Kehadiran mode transportasi dengan sistem aplikasi online ini, satu sisi menimbulkan efek positif, dengan banyaknya merekrut tenaga kerja dari anak-anak muda, yang menjadi mitra kerja perusahaan online Grab, sebagai driver.

Namun ada beberapa aturan, yang diberlakukan oleh perusahaan ini, yang dianggap tidak manusiawi oleh para driver Grab ini, terutama driver Grab dengan armada mobil, atau biasa disebut Grab Car.

Dan kemarin Jumat (23/03/2018), BuktiPers.Com menerima laporan dari 8 orang, driver Grab Car yang mengalami nasib, menerima sangsi sepihak, dari perusahaan tanpa ada alasan yang jelas.

Salah satu dari mereka yang berinisial DR, driver Grab yang sudah menjadi mitra selama satu tahun lebih menceritakan masalahnya, “Saya nggak tahu alasan kantor kenapa, kemarin Kamis (22/03/2018) saya pernah bertanya pada pihak staf di kantor cabang, tentang alasan insentif kami yang tidak turun selama satu minggu (16-22/03/2018),” jelasnya.

Lanjutnya, “Saya tidak mendapat jawaban apa-apa dari staf, tetapi saya malah terima pesan lewat SMS kalau saya kena suspen, jadi saya tidak bisa beroperasi sampai hari ini, Jumat (23/04/2018),” ungkapnya.

Terkait laporan dari 8 orang Driver Grab yang biasa mangkal di kawasan jalan Sukarno Hatta kota Malang ini. Ketika dicoba mendatangi kantor Grab di kota Malang, Jumat (23/03/2018) kemarin sore tapi menurut staf di kantor itu mengatakan, bahwa kantor sudah tutup dan pimpinanya sedang ada di luar kota, dan tidak tahu kapan pulangnya.

Penelusuran BuktiPers.Com di lapangan, Sabtu (24/03/2018), dengan mendatangi beberapa kawasan tempat biasa para supir Grab mangkal. Lima kawasan yang didatangi, mulai jalan Sukarno Hatta, sampai dengan kawasan sekitar pinggir Stasiun Kota Baru kota Malang.

Di kawasan pinggir Stasiun Kota Baru Kota Malang, sekitar 5 orang driver Grab. Salah satu driver Grab, yang bernama Rully 35 tahun, mengatakan tentang keluh kesahnya sebagai driver Grab, profesi yang sudah 2 tahun ini di jalaninya, “Selama ini sebagai driver Grab, yang mengecewakan pada kami adalah turunnya insentif trip, dulu kami kalau ngetrip 13 trip biasanya dapat 760/13 trip, tetapi sekarang tinggal 280/13 trip. Nominalnya turun lebih dari 50 persen dan kami ngak tahu apa alasannya, yang pasti kami merasa sangat di rugikan,” keluhnya.

Lanjutnya, “Seperti beberapa waktu yang lalu, saya sempat pernah dapat suspen padahal saya ngak merasa membuat kesalahan. Saya tanya ke kantor dan malah disuruh mikir apa yang salah, yang sudah saya lakukan, saya sempat binggung,” ujarnya.

Kemudian saya mencoba mengajukan banding di kantor, dan saya coba mengatakan ada satu kejadian, waktu itu sekitar satu bulan yang lalu tapi saya lupa tanggalnya, saya sempat menerima tiga order dari orang yang sama dari sekitar pukul 00.00/03.00 Wib, tetapi itu kan sebenarnya bukan saya yang minta pada customer, tetapi karena waktunya sudah larut, dan tidak banyak Grab car yang beroperasi, akhirnya oleh sistem ordernya nyantol ke saya lagi, ke saya lagi. Kata kantor itu yang membuat saya disuspen karena dianggap membuat transaksi mencurigakan.

“La yo saya jadi binggung mbak, wong bukan saya yang buat order saya cuma menerima kiriman dari operator, nanti semisal saya ngak terima performa saya turun, insentif nggak turun, diterima kena suspen karena dianggap membuat transaksi yang mencurigakan. Ini bagaimana, katanya kami ini mitra tetapi hak-hak sebagai mitra tidak ada sama sekali bahkan hak membela diri pun prosesnya membingungkan, yang membuat keputusan sepihak dari kantor pusat, sama saja kami ini seperti budak yang tidak ada hak sama sekali,” pungkasnya.

Kami lantas mencoba menghubungi kantor pusat Grab di Jakarta, dengan nomor 021-80648xx dan 021-806487xx, dan di terima oleh CSO (Custemer Service) kantor pusat Grab, dari nomor yang pertama diangkat oleh seorang pria, tetapi dia tidak menyebutkan namanya, dan bilang kalau dia tidak bisa menjawab terkait masalah itu, karena bukan kewenangannya.

Saat kami minta nomer telphone manajer atau pimpinannya untuk bisa mengklarifikasi terkait masalah ini, dia bilang tidak tahu. Kemudian kami mencoba menelpon nomor yang berbeda, dan diangkat oleh seorang perempuan, dan dia hanya bertanya nama, kemudian bilang suara kami tidak jelas dan tidak terdengar oleh dia, kemudian langsung ditutup, dan nomornya sudah tidak dapat dihubungi kembali. (Hermin/Red)