NAZI” Dan “JAHUDI” Di PD II

0
114

Oleh: Frans Samosir

Sejarah awal.
Naiknya Adolf Hitler dari Partai Nazi menjadi kanselir Jerman pada tahun 1934 mengakibatkan perubahan di berbagai bidang. Enam tahun kemudian, Jerman menjelma menjadi negara polisi. Semuanya diatur ketat dalam garis besar haluan Partai Nazi.

Adolf Hitler menggelorakan kembali semangat Pan-Jermanisme, sebuah keinginan untuk menyatukan seluruh daerah penutur bahasa Jerman ke dalam satu negeri Jerman Raya. Pan-Jermanisme juga dilandasi pemikiran etnosentris nan rasis lewat kebijakan anti-semitnya memberangus etnis minoritas seperti Yahudi, Gipsi dan yang lainnya.

Lebensraum (“Ruang Hidup”), sebuah prinsip ideologi ekspansionis Nazi menginginkan tanah dan bahan mentah yang lebih untuk tumbuh kembang rakyat berdarah Jerman. Akibatnya negara-negara tetangga seperti Polandia, Ukraina, Cekoslovakia menjadi caplokan.

Awalnya, Inggris, Perancis dan Rusia tidak mau terseret merespon aksi-aksi militer Jerman. Namun justru karena itulah Jerman leluasa mencaplok Austria pada 12 Maret 1938 dan Cekoslowakia yang dimulai pada 1 Oktober 1938 yang disusul negara-negara lainnya. Melihat manuver agresif Jerman yang sudah banyak melanggar Perjanjian Versailles yang berlaku sejak 1918 dan mengikat Jerman sebagai negeri pecundang Perang Dunia I, Inggris dan Perancis akhirnya mengumumkan akan memerangi Jerman jika Polandia atau Rumania diserbu.

Sebelumnya, pada Januari 1934 Jerman sudah menandatangani sebuah pakta non-agresi dengan Polandia. Ternyata, langkah yang diambil Hilter kurang dari setahun sejak menjabat sebagai kanselir Jerman ini tidak mendapat respon positif di kalangan warga Jerman pendukung Hitler, yang bermula dari kenyataan bahwa Polandia mendapat bagian dari bekas provinsi Jerman di Prusia Barat, Poznan, dan Silesia bersamaan dengan penandatanganan Perjanjian Versailles. Sang Führer pun merancang siasat dan mengkondisikan agar saat Jerman menyerang Polandia, tidak ada perlawanan aliansi antara Prancis dan Polandia.

Hitler kemudian menjalin komunikasi dengan Uni Soviet dan menegosiasikan sebuah pakta non-agresi pada 1939 atau yang disebut Pakta Molotov–Ribbentrop. Pakta tersebut memungkinkan dipecahnya Polandia menjadi dua bagian, masing-masing untuk Jerman dan Soviet. Dan tentunya, Jerman dapat dengan leluasa menyerang Polandia tanpa ancaman intervensi Soviet. Dan Jerman dibawah kepemimpinan Adolf Hitler pun berhasil menjalankan rencanaya.

Pada 1938, Inggris dan Perancis benar-benar tidak siap melawan Jerman. Kedua negara itu berusaha menjaga kedamaian Eropa dengan cara memberikan konsesi terlalu banyak kepada Jerman, misalnya menyetujui upaya kembali mempersenjatai (rearmament) Jerman sejak tahun 1935 dan remiliterisasi wilayah Rhineland pada 1936, ketika Angkatan Darat Jerman diterjunkan untuk menduduki wilayah tersebut. Dua hal ini sekali lagi melanggar Perjanjian Versailles yang menjadi landasarn perdamaian pasca Perang Dunia Pertama.

Seminggu setelah penandatanganan Molotov–Ribbentrop di Moskow, Jerman benar-benar menyerang Polandia pada 1 September 1939. Tepat sebelum fajar menyingsing, tentara Nazi muncul dari seluruh penjuru Polandia. Di timur lewat Prusia, di wilayah utara yang berbatasan langsung dengan Jerman, di selatan lewat Silesia dan dibantu pasukan Slovakia.

Serangan pada hari pertama pun berhasil membombardir kota Wielun dan menewaskan hampir 1.200 orang. Serangan fajar yang diluncurkan oleh pesawat tempur dan dibantu dengan serangan yang diluncurkan dari kapal perang. Serangan fajar itu membombardir hampir seluruh wilayah Polandia yang turut dibantu kapal perang Jerman Schleswig-Holstein melepaskan tembakan ke posko transit di Westerplatte, kota Danzig.

Serangan terhadap Danzig sekaligus membuka invasi besar-besaran di Polandia dengan masuknya sekitar seribu lima ratus personel Angkatan Darat Jerman. Serbuan ini dicatat dalam sejarah sebagai awal dari dimulainya Perang Dunia Kedua. Unit tempur Jerman terdiri lebih dari 2.000 tank dan lebih dari 1.000 pesawat. Dalam serangan besar-besaran itu, dengan mudah pasukan Jerman menembus pertahanan dan memasuki jantung Polandia di Warsawa.

Inggris dan Prancis pun bereaksi, yang sebelumnya telah memberi jaminan bagi Polandia segera menyatakan perang kepada Jerman pada 3 September 1939. Mereka mulai memobilisasi tentara termasuk mempersiapkan warga sipil untuk membantu militer memerangi tentara Nazi.

Setelah pasukan Jerman membombardir Polandia dari udara, Warsawa akhirnya menyerah pada 27 September 1939. Sisa-sisa angkatan perang Polandia menyerah pada awal Oktober setelah kehilangan sekitar 65.000 prajurit dan ribuan warga sipil. Sesuai perjanjian, Uni Soviet baru muncul untuk menyerang Polandia pada 17 September 1939. Sungai Bug menjadi garis pemisah antara wilayah Polandia yang diduduki oleh Jerman dan Soviet. Polandia pun terbelah dua.

Pada Oktober 1939 Jerman sukses mencaplok kembali wilayah Prusia Barat, Poznan, Silesia atas, dan Danzig. Kota-kota yang sudah diduduki Jerman seperti Warsawa, Krakow, Radomdan Lubin langsung diperintah oleh seorang gubernur jendral sekaligus pengacara Partai Nazi, yang bernama Hans Frank.

Dalam pertempuran akhir antara Jerman dan Polandia yang disebut sebagai “Pertempuran Kock”, pasukan tentara merah Soviet dan Nazi Jerman resmi mendapat kendali penuh atas Polandia pada 6 Oktober 1939. Keberhasilan ini menandai berakhirnya Republik Kedua Polandia meski negeri itu tidak pernah secara resmi menyerah. Nazi Jerman masih menduduki sisa-sisa Polandia ketika akhirnya memutuskan untuk menggelar Operasi Barbarossa unntuk menyerang Uni Soviet pada 22 Juni 1941.

Pertempuran babak besar antara Nazi Jerman dan Uni Soviet masih berlanjut saat invasi Jerman melibatkan Rumania, Italia, Hungaria dan Kroasia untuk menyerang Kota Stalingrad di wilayah Uni Soviet pada 23 Agustus 1942. Polandia sendiri berstatus tanah pendudukan Jerman sampai Januari 1945.

Meskipun Perang Dunia Kedua berakhir pada 1945 dan Uni Soviet telah bubar pada 1991, Polandia sulit lepas dari orbit geopolitik Rusia. Kenangan akan Perang Dunia Kedua masih tetap kuat tertancap di seluruh Eropa. Terutama bagi orang Polandia yang menyaksikan negerinya menjadi medan kekejaman Perang Dunia II.

Setelah ribuan tahun terlunta-lunta, orang-orang Yahudi dibuat menjadi orang terhina oleh rezim NAZI-Hitler pada Perang Eropa (1939-1945). Namun, pada awal 1943, orang-orang Yahudi mulai melawan Tentara Jerman di Polandia. Tentu saja dengan risiko sangat besar.

“Pada 31 Agustus 1939, semua orang di Warsawa yakin bahwa perang melawan tentara-tentara Jerman tak terelakkan lagi,” Wladyslaw Szpilman menuliskan kalimat itu dalam bukunya The Pianist(2005). Nyatanya, tak hanya perang yang tak terelakkan, tapi juga pendudukan Jerman atas kota mereka. Jelang pendudukan Jerman, ketika pertahanan Polandia makin berantakan dan hancur, Szpilman muda sudah terkenal sebagai pemain piano di Warsawa.

“Pada hari terakhir di stasiun radio itu, aku memainkan resital Chopin. Inilah siaran musik langsung terakhir dari Warsawa. Bom-bom berjatuhan di dekat stasiun radio secara terus menerus selama aku bermain dan bangun-bangunan di dekat tempat kami terbakar,” akunya. Film The Pianist (2005), yang disutradarai Roman Polanski dan diperankan Adrian Brodie, menggambarkan dengan baik bagaimana Wladyslaw sedang bermain piano di sebuah radio ketika sebuah peluru meriam mengenai gedung tempatnya bermain.

Hidup baru pun di mulai. Terutama untuk orang-orang Yahudi macam Szpilman. Nasab dan ras yang dimilikinya membawa ia ke sebuah kampung khusus orang Yahudi yang disebut ghetto. Tentu, bersama orangtua dan saudara-saudarinya. Keluarga Szpilman kemudian tercerai-berai. Mereka semua hidup sebagai kuli-kuli macam romusha. Di masa itu, ada segelintir juga orang-orang Yahudi yang rela jadi kaki tangan tentara Jerman. Mereka kadang disebut sebagai Polisi Biru. Hal ini dilakukan segelintir orang Jahudi ketika itu untuk mempertahankan hidup sekaligus mencuri kekuatan tentara Nazi yang kemudian membangun kekuatan.

Wladyslaw Szpilman, bersama laki-laki Yahudi lain yang jadi romusha, akhirnya menjadi saksi sekaligus pelaku sebuah gerakan rahasia. Kondisi terjepit membuat mereka nekad mematahkan mitos bahwa orang Yahudi pecundang malang sejak diusir dari tanah leluhur mereka ribuan tahun silam. Selama ribuan tahun pembuangan dan terlunta-lunta itu mereka tak pernah melawan dalam sebuah perang atau pemberontakan, dan hal tersebut mereka patahkan.

Orang-orang Yahudi lebih asyik bergiat di bidang, perekonomian, ilmu pengetahuan atau kebudayaan. Pemberontakan baru terukir dalam sejarah di Warsawa dan Szpilman ada di sana setelah mereka mendapat penggalan berita kekalahan tentara Jerman di beberapa front awal tahun 1943. “Semakin mengumpullah optimisme di tangan dan kami menyambutnya dengan riang gembira serta makin kuatlah keyakinan kami bahwa perang akan segera berakhir…seiring dengan santernya berita-berita politik yang menggembirakan, gerakan-gerakan bawah tanah di ghetto meningkatkan aktivitas-aktivitas mereka.

Tak terkecuali kelompokku. Majorek, yang setiap hari mengirim berkarung-karung kentang untuk kelompok kami dari kota, menyelundupkan amunisi di bawah tumpukan kentang tersebut. Kami membagi, memasukan ke dalam celana-celana panjang kami, dan membawanya ke dalam ghetto. Ini sebuah aktivitas yang beresiko,” tulis Szpilman. (Senjata-senjata yang mereka selundupkan adalah senjata-senjata kecil, agar lebih mudah disembunyikan).

Di masa-masa penuh kesibukan di kalangan orang Yahudi itu, tentara Jerman terus mengawasi. Bahkan Szpilman dan Majorek nyaris ketahuan. Biasanya, jika ketahuan akibatnya fatal. Tentara NAZI Jerman tak segan membunuh orang Yahudi. Orang-orang Yahudi itu yakin, melawan atau tidak pada tentara Jerman, peluang mereka untuk mati nyaris sama besarnya. Akhirnya pemberontakan Yahudi pertama terhadap Jerman pun meletus pada 18 Januari 1943. Hari itu, tentara Jerman sedang mengumpulkan paksa penghuni-penghuni ghetto untuk diusir ke area lain. Tentu saja mereka terkejut karena adanya perlawanan dari kombatan Yahudi yang rata-rata bertubuh kurus. Menurut Nechama Tec dalam Resistance: Jews and Christians Who Defied the Nazi Terror (2013), pemberontakan orang-orang ini adalah kejutan bagi militer Jerman di sana karena ini adalah pertama kalinya dalam sejarah.

Orang-orang Yahudi kombatan itu tergabung dalam Żydowska Organizacja Bojowa (ZOB) alias organisasi tempur atau kombatan Yahudi. Militer Jerman yang marah lalu membantai orang-orang Yahudi. Orang-orang yang Yahudi pun tak mau berhenti meski pemberontakan sudah dipadamkan. Mereka merancang lagi pemberontakan yang lebih dahsyat pada 19 April 1943. Militer Jerman mengerahkan pasukan Schutz Staffel (SS) pimpinan Jenderal Juergen Stroop. Untuk membersihkannya butuh waktu sebulan. Menurut John Guttman dalam World War II: Warsaw Ghetto Uprising dalam World War II Magazine (2000), dalam pembersihan bulan Mei 1943, 13 ribu Yahudi terbunuh. Setengahnya dibakar hidup-hidup.

Orang-orang Yahudi yang memberontak itu digempur tentara Jerman sampai berantakan sehingga dengan mudah dibubarkan. Namun, tak semuanya ditewaskan tentara Jerman. Banyak yang bertahan dan bergerilya dalam Home Army alias pasukan perlawanan bawah tanah Polandia.

Pemberontakan yang melibatkan orang-orang Yahudi pun terjadi lagi setelah Mei 1943. Ketika itu, dari arah timur Tentara Merah Uni Sovyet terus menggempur posisi Jerman yang makin terjepit setelah dipukul dari Stalingrad. Jika Tentara Merah menggempur dari luar, maka organisasi perlawanan macam ZOB melemahkan Jerman dari dalam wilayah pendudukan.

Yitzhak Zuckerman adalah salah satu dari pemberontak Yahudi yang terus bergerilya hingga perang selesai bersama Home Army. Dia dianggap sebagai pemimpin pemberontak Yahudi di Warsawa itu. Dia termasuk pimpinan ZOB. Setelah pemberontakan, Yitzak Zuckerman jadi makin berhati-hati terhadap orang Yahudi. “Tidak ada polisi ‘baik’ di sini karena orang yang baik menanggalkan seragam dan menjadi Yahudi yang sederhana,” katanya dalam A Surplus of Memory: Chronicle of the Warsaw Ghetto Uprising (1993). Mereka berpeluang membocorkan rencana dan posisi pemberontak Yahudi itu.

Kota Warsawa jadi makin hancur lagi oleh bom-bom pemberontak atau peluru meriam tentara Jerman. Szpilman sendiri kemudian kabur tak kembali ke ghetto. Dia berpindah dari satu reruntuhan gedung satu ke reruntuhan gedung lain. Film The Pianist menggambarkan Szpilman bertemu dengan seorang Kapten Tentara Jerman Wilm Hosenfeld, yang memperbolehkannya bermain piano serta kemudian menyelamatkannya dari keganasan serdadu Jerman, kelaparan, dan udara dingin.

Kematian adalah hal yang dekat dengan Yahudi Eropa di masa itu jika bertemu serdadu Jerman. Sampai kemudian Tentara Merah Uni Soviet menerobos dari timur, Amerika-Inggris serta sekutu lainnya dari arah barat, hingga perang pun akhirnya usai. (dikutip dari berbagai sumber sejarah) (Frans/Red)