PT. SIL Hadirkan Saksi Yang Dapat Diancam Hukuman 7 Tahun Penjara Pada Persidangan Register 45

0
75
IMG-20180313-WA0025

Buktipers.com-Mesuji (Lampung)

Masalah lahan di dalam areal Kehutanan Register 45 Sungai Buaya, Kabupaten Mesuji Provinsi Lampung yang tidak pernah terselesaikan melalui demo dan fasilitasi oleh Pemerintah ternyata dengan diajukannya permasalahan tersebut di Pengadilan Negeri Menggala dengan nomor 07/Pdt.G/2017/PN.MGL pada hari Kamis tanggal 8 Maret 2018 jam 16-18, telah memberikan kejelasan kepada masyarakat mengenai keadaan yang sebenarnya.

Masyarakat sangat prihatin dengan mudahnya lahannya di makan oleh PT. Silva Inhutani Lampung dengan alih-alih SK Kehutanan sebagaimana Saksi Fakta yang dihadirkan oleh PT. Silva Inhutani Lampung bernama Risdianto (45) dan Teguh (25) yang keduanya adalah Penduduk desa/dusun Pasir Jati (PJ) Kelurahan Talang Batu Kecamatan Mesuji Timur.

Dengan gamblangnya Rusdianto mengatakan PT. Silva Inhutani Lampung memiliki SK Kehutanan pada tahun 1991 dan luas lahannya 40.200 Ha pada keterangannya berdasarkan pertanyaan Majelis Hakim Juanda Wijaya SH, dan disebutkannya juga sebagai security di PT. Silva Inhutani Lampung sejak tahun 1996 yang berhenti pada tahun 2013, maka ia tidak mengetahui batas Timur, Barat, Utara dan Selatan dari Register 45 Sungai Buaya yang menjadi PT. Silva Inhutani Lampung tersebut.

Saksi Fakta yang di hadirkan oleh PT. Silva Inhutani Lampung tersebut juga masing-masing menerangkan memiliki lahan dengan jarak sekitar 500 meter dari lahan Hendy T. Haroen yang berasal dari Mertuanya yang dibeli dahulu dari Abdullah Bahusin ucap Risdianto,  demikian juga lahannya langsung bersebelahan dengan bagian timur lahan 400 Ha milik Hendy T. Haroen seluas 1Ha yang ditanaminya tanaman karet, dimana lahan tersebut merupakan warisan dari Ayahnya yang membeli pada tahun 2006 dari Abdulah Bahusin.

Kedua saksi berdasarkan pertanyaan Majelis Hakim menerangkan, “lahan tersebut saya tidak tahu di dalam Register 45, dan baru mengetahuinya sekarang, demikian juga terhadap lahan milik saya juga tidak pernah di tanami karet oleh PT. Silva Inhutani Lampung dan juga tidak pernah dilarang oleh PT. Silva Inhutani Lampung untuk menggarapnya apa lagi di laporkan ke Polisi sama sekali tidak pernah,” Ungkap Risdianto dan Teguh.

Advokat Ir. Tonin Tachta Singarimbun SH dari ANDITA’S LAW FIRM Jakarta yang diakui oleh awak media memiliki sense yang tinggi dalam menangani perkara ternyata telah membaca bau yang tidak jujur dari Saksi Fakta yang dihadirkan oleh PT. Silva Inhutani Lampung.

Oleh karena itu pada saat diberikan kesempatan oleh Ketua Majelis Noor Ichwan Ichlasria Adha, SH adalah Ketua PN Menggala, maka Advokat Singarimbun meminta kepada Ketua Majelis guna membacakan ketentuan Pasal 242 ayat (1) Kitap Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) dan oleh Ketua Majelis meminta langsung saja dibacakan oleh Pak Tonin, yang berbunyi “Barang siapa dalam hal-hal yang menurut undang-undang menuntut sesuatu keterangan dengan sumpah atau jika keterangan itu membawa akibat bagi hukum dengan sengaja memberi keterangan palsu, yang di atas sumpah, baik dengan lisan maupun tulisan, maupun oleh dia sendiri atau kuasanya yang khusus untuk itu dihukum penjara selama-lamanya  tujuh tahun”. dan spontan para saksi dan Pengacara PT. Silva Inhutani Lampung bereaksi dan dijelaskan oleh Tonin ini bukan intimidasi karena hal biasa diucapkan dalam Pemeriksaan Saksi di Persidangan Terbuka guna menyadarkan Saksi untuk berkata yang sebenarnya alias jujur,” Ungkap Tonin.

Singarimbun sebelum mengajukan pertanyaan, maka menggugah Saksi Risdianto untuk mencabut keterangannya yang tidak benar atau keliru karena kalau tidak pasal 242 ayat 1 akan dipergunakan yang langsung di sambut oleh Ketua Majelis “Silahkan kepada Pak Tonin untuk melaporkannya kepada Polisi,” Ucap Ketua Majelis kepada Tonin dipersidangan.

Saksi Risdianto menerangkan bahwa ia tidak mengetahui SK PT. Silva Inhutani Lampung tahun 1991 padahal diterangkannya diawal dengan percayanya SK tersebut diketahuinya dan ternyata pada pertanyaan setelah disebutkan pasal 242 ayat 1 KUHP keterangannya menjadi SK tersebut diketahuinya, berdasarkan pemberitahuan dari atasanya dan oleh Singarimbun ditanyakan lagi siapa nama atasannya, maka disebutkannya namanya “Markus Wahyu”, demikian juga terhadap luas PT. Silva Inhutani Lampung disebutkannya 42.100 Ha setelah perluasan yang diberitahukan oleh atasannya tapi lupa namanya. Jawab Rusdianto (Saksi) yang terkesan kebingungan.

Ditanyakan mengenai ketentuan menjadi Security yang telah mengikuti pelatihan di Kepolisian dan sebenarnya tanggung jawabnya sebagai security, ternyata Rusdianto hanya bertanggung jawab menjaga asset PT. Silva Inhutani Lampung di Kantornya yang berada di Brabasan, Keluarahan Brabasan Kecamat Mesuji Timur, sementara lahan sengketa 400 Ha milik Hi Hendy T. Haroen berada di dusun/desa Pasir Jati (PJ) Kelurahan Talang Batu Kecamatan Mesuji Timur yang menurut pengakuannya ada melintasi Sungai dan waktu tempuh sekitar ½ jam dari Kantornya tersebut dengan lahan 400 Ha.

Beberapa awak media yang meliput persidangan, sangat melihat perbedaan keterangan yang diberikan Saksi Rusdianto sebelum dibacakan pasal 242 ayat 1 KUHP dengan setelah dibacakan, karena perbedaan yang menyolok antara lain tahun penanaman Kelapa Sawit dan penanaman Karet, keadaan lahan yang diakuinya menjadi daerah patrolinya, penanaman karet yang diakuinya saat pertanyaan Ir. Tonin Tacha Singarimbun, SH adanya pengawalan dari Polisi berpakaian lengkap dan menggunakan senjata lengkap tidak tahu berapa orang, tapi banyak atau lebih dari satu orang, dimana waktu penanaman karet kata Rusdianto pada tahun 2008 sampai dengan tahun 2011 saat Pohon Kelapa Sawit Hi Hendy T. Haroen telah berbuah Pasir.

Saksi Teguh yang menurut pengakuannya lahir tahun 1982 dan tercatat di Copy KK tahun 1982 sebagaimana dibacakan oleh Ketua Majelis Noor Ichwan Ichlasria Adha, SH dan pada akhir persidangan ditanyakan apakah bisa baca kepada Saksi tersebut.

Saksi dengan jawaban yang berbelit-belit antara lain menyebutkan tanahnya seluas 1 Ha langsung berada disebelah lahan 400 Ha kepada Mejelis Hakim dan setelah ditanya oleh Singarimbun maka dijawab oh tidak langsung ada lahan orang lain diantaranya yang tidak diketahuinya siapa pemiliknya, demikian juga tidak mengtahui lahan siapa lagi disekitarnya, dan setelah ditanyakan lahan Saksi Rusdianto dimana,  maka disebutkannya lahannya sebelum lahan miliknya, demikian juga menyebutkan yang melakukan penanaman karet dilahan 1 Ha adalah dirinya kepada Majelis, dan setelah ditanya oleh Adv. Tonin maka dijawabnya ia yang menanam orang tuanya dan rusak karena dideres, dan keterangan lain menyatakan rusak karena pemeliharaan sehingga pada waktu umur 3 tahun di sisip dengan tanaman yang baru.

Majelis Hakim Juanda Wijaya SH beberapa kali menanyakan mengenai umur sawit yang bisa dideres kepada ke-2 Saksi, dan dari ke-2 saksi memberikan keterangan yang tidak sama mengenai umur Karet yang dapat dipanen, demikian juga kepada Hakim Anggota lainnya Mohamad Juanda Parisi SH, ke-2 saksi dalam memberikan keterangan berkisar mengenai lahan di dalam Register 45, tidak pernah dilakukannya pengukuran lahan yang diketahui, batas lahan 400 Ha, dan mengenai pelang yang disebutan beberapa kali oleh saksi dalam persidangan.

Persidangan di tutup sekitar jam 18:00 wib, dan pada akhir persidangan disebutkan oleh Ketua Majelis persidangan selanjutnya hari Kamis tanggal 15 Maret 2018 dengan mendengarkan keterangan Ahli dari PT. Silva Inhutani Lampung sebagai tergugat 1 dan dari Kementrian Kehutanan dan Lingkungan Hidup Jakarta sebagai Tergugat 2.

Awak media pada waktu keluar dari Pengadilan Negeri Menggala melihat Saksi fakta tersebut dengan rombongannya sekitar 6 (enam) orang masuk ke halaman Kantor Kejaksaan Negeri Menggala, dan karena sudah malam maka tidak diikuti sehingga tidak mengetahui apa yang terjadi antara rombongan/saksi PT. Silva Inhutani Lampung tersebut dengan pihak Kantor Kejaksaan Negeri Menggala.(nang/rob/red)