Rodearni Dan Orangtua Siswa SMKN 1 Bantah Terkait Bebankan Dana PKL Rp 48 Juta

0
94

BuktiPers.Com – Simalungun (Sumut)

Berita terkait Kepala Sekolah SMKN 1 Kecamatan Siantar, Kabupaten Simalungun, Rodearni Saragih yang disebut-sebut telah membebankan biaya Praktek Kerja Industri atau yang lebih sering dikenal dengan istilah PKL kepada 6 orang siswa sebesar Rp. 48 juta untuk 6 orang siswa dibantah dan diklarifikasi.

Kepada BuktiPers.Com, Rabu (9/8/2017) Rodearni menjelaskan bahwa pihaknya tidak pernah memaksakan maupun membebankan dana PKL seperti diberitakan sebelumnya. Dikatakannya bahwa pihaknya hanya membuat informasi di papan pengumuman sesuai hasil survei terkait biaya-biaya yang akan dibutuhkan siswa yang nantinya akan melakukan PKL diluar wilayah Siantar – Simalungun.

“Kita hanya buatkan informasi terkait besaran biaya yang nantinya dibutuhkan siswa jika PKL diluar Siantar – Simalungun, seperti di Medan misalnya,” sebut Rodearni.

Lebih lanjut dijelaskannya bahwa pemberitaan sebelumnya merupakan “miss understanding” atau kesalahpahaman, jadi seolah-olah telah terjadi pengutipan kepada siswa padahal itu hanya informasi yang selanjutnya dikembalikan atau tergantung kepada siswa bersangkutan, bahkan kenyataannya 6 siswa yang PKL di Medan tersebut memilih untuk tinggal di rumah keluarga.

“Yang jelas, berita itu ada salah paham, padahal kita tidak mengutip dana dari siswa yang akan PKL. Malah kenyataannya siswa yang di Medan itu lebih memilih tinggal di tempat keluarga masing-masing,” terangnya.

Hal senada diutarakan salah seorang orangtua siswa yang PKL ke Medan, yang mengaku terkejut dengan munculnya berita yang menyebut dibebankan Kepsek Rp. 8 juta untuk PKL. Dalam penuturannya lewat sambungan telepon, dikatakannya bahwa dirinya tidak pernah dibebankan uang PKL seperti diberitakan.

“Sebenarnya pihak sekolah hanya buat pilihan, buktinya kita menitipkan anak kita di tempat keluarga untuk mengirit pengeluaran,” ujar orangtua yang tidak ingin namanya dipublikasikan.

Masih menurut Rodearni, bahwa dirinya merasa harus memberikan klarifikasi terkait pemberitaan dimaksud, karena dikhawatirkan dapat memberi kesalahpahaman bagi pembacanya.

“Saya memang harus mengklarifikasi berita itu, Pak. Biar tidak ada salah paham, apalagi sampai menyangka kita mengutip uang tersebut,” ujarnya sembari minta agar klarifikasinya dipublikasikan. (01/Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here