Sangsi Adat Tak Sesuai, Ancang Nan Limo Angkat Bicara

0
185

Buktipers.com – Dharmasraya (Sumbar)

Pro dan kontra tentang keputusan serta penjatuhan sangsi adat serta penetapan pemakaian dan penegasan adat terjadi di Kabupaten Dharmasraya.

Berawal dari pembelian sebidang tanah di daerah Sungai rotan Nagari Koto padang, Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya yang mana jual beli ini di buktikan dgn surat keterangan jual beli tanah

Dan dalam hal ini bertindak Pihak pembeli atau pihak kedua adalah Heni Astuti dalam hal mengelola tanah tersebut Heni Astuti menyerahkan kepada adiknya Apri Redi yang mana kedua-duanya tinggal dan sudah menjadi warga Koto Padang yang mana dalam hal ini di adat yang berlaku di Sumatra Barat telah mengaku induk (masuk ke salah satu suku-red) yang mana mereka tergabung dalam suku Tigo Nini.

Berawal dari Apri Redi membuka lahan yang sudah mereka beli tersebut. Apri Redi menumbang dan merobohkan kayu yang ada di lahan tersebut.Kemudian tiba tiba datang sekelompok orang yg menyatakan Apri Redi bersalah karena menumbang kayu yang menjadi pelindung tompat (kuburan nenek moyang) dan tanpa ada yang bisa diperbuat Apri Redi di tengah massa dia mengaku bersalah karena menumbangkan kayu tersebut kemudian Apri Redi di bawa kehadapan ninik mamak apat suku tempat dia bergabung), nah di sinilah berawal suatu keputusan yang kata Apri Redi tidak sesuai dengan hati nurani nya serta keluarga yang lain. Dan dalam hal pembelaan diri di hadapan ninik mamak ini dua kali sudah di lakukan. dan hasilnya dia tidak boleh melakukan pembantahan serta pembelaan dalam hal ini Apri Redi di beri sangsi denda yaitu satu ekor kerbau. Tanpa ada turun naik pembelaan dan di wajibkan membayar. Pembayaran denda satu ekor kerbau ini akan di lakukan pada tanggal (15/1/2018)nanti yaitu hari Senin.

Dan karna ada keganjilan serta kejadian ini Penguasa Bumi Malayu,Sri Raji Maharajo, Kami Ancang Nan Limo Di Nagari Lareh Nan Tigo, Bumi Nan Padinyo Kambang Manguniang Sarato Taranaknyo Nan Bakambamg Biak Mempertanyakan.

“Kami atas nama Ancang nan Limo “hukuman sarato sangsi nan di jatuh kan ka salah satu cucu kamanakan, nan kok takapik indak bisa manggarik, kok marenggiu indak bisa bakukuak. Yang berarti bana dak buliah di sabuik salah dak buliah di pakatoan. Oleh karna itu kami ateh namo Ancang Nan Limo Di Nagari Lareh Nan Tigo, Bumi Nan Padinyo Kambang Manguniang Sarato Taranaknyo Nan Bakambamg Biak Mempertanyakan serta meminta penjelasan kepada ninik mamak yang menjatuhkan sangsi tersebut kepada cucu kemenakan nya.yang mana seharusnya dalam adat kito,kok salah cucu kamanakan tautang adaik dan pemakaian harus lah ado timbang menimbang bela membela. Kok gadang hutang mintak paketek,kok barek mintak paringan.kok tibo di nan ketek jo ringan mintak di habis kan.dan iko kito lakukan salaruik salamo nangko di Nagari lareh nan tigo. Jadi dalam hal ini kami ANCANG NAN LIMO BUMI MELAYU meminta peninjauan kembali keputusan ini, kepada pihak ninik mamak di Nagari terjadi nya hal tersebut,serta mohon pada pihak pemerintahan supaya membantu memediasi serta dapat memberi pencerahan.karna dalam pandangan kami hal ini sangatlah tidak sesuai dengan adat dan pakaian kito di bumi lareh nan tigo. Dan kami berharap pihak Pemda Dharmasraya ikut memperhatikan kejadian ini karna ini suatu keputusan yg tak patut serta tak layak di pertontonkan nanti di hari serta tanggal pelaksanaan nya.

Jadi sebelum bumi lareh nan tigo di permalukan dengan kejadian ini,kami Ancang Nan Limo, Bumi Malayu Di Nagari Lareh Nan Tigo meminta semua kalangan serta ninik mamak melakukan peninjauan kembali.jangan sampai keputusan yang kami rasa menyalahi ini.menjadi pandangan buruk daerah lain di Sumatera Barat. Karna telah melakukan penetapan serta pemakaian adat yang salah.sebab hal kejadian ini sudah menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat luas Kabupaten Dharmasraya, bahkan sudah terdengar dan telah meluas ke kalangan masyarakat Sumatera Barat”(ef)