Beranda Serba Serbi 3 Tahun Hidup dalam Kondisi Kepala Dempet, Rabeya dan Rukaya Akhirnya Terpisah

3 Tahun Hidup dalam Kondisi Kepala Dempet, Rabeya dan Rukaya Akhirnya Terpisah

55
0
Operasi pemisahan Rabeya dan Rukaya berjalan sukses (Foto: AFP)

Dhaka, buktipers.com – Balita kembar dempet kepala asal Pabna, Bangladesh, berhasil menjalani operasi pemisahan yang berlangsung maraton selama 30 jam di rumah sakit Dhaka.

Kedua anak berusia 3 tahun bernama Rabeya dan Rukaya itu mengalami dempet di tulang tengkorak dan otak. Tim dokter asal Hongaria juga mengalami kendala karena kedua anak mengalami kelainan embriologi sangat langka, hanya terjadi pada 5 dari 6 juta kasus.

“(Mereka) Stabil setelah operasi pemisahan terakhir. Kami harus sangat berhati-hati selama periode pascaoperasi,” kata Andras Csokay, ketua tim dokter yang juga relawan Action for Defenceless People Foundation (ADPF), organisasi amal yang melakukan operasi, dikutip dari AFP, Jumat (2/8/2019).

Setelah pemisahan tengkorak dan otak yang berlangsung di rumah sakit militer Dhaka, tim mulai menutup luka dengan jaringan lunak yang dihasilkan dari proses perluasan jaringan yang dilakukan di Hongaria.

Baca Juga!  Bayi Kembar Ini Diberi Nama Prabowo-Sandiaga

Sebelum operasi, dokter mengatakan keduanya balita memiliki peluang hidup 50 persen. Hanya sedikit operasi pemisahan kembar dempet kepala yang berhasil.

ADPF Hongaria didirikan pada 2002 oleh Csokay dan ahli bedah plastik Gergely Pataki untuk memberikan operasi gratis kepada orang-orang miskin di berbagai negara.

Orangtua Rabeya dan Rukaya menemui ADPF pada 2017 untuk meminta bantuan. Dalam operasi fase pertama yang berlangsung selama 14 jam di Bangladesh pada tahun lalu, pembuluh darah di otak kedua anak itu berhasil dipisahkan.

Kemudian, dalam fase operasi selanjutnya yang berlangsung 6 bulan mulai Januari 2019, Rabeya dan Rukaya dipindah ke Budapest di mana dokter memasukkan sistem implan untuk memperluas kulit kepala dan jaringan lunak.

Baca Juga!  Legacy di Balik Merger Dua Bank Terbaik, BTPN-SMBCI

Ahli bedah saraf dan ahli bedah plastik ADPF didukung pakar anestesi, radiologi, dan dokter anak menggunakan perangkat lunak animasi 3D virtual yang inovatif untuk memetakan kedua otak.

“Ini adalah salah satu kasus terbesar paling menantang yang pernah saya lihat,” kata Pataki, di Budapest.

Pasien dan tim dokter lalu kembali ke Bangladesh pada Juli menjelang fase akhir operasi pemisahan.

ADPF telah melakukan sekitar 500 operasi bedah rekonstruksi di Asia dan Afrika, termasuk untuk pengungsi muslim Rohingya di Bangladesh.

 

Sumber : iNews.id

Loading...