6 Fakta Brigadir Rangga Tembak Bripka Rahmat hingga Tewas, 1 dan 4 Mengejutkan

0
403
Alm. Brigadir Rahmat Effendy (Foto: dok. Istimewa)
Dijual Rumah

Buktipers.com – Jakarta

Bripka Rachmat Efendy tewas di tempat usai ditembak Brigadir Rangga Tianto. Penembakan terjadi usai

Bripka Rachmat Efendy menolak permintaan Brigadir Rangga Tianto yang meminta agar pelaku tawuran, Fahrul Zachrie dibebaskan.

Brigadir Rangga Tianto diketahui memuntahkan tujuh peluru dari sembilan yang bersarang di postolnya. Senjata api yang digunakan Brigadir Rachmat Efendy berjenis HS 9.

Peristiwa terjadi pada Kamis (25/7/2019) pukul 20.50 WIB, di Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Polsek Cimanggus, Depok, Jawa Barat. Sebelumnya, pada pukul 20.30 WIB, Bripka RE mengamankan seorang pelaku tawuran, FZ, dan dibawa ke Polsek Cimanggis. Dari tangan Fahrul Zachrie diamankan barang bukti senjata tajam berupa celurit.

Menurut saksi mata, Ipda Adhi Bowo Saputro, tidak berapa lama datang orang tua pelaku tawuran Zulkarnain. Dia datang bersama Brigadir Rangga Tianto. Mereka langsung menuju ruang SPK Polsek Cimanggis. Mereka meminta agar Fahrul Zachrie dilepas dan dibina orang tuanya.

Namun permintaan itu ditolak Bripka Rachmat Eefendy. Saat itu, Bripka Rachmat Efendy menampik dan mengatakan dengan suara keras, “Proses sedang berjalan.”

Ucapan Bripka Rachmat Efendy menyulut emosi Brigadir Rangga Tianto. Dia kemudian menuju ke ruang sebelah dan mengambil pistol HS 9. Senjata itu kemudian ditembakkan ke arah Bripka Rachmat Efendy.

Brigadir Rangga Tianto (RT), pelaku penembakan Bripka Rahmad Efendi hingga meninggal dunia. (Foto: istimewa)

Berikut fakta-fakta penembakan Brigadir Rangga yang menewaskan Bripka Rachmat Efendy, yang dirangkum iNews.id:

1.Bripka Rachmat Ditembak dari Jarak Dekat

Kaopsnal Yandokpol Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Kombes Edy Purnomo menambahkan dari hasil medis, terdapat tujuh selongsong peluru yang bersarang di tubuh Bripka Rahmat.

“Dari luka permukaan, semua peluru ditembakkan dari jarak dekat dan peluru yang bersarang itu mengenai tulang sehingga tidak sampai tembus,” kata Edy di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Jumat (26/7/2019).

Memurut Edy, proses autopsi rampung sekitar pukul pukul 05.17 WIB. Jasad korban diterima RS Polri pukul 00.19 WIB dini hari. Usai rampung, jasad korban langsung dibawa pihak keluarga guna dimakamkan.

“Semalam jam 00.19 WIB, jenazah datang ke RS Polri di Instalasi Kedokteran Forensik,” ujar Edy.

2.Brigadir Rangga Terancam Hukuman Mati

Kakoporlairud Baharkam Polri Irjen Pol Zulkarnain Adinegara menegaskan, tindakan Brigadir Rangga tidak hanya akan berhadapan sanksi disiplin, tetapi juga pidana.

“Kalau untuk pidana umum itu kan ancamannya, (karena) menghilangkan nyawa orang lain, bisa seumur hidup atau hukuman mati, itu undang-undangnya Pasal 338 KUHP. Kalau dalam perencanaan, (dijerat) Pasal 340 KUHP,” kata Zulkarnain, di rumah Duka, Perumahan Tapos Residance, Cimanggis, Depok, Jumat (26/7/2019).

Zulkarnain memastikan Brigadir Rangga terancam dipecat dari Korps Polri karena dinilai telah melanggar kode etik profesi yaitu membawa senjata api di luar kedinasan hingga menghilangkan nyawa seseorang.

“Yang demikian itu mungkin bisa dipastikan pemecatan melalui sidang kode etik,” katanya.

Pasal 338 KUHP menyatakan, “Barang siapa dengan sengaja menghilangkan nyawa orang lain dipidana karena pembunuhan dengan pidana penjara paling lama 15 tahun.”

Adapun Pasal 340 KUHP menyatakan, “Barang siapa dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu menghilangkan nyawa orang lain, dipidana karena pembunuhan dengan rencana, dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu paling lama 20 tahun.”

3.Senpi Brigadir Rangga Milik Pribadi dan Organik

Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Pol Asep Adi Saputra mengungkapkan, senjata yang berjenis HS 9 itu merupakan milik Brigadir Rangga Tianto. Bridagir Rangga Tianto menembakkan tujuh peluru dari sembilan peluru yang bersarang di pistolnya.

“(Usai berdebat) Brigadir Rangga keluar ruangan SPKT di polsek itu dan ternyata keluar itu mempersiapkan senjata dengan jenis HS 9 lalu menembakan ke arah tubuh korban,” katanya di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo Jakarta Selatan, Jumat (26/7/2019).

4.Brigadir Rangga Penuhi Syarat Pegang Senjata Api

Pelaku penembakan di Mapolsek Cimanggis Kota Depok, Jawa Barat, Brigadir Rangga Tianto, dinilai instansinya layak memegang senjata. Polisi itu dianggap memenuhi syarat dan prosedur kepolisian dalam penggunaan senjata api.

“Iya, kalau memang dia sudah memegang secara organik berarti dia dinyatakan layak,” kata Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Mabes Polri, Kombes Pol Asep Adi Saputra, di Jakarta, Jumat (26/7/2019).

Asep menjelaskan, prosedur kepolisian dinilai layak memegang senjata api salah satunya dengan lolos tes psikologi. “Mereka melakukan berbagai prosedur termasuk psikotes, akan dilakukan penilaian layak atau tisak terhadap orang itu memegang senjata,” ucap Asep.

Selain psikotes, catatan personel juga akan diperiksa. Catatan itu berupa perilaku keseharian dan pelanggaran yang dilakukan. “Kalaupun hasil (psikotes) nya lulus tapi kemudian banyak catatan itu juga tidak diizinkan,” ujarnya.

Prosedur tersebut juga dilakukan secara reguler. Setiap enam bulan, personel yang memegang senjata api akan diperiksa. “Senjatanya dikontrol, keadaan psikisnya juga di kontrol,” ujar Asep.

5.Brigadir Rangga Paman Pelaku Tawuran

Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Pol Asep Adi Saputra mengatakan, Brigadir Rangga Tianto yang menembak mati Bripka Rachmat Efendy ternyata paman dari Fahrul Zahcrie, pelaku tawuran. Brigadir Rangga mendatangi Polsek Cimanggis karena diminta Zulkarnain, orangtua Fahrul.

“Sekali lagi jadi catatan, pelaku atas nama Brigadir Rangga ini merupakan paman dari saudara Fahrul yang diamankan oleh Bripka Rahmad tersebut,” kata Asep di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Jumat (26/7/2019).

6.Brigadir Rangga Anggota Polairud

Kepala Korpolairud Baharkam Polri, Irjen Pol Zulkarnain Adinegara mengatakan, Brigadir Rangga Tianto penembak Bripka Rachmat Efendy diketahui sebagai salah satu anggota Korps Kepolisian Perairan dan Udara (Korpolairud). Dia menyesalkan peristiwa yang menyebabkan meninggalnya Bripka Rachmat Efendy. Rangga Tianto akan dihukum sesuai perbuatannya.

“Betul dia (pelaku) anggota Polairud di bawah Korps Polariud Baharkam Polri. Saya sebagai Kakornya tentu saja menyayangkan, menyesalkan peristiwa itu terjadi,” ujar Zulkarnain di rumah duka, Jalan Tunas Karsa, Depok, Jumat (26/7/2019).

 

Sumber : iNews.id