9 Tahun Terbaring Sakit, Santanam: Ibu Bisakah Aku Sehat Seperti Dulu Lagi

0
68
Santanam saat dihampiri awak media, di rumahnya.
Dijual Rumah

Sergai, buktipers.com – Santanam Dewantara (17), putra ketiga dari pasangan Turman (52) dan Basariah (51), warga Dusun IX Kampung Ibus, Desa Sei Rampah, Kecamatan Sei Rampah, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, masih terbaring di rumahnya, tidak bisa berjalan karena sakit.

Awalnya, Santanam sejak lahir hingga berusia 8 tahun hidup normal, sering bermain dan sekolah bersama rekan-rekan seusianya.

Namun, sejak beranjak usia sembilan tahun, Santanam perlahan-lahan tidak bisa berdiri bahkan berjalan dan mengalami kelumpuhan.

Basariah, Ibu Santanam didampingi suaminya Turman, kepada wartawan, Selasa (04/01/2022) siang mengatakan, sudah sembilan tahun anaknya mengalami sakit dan tidak bisa berjalan.

Santanam Dewantara atau yang sering disapa Supri ini, awalnya hidup normal seperti rekan-rekan seusianya.

Namun, sejak berusia 9 tahun Santanam perlahan-lahan tidak bisa berdiri dan berjalan karena mengalami kelumpuhan. Melihat kondisi sakit anaknya semakin parah, kedua orang tuanya pernah membawa Santanam berobat ke RSUD Sultan Sulaiman Sei Rampah Kabupaten Sergai.

Kami pernah bawa Santanam berobat ke RSUD Sultan Sulaiman pada saat berusia delapan tahun yakni pada tahun 2012 yang lalu.

“Tapi, sesampainya di RSUD Sultan Sulaiman, pihak rumah sakit pada saat itu mengatakan di RSUD ini kurang peralatan medis,” ucap Basariah menirukan salah satu dokter yang menangani anaknya.

Sehingga dari pihak RSUD Sultan Sulaiman merujuk Santanam berobat ke Rumah Sakit Adam Malik Medan pada tahun yang sama. Sempat beberapa hari dirawat di RS Adam Malik Medan, akhirnya Santanam dibawa pulang oleh orangtuanya karena keterbatasan biaya.

Dan membawa Santanam beberapa kali berobat terapi, namun penyakit anaknya hingga saat ini belum juga sembuh.

Kini, Santanam sudah berusia 17 tahun, namun kelumpuhan yang dideritanya masih menggerogoti dalam fikiran Santanam dan sering berkata kepada kedua orangtuanya. “Ibu, ayah, apakah penyakit yang ku derita ini tidak bisa disembuhkan lagi,” kata Sabariah menirukan ucapan anaknya sambil menangis.

Disinggung, apakah mereka memiliki kartu BPJS, mereka tidak dapat kartu BPJS dan bantuan apapun. Bahkan dari Pemerintah, kami tidak pernah menerimanya, kata Basariah lagi.

Untuk menyambung kehidupan sehari-hari, dia berjualan sosis keliling dan suami kerja sebagai buruh tani.

“Kami sangat berharap kepada Pemerintah dan orang dermawan agar dapat mengurangi sedikit beban hidup yang kami alami,” ucap kedua orang tua Santanam mengakhiri.

 

(ML.hrp)