Acong Pakai Aplikasi Kencan Gay untuk Merampok, Dituntut 6 Tahun

0
1
Jaksa Penuntut Umum (JPU) M Rizqi Darmawan saat membacakan tuntutan terhadap terdakwa Ahmad Rivaldi Alias Acong di Pengadilan Negeri Medan, Jumat (27/5/2022). TRIBUN MEDAN/GITA NADIA PUTRI TARIGAN
Dijual Rumah

Medan, buktipers.com – Acong, warga Namo Gajah, Kecamatan Medan Tuntungan menggunakan aplikasi kencan gay atau sesama jenis untuk merampok.

Akibat ulahnya ini, Acong yang memiliki nama lengkap Ahmad Rivaldi tersebut dituntut enam tahun penjara.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) M Rizqi Darmawan menilai, lelaki 22 tahun itu terbukti bersalah melakukan pencurian dengan kekerasan.

“Meminta supaya majelis hakim menjatuhkan terdakwa Ahmad Rivaldi alias Acong dengan pidana penjara selama 6 tahun, dikurangi selama terdakwa berada dalam tahanan,” ucap jaksa, Jumat (27/5/2022).

Jaksa menilai, perbuatan terdakwa telah memenuhi unsur bersalah sebagaimana diatur dan diancam pidana melanggar Pasal 365 ayat (2) ke-1 dan ke-2 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

“Mengambil barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain, dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum, yang didahului, disertai atau diikuti dengan kekerasan atau ancaman kekerasan terhadap orang,” ujar jaksa.

Usai tuntutan dibacakan, hakim menunda sidang pekan depan dengan agenda vonis.

Sementara itu, JPU dalam dakwaannya menuturkan, bahwa perkara tersebut bermula saat berdakwa melakukan perjanjian bertemu dengan dua orang lelaki melalui aplikasi Walla/Blued.

Seperti diketahui, Walla dari Blued adalah aplikasi sosial pertemanan gratis untuk pria gay di seluruh dunia.

Dikatakan JPU, pada Kamis 25 November 2021 sekira pukul 02.00 WIB, saat terdakwa Ahmad Rivaldi bertemu dengan Unan dan Arif (belum tertangkap dan masuk dalam daftar pencarian orang) di warnet di Jalan Garu Medan Amplas.

Kemudian, sekira pukul 03.30 WIB terdakwa bersama Arif dan Unan mengatur siasat untuk mengambil paksa barang milik orang lain dengan cara menggunakan aplikasi Wallah/ Blued.

Setelah ketiganya mengadakan perjanjian dan pihak Wallah/Blued menyetujuinya, kemudian ketiganya berbagi tugas yang mana terdakwa yang menjemput target/korban dengan menggunakan sepeda motor dan menyiapkan sebilah pisau untuk menodong korban.

“Kemudian Arif membonceng Unan yang mana Unan juga membawa sebilah pisau untuk menodong korban sedangkan Arif bertugas stanbay diatas sepeda motor, untuk berjaga-jaga jika perbuatan terdakwa bersama Arif dan Unan ketahuan agar dapat melarikan diri,” kata jaksa.

Setelah itu, terdakwa menjemput saksi korban Galih Satria Pangestu dan Ade Rahman alias Ara menggunakan sepeda motor tersebut di Jalan Air Bersih Kota Medan, sedangkan Unan dan Arif mengikuti terdakwa dari belakang.

Selanjutnya, terdakwa lalu masuk dari arah belakang Jalan Garu X Kota Medan sedangkan Unan dan Arif dari arah depan.

Sesampainya di tengah Jalan Garu X Kota Medan yang sepi, sekira pukul 04.00 WIB terdakwa memberhentikan sepeda motor yang terdakwa kendarai dan secara bersamaan Unan dan Arif datang dari arah depan.

“Kemudian Unan turun dari sepeda motor langsung menodongkan pisau sambil mencekik saksi korban Ade Rahman, kemudian terdakwa mengambil pisau yang terdakwa selipkan di kaki kanannya dan menodongkan pisau tersebut ke arah Galih.

Kemudian terdakwa menyuruhnya turun dari sepeda motor,” beber saksi.

Setelah itu, Unan mengambil handphone Iphone 6S milik Galih, sedangkan terdakwa mengambil Iphone 6S dan satu buah tas selempang warna hitam berisi power bank dan headset milik Ade.

“Setelah itu terdakwa bersama Arif dan Unan meninggalkan kedua saksi korban,” ujar jaksa.

Kemudian, pada Kamis 25 November 2021 lalu sekira pukul 08.00 WIB terdakwa bersama Arif dan Unan menjual handphone tersebut melalui aplikasi Market Plus kepada seorang laki-laki yang tidak dikenal dengan harga Rp 700 ribu.

Yang mana terdakwa bersama Arif dan Unan masing-masing mendapat uang sebesar Rp 200.000, dan sisanya membeli narkotika jenis sabu dan digunakan bersama-sama.

Selanjutnya pada Selasa 30 November 2021 terdakwa di hubungi oleh saksi Gunawan Santosa mengajak terdakwa bertemu di Jalan Halat Gang Tabib Kec. Medan Maimun dan terdakwa menemuinya, sedangkan Arif dan Unan melihat terdakwa dari jauh.

Pada saat terdakwa bertemu dengan saksi Gunawan, terdakwa langsung ditangkap dan diserahkan kepada pihak kepolisian.

“Akibat kejadian tersebut saksi korban Galih Satria dan Ade Rahman mengalami kerugian masing-masing sebesar Rp 5 juta,” ucap jaksa.

 

Sumber : tribunnews.com