Aksi Kriminalitas Debt Collector FIF Menimpa Wartawan Malang

0
416
Ilustrasi Debt Collector. Ist
Dijual Rumah

Buktipers.com – Malang (Jatim)

Tindakan kriminal, berupa perampasan kendaraan bermotor oleh debt collector, kembali terjadi di wilayah hukum kabupaten Malang. Seperti dialami wartawan media online, bernama Fitri dan rekannya, Selasa (2/4/2019), lalu.

Menurut keterangan Fitri, kepada rekannya sesama wartawan, Rabu (3/4/2019), waktu itu dia hendak pergi ke kantor DPRD kabupaten Malang, dan tepat di sebelah pos polisi Karanglo, dia diberhentikan oleh beberapa pria bertubuh besar yang mengaku dari leasing FIF.

Mereka (pelaku,red) memaksa Fitri untuk menyerahkan motornya. Karena korban tidak mau, maka mereka mendorong korban serta rekannya dari motor yang ditumpanginya.

Kejadian itu, sempat divideokan oleh Fitri, namun salah seorang debt collector itu, menampik ponsel itu hingga jatuh ke tanah.

Bahkan, salah satu orang debt itu, sempat marah dan mengancam serta mengaku kalau kerja mereka dilindungi oknum polisi dan tentara.

Mereka mengaku tidak takut kalau korban melaporkan tindakan mereka ke ranah hukum.

Menanggapi hal ini, buktipers.com, bersama puluhan wartawan lainnya, YUA serta LBH Malang Raya, bersama-sama membuat dukungan untuk membawa kasus ini ke ranah hukum.

Menurut perwakilan LBH TOPAN RI, Dedy S SH, menyampaikan, kasus kriminal perampasan kendaraan bermotor, terutama oleh debt collector tidak bisa didiamkan begitu saja. Ini kerap kali merugikan dan mencederai para korbannya, katanya.

Kalaupun ada masalah dengan pembayaran kredit, ada mekanisme hukum untuk menyelesaikannya, bukan aksi premanisme dan kriminalitas seperti itu. Maka tidak ada alasan atau negosiasi apapun untuk menyelesaikan kasus ini, kecuali membawa kasus ini ke polisi dan pengadilan, tegasnya.

Sampai hari ini, sudah ada 36 media dan 2 lembaga bantuan hukum yang mendukung kasus ini dan mungkin nanti akan terus berkembang.

Pada intinya, kita semua ingin segala tindakan yang melanggar hukum di negara ini, diselesaikan dengan jalur yang benar.

Untungnya, korban adalah jurnalis dam dia masih punya kekuatan untuk melawan. Kalau kejadian ini menimpa masyarakat umum, apalagi perempuan, apa yang bisa mereka lakukan? Mungkin cuma bisa pasrah saja, pungkasnya.

(hermin/red)