Bahara Sibuea dan Karyawan TPL Lainnya Minta Polisi Tangkap Para Pelaku Penganiayaan di Nagori Sihaporas

0
855
Para korban bentrok warga dengan karyawan TPL di Sihaporas, Bahara Sibuea, Agus Duse Damanik, Agus Suryadi, Hokkop Siahaan, Fidrus Simbolon, Ricky Silaen, Michael Panjaitan, Haposan Sitorus, Rizal Manurung dan Misgiato.
Dijual Rumah

Simalungun, buktipers.com – Humas PT Toba Pulp Lestari Tbk (TPL) Sektor Aek Nauli, Bahara Sibuea didampingi karyawan, Haposan Sitorus dan Hokkop Siahaan, meminta aparat kepolisan agar secepatnya menangkap semua para pelaku penganiaya terhadap karyawan perusahaan tersebut, yang terjadi pada Senin (16/9/2019) , lalu, di lahan konsesi PT TPL  Blok B578, sekitar Nagori Sihaporas, Kecamatan Sidamanik, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara

Hal itu disampaikan  Bahara Sibuaea, didampingi karyawan, Haposan dan Hokkop, di Aek Nauli, Jalan Parapat Simalungun, Kamis (3/10/2019).

Akibat kejadian itu, kata Bahara, dia mengalami cacat fisik, karena tangan sebelah kanannya patah tulang hingga harus dioperasi, serta memar di sekujur tubuh karena dianiaya para pelaku.

“Kami berharap agar semua para pelaku diamankan oleh pihak kepolisian, khususnya aktor di balik ini semua. Harapan ini sudah disampaikan kepada Polres Simalungun untuk menangkap yang diduga para pelaku penganiaya yang berjumlah lebih dari puluhan orang dan menyelidiki aktor dibalik ini semua,” katanya.

Kami mengapresiasi kinerja Polres Simalungun karena telah mengamankan dua warga Desa Sihaporas yang diduga pelaku penganiayaan Humas PT Toba Pulp Lestari Tbk dan karyawan perusahaan, tambahnya.

Bahara mengakui sudah melaporkan kejadian penganiayaan itu ke Polres Simalungun, pada Rabu (2/10/2019) lalu.

“Saya tidak menginginkan sekelompok masyarakat Nagori Sihaporas terjerat oleh hukum, mereka adalah bias dari aktor yang bermain di balik layar yang memanfaatkan kelompok masyarakat, demi memperoleh kepentingan lain. Untuk itu, harapan saya, pihak kepolisan mengungkap dalang semua ini, termasuk diduga warga lain yang ikut-ikutan melakukan penganiayaan,” katanya

Sementara, Haposan, korban penganiayaan yang mengalami luka robek di bagian pelipis mata sebelah kanan menyampaikan hal senada, dengan karyawan perusahaan lainnya, Hokkop Siahaan, yang mengalami retak pada tulang jempol sebelah kanan.

Mereka meminta agar seluruh pelaku penganiayaan secepatnya terungkap dan ditangkap polisi.

“Kita hanya karyawan, namun kenapa harus mendapat penganiayaan dari sekelompok masyarakat Desa Sihaporas. Kalau masyarakat mengklaim lahan konsesi TPL, merupakan tanah adat silahkan ke pemerintah, kita berharap para pelaku secepatnya ditangkap,” ujar mereka.

Saat dikonfirmasi, Kasat Reskrim Polres Simalungun, AKP Agustiawan menyampaikan, bahwa korban, Bahara Sibuea, sudah memberikan keterangan atas laporan warga Sihaporas atas dugaan penganiayaan anak saat kejadian di Sihaporas. Yaitu area konsesi PT TPL di Blok Tebang 578. Semua keterangan Bahara sudah dituangkan dalam BAP,  dan dia sangat koperatif dalam memberikan keterangan, dan tentu masih dalam tahap pengembangan penyelidikan, katanya.

Saat ditanya terkait laporan pemukulan yang mengakibatkan tangan kanan Bahara patah, kepala benjol, kaki bengak, perut sebelah kiri tertusuk dahan kayu, AKP Agustiawan mengatakan, bawa Bahara tidak perlu lagi membuat laporan, sebab sudah ada laporan terdahulu atas nama Rikky Silaen (korban lainnya).

Jadi Bahara hanya memberikan penjelasan atas apa yang dialami Bahara yang diperlakukan oleh warga, termasuk terhadap korban lainnya dari pihak PT TPL di TKP itu, tandasnya.

AKP Agustiawan juga menyampaikan, sampai saat ini, pihaknya masih melakukan penyelidikan dan pengembangan kasus, sekaligus memasukkan “CA” dalam daftar pencarian orang (DPO).

Saat ditanya, adanya kendaraan yang mengangkut sejumlah masyarakat jenis minibus L300 BB 1460 EE dan diduga dari luar daerah Sihaporas ? AKP Agustiawan mengatakan, “oleh bagian penyelidikan/juper kita dipersilahkan mengembangkan itu, dan boleh dimintai keterangan dari si pemilik minibus atau supir yang mengangkut warga itu ke sana. Bisa koq dimintai keterangannya demi penyelidikan tentu sebagai saksi saat kejadian,”ujarnya.

Sementara ketika ditanyakan terkait masalah penangkapan terhadap JA dan TA, Kasat Reskrim Polres Simalungun menyampaikan “pasukannya sudah bekerja sesuai standart operasi (SOP) dan tidak benar, pasukannya menangkap dengan cara gerombolan, kami melakukan tugas ini secara profesional, “katanya.

Sementara itu menurut informasi, bahwa pemilik minibus L300 BB 1460 EE, berinisial RS br Hutagaol, warga Parsaoran Sibisa, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Tobasa. Pihak Polres Simalungun sudah melayangkan surat penggilan kepada yang bersangkutan, katanya.

(Stg)