BBM Pertalite Naik Rp 2.350 Jadi Rp 10 Ribu per Liter, Berikut Penjelasan Pertamina

0
1
HARGA PERTALITE DIKABARKAN NAIK - Warga melakukan pengisian Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite di SPBU Pertamina, pada Kamis (5/5/2022). HO
Dijual Rumah

Medan, buktipers.com – Pertalite, jenis bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi disebut-sebut akan mengalami kenaikan harga.

Kenaikan harga BBM jenis Pertalite dikabarkan naik Rp 2.350. Harga Pertalite yang dibanderol saat ini adalah Rp 7.650 per liternya.

Itu berarti, bila kabar tersebut akan direalisasikan, harga pertalite per liternya menjadi Rp 10 ribu.

Terkait kabar kenaikan harga pertalite ini sebenarnya sudah disampaikan Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia.

Namun, tak ada harga eksplisit yang disebutkan. Hanya pernyataan kalau BBM subsidi berpotensi naik harga.

“Rasa-rasanya sih untuk menahan terus dengan harga BBM seperti sekarang, feeling saya sih harus kita siap-siap, kalau katakanlah kenaikan BBM itu terjadi,” kata Bahlil beberapa waktu lalu seperti dikutip dari Tribunnews.com.

Bahlil menuturkan beban subsidi diproyeksikan membengkak hingga Rp 600 triliun pada akhir 2022.

Hal ini diakibatkan lonjakan harga energi di global.

Namun Indonesia memiliki keterbatasan fiskal di tengah harga rata-rata minyak mentah dunia yang mencapai 105 dollar AS per barrel.

Lantas bagaimana tanggapan pihak Pertamina?

Pertamina sungkan berkomentar lebih jauh dan mengungkap harga keekonomian Pertalite.

“Untuk harga BBM subsidi merupakan kewenangan dari pemerintah. Kami sebagai operator akan melaksanakan apa yang menjadi penugasan dari regulator,” kata Pjs. Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Irto Ginting kepada Tribunnews.

Namun, dirinya berharap revisi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 191 tahun 2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak (BBM) beserta petunjuk teknis pembelian BBM jenis Pertalite, dapat segera selesai agar implementasi pembatasan pembelian BBM bersubsidi dapat dilakukan.

Apalagi, Pertamina sejak awal Juli 2022 telah membuka pendaftaran untuk kendaraan roda empat atau mobil yang berhak membeli Pertalite melalui MyPertamina.

Dongkrak Inflasi

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memprediksi inflasi akan meningkat jika harga Pertalite naik Rp10.000 per liter.

“Direct Impact kenaikan harga Pertalite 30,72 persen menjadi Rp10.000 per liter ke inflasi dengan mempertimbangkan proporsi Pertalite 80 persen total bensin adalah sekitar 0,93 persen,” ujar Josua saat dihubungi, Selasa (16/8/2022).

Pemerintah juga perlu mengalokasikan bantalan sosial bagi masyarakat berpenghasilan rendah agar tidak mengalami penurunan daya beli yang signfikan.

Untuk membatasi konsumsi Pertalite dan Solar bersubsidi, pemerintah harus melakukan langkah strategis untuk mengantisipasi hal tersebut.

“Terdapat dua opsi yakni pembatasan menggunakan teknologi apps MyPertamina dan menaikkan harga BBM bersubsidi,” tutur Josua.

Pembatasan penerima subsidi menggunakan teknologi dapat menjadi pilihan dalam membatasi konsumsi.

Harga Pertalite dan Solar bersubsidi bisa tetap, namun penerimanya terseleksi sehingga menurunkan konsumsi.

“Namun, kita juga melihat kondisi kebocoran dan dampak bagi masyarakat akan tetap besar,” kata Josua.

Di antaranya, sebagian besar distribusi barang dilakukan melalui transportasi darat, yang belum tentu semuanya berhak mendapatkan subsidi sehingga pada akhirnya menaikkan harga barang.

“Belum lagi kemampuan teknis di seluruh SPBU yang menjalankan apps MyPertamina tersebut harus handal, kalau tidak berpotensi menciptakan antrean,” tutur Josua.

Josua menilai menaikkan harga BBM bersubsidi akan cenderung lebih baik dibandingkan melakukan pembatasan.

Dengan mempertimbangkan harga minyak mentah internasional dan nilai tukar rupiah saat ini harga keekonomian Pertalite sekitar Rp 17.000 per liter.

“Oleh sebab itu kenaikan harga sekitar 30 persen menjadi Rp 10.000 per liter masih tetap jauh di bawah harga keekonomiannya,” imbuh Josua.

 

Sumber : tribunnews.com