Bejat! Oknum Guru SD Cabuli 14 Siswi di Pesisir Barat, Modus Cek Fisik

0
1
Tersangka BH diperiksa penyidik Unit Reskrim Polsek Pesisir Utara. (Foto: iNews/ENRICO NGANTUNG)
Dijual Rumah

Pesisir Barat, buktipers.com – Sungguh bejat dan biadab perbuatan BH (39), yang berprofesi sebagai guru di sebuah sekolah dasar (SD) di Kecamatan Lemong, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung ini.

BH diduga mencabuli 14 siswi di ruang perpustakaan SD sejak Maret 2020 sampai Desember 2021. Akibat perbuatannya, BH, guru berstatus pegawai negeri sipil (PNS) ini pun ditangkap penyidik Unit Reskrim Polsek Pesisir Utara.

Namun karena terkait anak-anak, penyidikan kasus akan dilimpahkan ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Pesisir Barat.

Kanit Reskrim Polsek Pesisir Utara Ipda Meidy Haryanto mengatakan, tersangka BH ditangkap setelah polisi menerima laporan dari orang tua korban, siswi kelas 4 SD.

BH diringkus di rumahnya Pekon Pugung Penengahan, Kecamatan Lemong, Kabupaten Pesisir Barat pada Jumat (7/1/2022).

“Penangkapan terhadap pelaku dilakukan petugas berdasarkan laporan orang tua korban pencabulan. Pelaku ditangkap di rumahnya,” kata Kanit Reskrim Polsek Pesisir Utara, Selasa (11/1/2022).

Berdasarkan pemeriksaan, ujar Ipda Meidy Heryanto, BH telah melakukan aksi bejatnya sejak Maret 2020 hingga Desember 2021 dengan jumlah korban sebanyak 14 orang.

“Menurut pengakuan, pelaku merasa bergairah jika melihat anak perempuan di bawah umur sehingga hasratnya begitu besar ketika melihat anak muridnya di sekolah,” ujar Ipda Meidy Heryanto.

Kanit Reskrim menuturkan, pelaku BH melakukan aksi bejatnya di ruang perpustakaan yang sepi dengan dalih cek fisik korban.

“Selain memaksa melakukan cek fisik, modus lain pelaku adalah mengiming-imingi memberikan nilai bagus kepada korban jika mau menuruti nafsu bejatnya,” tutur Kanit Reskrim.

Saat ini pelaku dan barang bukti berupa celana dalam korban dan pakaian sekolah saat kejadian sudah diamankan di Mapolsek Pesisir Utara.

Pelaku BH dijerat Pasal 82 junto 76 e Undang-undang RI Nomor 17 tahun 2016 tentang penetapan pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas Undang-undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

“Pelaku terancam hukuman selama 15 tahun penjara. Karena tersangka merupakan tenaga pendidik, hukumannya ditambah sepertiga (5 tahun. Jadi total hukuman 20 tahun penjara),”ucap Ipda Meidy Heryanto.

 

Sumber : iNews.id