Buaya Kembaran Manusia Cuma Mitos, Mengapa Masih Ada Warga Sulsel Percaya?

0
5
Buaya di Sungai Tallo, Makassar, yang diyakini keturunan manusia (Hermawan/detikcom)
Dijual Rumah

Makassar, buktipers.com – Masyarakat Sulawesi Selatan (Sulsel), khususnya suku Bugis-Makassar, pada masa lampau sebelum datangnya agama Islam, yakin setiap manusia yang lahir memiliki kembaran buaya. Tapi, sejak masuknya ajaran Islam hingga zaman modern saat ini, masih ada warga yang percaya pada mitos tersebut, mengapa?

Seperti penemuan seekor buaya muara di Sungai Tallo, Makassar, pada Rabu (11/11). Seorang warga, Muliadi, mengevakuasi buaya tersebut ke ruang tamu rumahnya dan memperlakukan buaya tersebut dengan hormat.

Buaya itu diletakkan di atas kain kafan putih dan dibungkus dengan kain kafan tersebut. Muliadi juga memanggil pemain gendang Gandrang Bulo sebagai bentuk penyambutan terhadap buaya yang diyakininya sebagai kerabat atau keturunan dari orang tuanya.

“Buaya keturunan (manusia) itu,” tutur kerabat Muliadi, Firman, kepada wartawan di lokasi, Kamis (12/11/2020).

Menurut guru besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof Dr Nurhayati Rahman, kepercayaan terhadap mitos tersebut seperti yang dilakukan Muliadi memang masih eksis di sebagian masyarakat Bugis-Makassar. Masuknya agama Islam ke Sulawesi Selatan membuat cara beragama masyarakat Bugis-Makassar terbagi menjadi tiga bagian.

“Cara beragama orang Bugis-Makassar itu ada yang militan, ada yang mengasimilasikan, dan ada yang mendua,” kata Nurhayati dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (12/11).

Lebih lanjut Nurhayati mengungkapkan kepercayaan warga di sekitar Sungai Tallo, Makassar, yang meyakini buaya tersebut sebagai saudaranya dan keturunan dari orang tua, merupakan cara beragama yang mendua setelah masuknya agama Islam di tanah Bugis-Makassar.

“Yang mendua ini yang banyak, terutama di desa-desa. Seperti itu mi wujudnya, dianggap bahwa (buaya tersebut sebagai) saudaranya itu yang datang,” tutur Nurhayati.

Mitos setiap manusia memiliki kembaran buaya dalam masyarakat Bugis-Makassar juga tertuang dalam kitab Bugis kuno Lagaligo. Masyarakat Bugis-Makassar sebelum datangnya Islam yakin akan perlunya menjaga keseimbangan dengan alam, termasuk yang berada di dalam air.

“Dia orang Bugis-Makassar melihat bahwa segala sesuatu dari bawah laut itu bagian dari dirinya, begitu juga dari langit. Kilat dan sebagainya itu merupakan bagian dari dirinya. Karena zaman dulu kan manusia dengan alam ini masih menjadi satu kesatuan, tidak ada yang saling merusak,” jelasnya.

“Baru sekarang banyak yang merusak keseimbangan hidup manusia. Kalau mereka dulu memang menjaga hubungan keseimbangan, itu kepercayaan. Jadi mereka percaya setiap manusia itu lahir di dunia ini ada kembarannya. Ada yang kembaran air, ada yang kembaran ular, tapi pada umumnya mereka menganggap kembarannya adalah buaya,” lanjutnya.

Kepercayaan itu kemudian mulai luntur seiring dengan masuknya Islam, yang membawa ajarannya melalui tradisi-tradisi masyarakat. Perlahan tradisi dari kepercayaan itu diubah oleh ulama, contohnya tradisi membawa sesajen atau persembahan kepada dewa-dewi bawah laut. Para ulama dulu menggantinya dengan upacara maulid, dengan cara melakukan lomba perahu dan memberi sedekah kepada orang miskin, serta menghiasi perahunya dengan banyak sekali telur-telur atau makanan yang kemudian dibagikan kepada orang miskin.

“Itu sebenarnya transformasi kepercayaan lama kepada tradisi Islam. Itu kelanjutan dari tradisi lama itu dan ditransformasikan ke dalam Islam, bagaimana (dulunya ada) tradisi membawa sesembahan di laut, termasuk membawa sesembahan di laut untuk mengundang saudara-saudara buayanya, dengan membawa kepala kerbau, dengan berbagai macam sesajen,” ujar Nurhayati.

 

Sumber : detik.com