Dampak Bangkai Babi Hanyut di Sungai, Pedagang Ikan di TPI Keluhkan Sepinya Pembeli

0
2718
Suasana TPI Tanjung Beringin tampak sepi, Selasa (12/11/2019).
Dijual Rumah

Sergai, buktipers.com – Dampak bangkai babi yang mencemari air Sungai Bedagai, membuat para pedagang dan nelayan tradisionil, dalam seminggu kebelakangan ini, kurang omset penjualannya.

Mengapa tidak? Karena masyarakat Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) yang dulunya suka mengkonsumsi ikan, baik itu dari laut, maupun ikan air tawar (muara), jenis baung yang banyak terdapat di Sungai Bedagai, kini kurang diminati warga.

Lantaran masyarakat menganggap, ikan baung dan ikan belanak serta jenis ikan lainnya, diduga sudah terindikasi kena virus, lantaran ikan jenis baung dikenal rakus dan suka makan bangkai.

Sehingga ikan baung dianggap warga makan bangkai babi yang mengapung di Sungai Bedagai.

Ikan Baung (ikan duri) kurang diminati masyarakat yang dijual pedagang di TPI Tanjung Beringin (Bedagai).

Syaiful (45), salah satu pedagang ikan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) mengatakan, sejak adanya bangkai babi yang hanyut dan mengapung di Sungai Bedagai, omset penjualannya drastis menurun.

Dikatakan Syaiful, “karena minat masyarakat untuk makan ikan sudah berkurang, lantaran masyarakat merasa jijik dan alergi karena adanya bangkai babi yang banyak mengapung di sungai. Mungkin itu salah satu penyebab kurangnya minat masyarakat untuk mengkonsumsi ikan, terutama ikan asal muara seperti ikan baung, udang, kepting dan ikan belanak, “katanya.

M Yusuf Pulungan, salah satu nelayan tradisionil asal Dusun 1 Desa Tebing Tinggi yang kesehariannya menjaring ikan baung mengatakan, memang sejak adanya bangkai babi yang mengapung di Sungai Bedagai, omset penjualannya berkurang.

“Pasalnya, ikan baung jenis air tawar (muara) hasil tangkapannya dibayar tidak seperti yang diharapkan, karena ikan jenis baung dan udang ini kurang diminati lagi oleh masyarakat, akibat rumor daging ikan baung sudah terindikasi virus, kata orang-orang,”ungkapnya.

Kepiting dan juga ikan belanak hasil tangkapan nelayan kurang diminati masyarakat dan sepi pembeli di TPI.

Jadi saya mewakili rekan-rekan nelayan tradisionil Tanjung Beringin, berharap kepada pihak Pemerintah Kabupaten Sergai agar serius menangani kasus bangkai babi yang mengapung di Sungai Bedagai.

Bila perlu, beri sangsi yang sepantasnya kepada pihak peternak babi yang kedapatan melanggar aturan dan jangan semena-mena membuang ternak mereka yang mati di sungai, kata M Yusuf.

Ditempat terpisah, Syarifuddin (42), salah satu pedagang ikan keliling asal Sei Buluh, Selasa (12/11/2019), juga mengeluhkan omset penjualan ikannya yang dijual ke pelosok-pelosok kampung.

Karena masyarakat sudah tidak minat lagi mau beli ikan karena mendengar banyaknya bangkai babi yang mengapung di sungai. Jadi masyarakat menganggap ikan yang dijual oleh pedagang ikan keliling seperti saya, sudah kena terindikasi virus, katanya.

Pedagang ikan keliling bawa ikan untuk di jual ke pelosok kampung.

Ardin Tubek, selaku tokoh masyarakat Bedagai, mengutuk keras peternak babi di Sergai yang dengan sengaja membuang ternak babi yang sudah mati ke sungai. “Kan masih ada solusinya. Mereka (Peternak-red) bisa menanam atau mengubur bangkai babi yang sudah mati dan jangan membuang ke sungai,”ujarnya.

Dan akibat ulah mereka, berapa banyak masyarakat kena dampaknya, seperti masyarkat Bedagai, Tanjung Beringin, sudah tidak bisa menggunakan air sungai buat keperluan mandi atau keperluan lainnya, pungkas Ardin.

(ML.hrp)