DANAU TOBA BUTUH AIR, BUKAN PIDATO

0
1082
IMG_20171005_180801

DANAU TOBA BUTUH AIR, BUKAN PIDATO

Oleh: Frans Samosir

“Air adalah pokok hayati setelah udara. Tak ada satupun makhlup hidup bisa bertahan hidup tanpa air. Oleh karena itu, sebaiknya kita semua harus menjamin ketersediaan air demi kelangsungan hidup”.

Danau Toba adalah sebuah danau yang tercipta oleh gempa tektonik di sekitar 75 ribu tahun yang lalu. Danau Toba yang mengelilingi Pulau Samosir terkenal indah panoramanya. Keindahan Danau Toba sudah tersohor hingga ke seluruh penjuru dunia. Dan oleh karena keindahannya, Danau Toba pernah menjadi tujuan utama wisata negeri kita.

Danau Toba yang terletak di pegunungan Bukit Barisan dan dikelilingi oleh 7 Kabupaten di Sumatera Utara dengan luasnya 1.145 kilometer persegi menjadikannya danau terluas se-Asia Tenggara dan luasnya lebih besar dari Singapura [716 km].

Danau Toba juga menjadi danau terluas di dunia yang terbentuk dari erupsi gunung berapi, dan masuk dalam daftar Guinness World Records. Latar belakang Danau Toba terbentuk karena letusan gunung berapi yang memuntahkan 2.800 km kubik material letusan, sehingga membuat kawah yang lambat laun dipenuhi air menjadi danau.

Keindahan Danau Toba kini semakin tergerus oleh ketamakan manusia-manusia rakus. Dimana Danau yang tadinya memiliki kedalaman hingga 505 meter itu kini telah mengalami pendangkalan. Dan bahkan sudah banyak tepian danau itu yang bergeser hingga puluhan meter akibat menurunnya debit air.

Kini, di era pemerintahan Jokowi-JK, Danau Toba mendapat angin segar sebagai tujuan pariwisata termasyur. Dengan menjadikan Danau Toba sebagai “Monaco of Asia” dapat diartikan bahwa Kawasan Danau Toba akan disulap sedemikian rupa sehingga menjadi bidadari-nya Asia.

Untuk menjaga kelestarian Danau Toba, Pemerintah pun mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 81 tahun 2014. Perpres ini mengatur dan menata sedemikian rupa tapak demi tapak di Kawasan Danau Toba. Salah satu tujuan Perpres ini adalah menjaga ketersediaan air di seputar Kawasan tersebut.

Namun sayang sungguh sayang, hingga kini belum juga ada yang menjalankan program ketersediaan air di seputar Danau Toba yang indah itu. Semua pada sibuk memikirkan investasi komersial tanpa peduli bagaimana nanti jika debit air danau itu benar-benar terkuras.
Tak satupun memikirkan bagaimana agar penduduk Pulau Samosir mendapatkan ketersediaan air? Bagaimana Rakyat Samosir yang sering mengalamai gagal panen karena kekeringan? Bagaimana ternak-ternak disana yang mengalami kematian karena kehausan?

Mereka semua sibuk memikirkan bagaimana agar hartanya semakin menumpuk. Bahkan, dari anggaran pembuatan embung pun tega menambah pundi-pundi. Embung penampung air hujan dibangun diberbagai tempat, namun konyol, tak memikirkan bagaimana agar hujan dapat turun memenuhi embung tersebut.

Penguasa dan pengusaha sama tamaknya dan bekerja sama menguras harta kekayaan Kawasan Danau Toba. Mereka menanam ekualiptus sebagai bahan baku bubur kertas. Padahal mereka tahu, bahwa ekualiptus itu adalah tanaman terkuat menghisap air setelah kelapa sawit. Dengan menanam ekualiptus di seputar KDT, tentu akan sangat berpengaruh dengan penurunan debit air danau. Belum lagi dengan pembalakan hutan secara liar oleh oknum-oknum haus harta. Selain itu, membuang limbah yang sembarangan ke danau adalah merupakan hal yang perlu ditabukan demi menjaga kelesetarian alam.

Pembalakan hutan secara membabibuta adalah faktor paling utama yang harus kita sikapi. Disamping perlunya mengganti ekualiptus dengan pohon lainnya, kita perlu menutup segala usaha di atas danau dan seputar danau yang membuang limbah secara sembarangan.
Selain itu, program utama dalam meningkatkan debit air danau adalah dengan melakukan penanaman pohon secara massal. Untuk hal ini, perlu ada sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan ketujuh pemerintahan yang mengelilingi danau.

Sebaiknya, pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan Pemerintah Kabupaten bekerjasama membuat sebuah Perda yang mengatur tentang penanaman pohon di seluruh Kawasan Danau Toba. Pulau Samosir dan sebahagian wilayah di pinggiran danau toba (luar pulau) terkenal sangat tandus. Untuk itu, perlu ada sinergi untuk penyuburan lahan agar tumbuhan dapat hidup subur. Dengan demikian dapat diyakini persediaan air di danau akan terakomodir.

Perlunya dilakukan penyuburan tanah di wilayah tandus itu adalah langkah menuju sterilisasi persediaan air demi menjaga kelestarian danau toba yang indah. Sebab dengan tumbuhnya pohon akan dipastikan dapat menyerap embun yang mengundang turunnya hujan. Selain itu, akar pepohonan tersebut dipastikan dapat menahan gerusan tanah. Hijaunya pohon dapat pula mengundang habitat biologi lain seperti burung dan lain sebagainya. Selain mengundang kehidupan bagi banyak makhluk, kehadiran pepohonan yang kita yakini akan dapat menjamin ketersediaan air, juga akan dapat menambah produksi oksigen.

Melalui tulisan ini, saya Frans Samosir, Putra Batak kelahiran tanah Melayu mengajak seluruh elemen bangsa agar kita bekerja sama melakukan segala upaya dalam penyelamatan Danau Toba. Danu Toba yang terletak di Tanah Batak, bukanlah semata-mata milik orang Batak. Akan tetapi, Danau indah itu adalah milik kita bersama, aset Indonesia, aset dunia. (Frans/Red)