Detik-detik Warga Keluarkan Tubuh Wartoyodi dari dalam Perut Buaya, Ramai Ucap ‘La Ilaha Illallah’

0
214
Warga bersama membelah perut Buaya untuk mengeluarkan potongan tubuh pria yang diterkamnya. Antaranews/Bayu AA
Dijual Rumah

Buktipers.com – Medan

Warga Kampung Teluk Lanus, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak secara bersama-sama melakukan aktivitas membelah perut seekor Buaya yang menerkam warga bernama Wartoyodi Sungai Lakar pada Selasa (18/6) malam kemarin.

Video perut buaya dibedel kemudian diposting akun instagram @yusri.kampai, terlihat buaya diseret di sebuah jalanan tanah.

Seluruh bagian tubuh buaya itu tampak terikat. Berikutnya video itu memperlihatkan tubuh buaya dibalik, dan perutnya tampak dibelek.

Warga kemudian tampak mengambil potongan tubuh yang disebut sebagai potongan tubuh manusia dari dalam perut buaya tersebut.

Potongan tubuh itu tampak dimasukkan ke dalam sebuah karung berwarna putih.

“Iya perutnya dibelah, nanti sisa tubuh itu yang akan dikebumikan. Korbantubuhnya sudah hancur, sebagian di luar dan sebagian dalam perut Buaya,” kata Camat Sungai Apit, Wahyudi, Rabu malam seperti yang dikutip dari Antara.

Terlihat dua tiga orang menggunakan parang untuk membelah perut Buaya. Setelah itu tampak bagian tubuh dari lutut hingga ujung kaki dikeluarkan lalu dimasukkan ke karung.

Wahyudi mengatakan Buaya tersebut diketemukan tak jauh dari lokasi hilangnya korban pada Rabu (19/6) sore. Ditemukannya Buaya tersebut setelah upaya pencarian bersama masyarakat.

Tak hanya itu, pencarian juga dilakukan dengan memanggil Pawang Buaya dari Lubuk Mudo, Sungai Pakning. Sementara korban Wartoyo yang dipastikan tak bernyawa lagi meninggalkan seorang istri dan anak.

Peristiwa ini disebut terjadi di Kabupaten Siak.

Serangan Buaya Makin Parah

SERANGAN buaya muara di Provinsi Bangka Belitung (Babel) kian menggila. Dalam tempo kurang dari dua bulan sudah ada enam serangan buaya.

Bangkapos.com, mencatat sejak bulan Maret hingga pertengah bulan April 2019 ada enam kasus serangan buaya muara terhadap manusia di Pulau Bangka dan Pulau Belitung.

Dari enam kejadian itu, satu orang tewas dan lima orang lain luka-luka.

Kssus terbaru, Uwes Al Karni (6), bocah 6 tahun yang diterkam buaya saat tengah asyik mandi bersama ibunya di kolong belakang rumah, Senin (12/4/2019).

Mereka tinggal di Simpor Dusun ganse, Danau Nujau, Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur (Beltim), Provinsi Kepulauan Babel.

Menurut keterangan tetangga korban Hartini, peristiwa terjadi sekitar pukul 16.30, saat itu bocah yang akrab disapa AL sedang mandi bersama ibunya.

“Tadi sempat dimain-mainkan, dari buayanya kayak dikibas -kibas, naik turun ditimbulkan dua kali,” ujar Hartani.

Lanjut Hartani, ibu korban pun berteriak histeris.

“Tolong.. tolong, anak aku dibawa buaya, ibu korban pun belarian sambil mengatakan kembalikan anak ku kembalikan,” tiru Hartini.

Pantauan Posbelitung.co di lokasi tampak ratusan orang sedang mengelilingi lokasi AL saat diterkam buaya.

Jenazah bocah korban yang diserang buaya Al Karni (6) ditemukan mengapung saat tim gabungan bersama dengan keluarga memulai pencarian pada Sabtu (13/4/2019) pagi.

Anggota Tagana yang pertama kali melihat jenazah korban mengapung berteriak menujukan korban mengapung dalam posisi miring.

Sontak saja ayah korban Yudi (45) yang mencari dengan menyusuri pinggiran kulong simpor segera berenang meraih anaknya.

Tangis haru Yudi tak dapat tebendung saat menemukan jenazah anaknya.

Tim gabungan pun yang pagi ini dipimpin oleh Danpos Basarnas Belitung, Rahmatulah Hasyim segera mengevakuasi korban ke darat.

Ramat menyampaikan pukul 06:00 tim melakukan briefing dan langsung melakukan pencarian, dan pada pukul 07.00 WIB korban di temukan dalam keadaan meninggal.

“Korban ditemukan sekitar 100-150 meter dari lokasi pertama kali korban di gigit buaya, jadi posisi ditengah,” ujar rahmat kepada Posbelitung, Sabtu (13/4/2019).

Atas permintaan keluarga setelah dilakukan proses evakuasi korban langsung di bawa ke rumah rumah kakeknya yang bertempat di Desa Batu penyu kecamatan Gantung.

Serangan buaya yang menewaskan Uwes merupakan kasus ke Lima warga diserang buaya di Kabupaten Belitung Timur.

Menurut informasi yang dihimpun posbelitung dari koordinator Tagana kejadian pertama pada Rabu (13/3/2019) lalu bertempat di Dusun Tanjung Batu Air, Desa Tanjung Batu Itam, Kecamatan Simpang Pesak,warga yang bernama Heri Sugianto (34) diserang buaya saat sedang memukat ikan.

Akibatnya Heri mengalami luka gigitan di punggungnya.

Kejadian kedua (16/3/2019) warga Desa Selinsing, Kecamatan Gantung, Irwan (40) diserang buaya di hulu Pice, Sungai Lenggang, saat sedang mencari timah, Irwan mengalami luka gigitan di bagian paha.

Kejadian kejadian ketiga pada Minggu (17/3/2019) lalu, warga Desa Selinsing, Kecamatan Gantung, Ambo (25) diserang buaya saat berada di bekas pelabuhan Batu Besi Aliran sungai lenggang saat memperbaiki kapal.

Ambo mengalami luka akibat kibasan ekor buaya dibagian tangan dan kening.

Kejadian ke empat pada Selasa (19/3/2019) Samsiah Warga Dusun Langkang, Desa Lintang, Kecamatan Simpang Rengiang.

 

Diserang buaya saat sedang memancing di sungai lenggang, akibat serangan Samsia mengalami luka pada bagian pinggul belakang.

Diserang Buaya di Tambak

Sementara itu, di Bangka Belitung serangan buaya juga semakin parah.

Petang itu, Rabu (27/3), merupakan hari yang tak pernah terlupakan bagi Maryadi.

Kejadian nahas membuatnya hampir saja mati. Namun takdir berkata lain, Yang Kuasa menyelamatkan nyawanya.

Walau menderita sejumlah luka, namun Maryadi bisa berkumpul kembali bersama keluarga.

“Awalnya saya (Rabu, 27/3 petang), bedayung pakai perahu. Sampai tambak ambil air asin pakai jeriken. Setelah dua jeriken terisi, saya berusaha mengisi lagi agar enam jeriken penuh.

Namun ketika mau nimba air lagi pakai ember di bibir tambak, saya langsung disambar buaya,” kata Maryadi ketika ditemui Bangka Pos di kediamannya di Dusun I Desa Pagarawan Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka, Kamis (28/3/2019).

Pria yang berprofesi sebagai penjual udang hidup untuk umpan pancing ini memiliki penangkaran kecil di rumah, tak jauh dari Sungai Selindung.

Agar udang umpan pancing tetap hidup dan segar sebelum dijual, maka sirkulasi di bak penampungan harus sering diganti.

Sehingga Maryadi terpaksa menimba air di lokasi tambak udang milik Ruslan, tak jauh dari rumahnya menggunakan perahu agar mendapatkan air asin berkualitas.

“Tapi saya malah disambar buaya. Kejadian setengah enam pas (petang). Padahal tak kelihatan ada buaya di situ. Saya turun dari perahu dan berdiri di darat tepi tambak. Tiba‑tiba saya langsung disambar.

Saya berusaha melepaskan cengkeraman buaya di tangan sekitar tiga menit, hingga tubuh buaya sempat sedikit terangkat ke atas. Beruntung akhirnya cengkeraman buaya bisa lepas,” kata pria yang mengaku menderita luka pascapertarungan sengit dan mendapat belasan jahitan di tangan kanan.

Setelah kejadian, Maryadi mengaku terkulai. Hampir seluruh tenaganya seolah habis terkuras.

Teriakan minta tolong masih sempat ia lontarkan. Sehingga sejumlah warga datang, mengevakuasi korban.

“Saya tak tahu lagi ada berapa jahitan di tangan. Yang jelas tangan saya bengkak, dan masih terasa sakit,” katanya.

Kepala Desa Pagarawan, Achmad Zainudin kepada Bangka pos, Kamis (28/3/2019) mengatakan, penangkapan buaya menggunakan tali nilon.

Sejumlah warga, termasuk ‘orang pintar’ ikut serta saat menaklukan buaya yang dimaksud.

“Saat didatangi ke lokasi kejadian, buaya itu langsung mendekat dan langsung dijerat menggunakan tali nilon,” katanya.

Kades tak menyangkal, keberadaan buaya di desa ini cukup banyak. Apalagi tambak milik Ruslan, tempat korban disambar berada di sekitaran daerah aliran Sungai Selindung.atau aliran Sungai Baturusa yang memang sudah terkenal sebagai sarang predator ganas.

“Tambak udang milik Ruslan itu cukup luas dan sebagian tak terurus lagi. Tak hanya satu buaya di situ,” katanya.

Menurut Kades, buaya pemangsa Maryadi, sebenarnya masih tergolong kecil. Namun buaya seusia inilah yang seringkali nakal atau suka mengganggu.

“Ibarat orang bilang, buaya tengah gatel gatel e, tengah nakal‑nakal e,” katanya.

Di tambak milik Ruslan, tempat Maryadi disambar bahkan dipastikan terdapat seekor buaya ukuran besar, panjang sekitar tiga mater.

“Namun yang ditangkap, khusus buaya yang kecil, yang menggigit Maryadi saja,” katanya.

Kapolres Bangka AKBP Budi Arianto diwakili Kapolsel Merawang Iptu R Guzel kepada Bangka Pos, Kamis (28/3/2019) menyatakan, situasi pascakejadian dipastikan aman.

Pada Pukul 19.50 WIB setelah kejadian, Warga Desa Pagarawan berkumpul di rumah korban yang beralamat di Dusun I Desa Pagarawan. Warga lalu pergi ke tambak Ruslan untuk menangkap buaya tadi.

‘”Penangkapan buaya dipimpin Ahmad Zainudin, Kades Pagarawan menggunakan tali nilon sepanjang 10 meter.

“Pada Hari Rabu (27/3) sekira Pukul 20.30 WIB, buaya tersebut akhirnya tertangkap dan buaya dibawa ke rumah korban untuk diamankan, malam itu juga,” katanya.

Sementara itu buaya berhasil ditangkap oleh warga, Rabu (27/3) malam. Buaya diikat tali dan dibawa ke rumah korban dan sempat jadi tontonan warga.

Setelah semalaman pascapenangkapan, buaya dibawa ke tempat penangkaran buaya milik PT Timah di Airdayung Merawang Bangka.

Di lokasi penangkaran ini, buaya pemangsa korban dilepaskan dalam kolam berpagar besi.

 

Sumber : tribunnews.com