Dituntut 3 Tahun Penjara, ASN UINSU Menangis: Ini Menghancurkan Masa Depan Saya

0
1
Terdakwa korupsi pembangunan Kampus Terpadu Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Rizki Anggraini menangis tersedu-sedu di Pengadilan usai dituntut 3 tahun penjara di Pengadilan Negeri Medan, Senin (6/6/2022). TRIBUN MEDAN / GITA
Dijual Rumah

Medan, buktipers.com – Terdakwa korupsi pembangunan Kampus Terpadu Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Rizki Anggraini menangis dituntut 3 tahun penjara, di Pengadilan Negeri Medan, Senin (6/6/2022).

Rizki selaku ketua Kelompok Kerja (Pokja) proyek pembangunan gedung tersebut, dalam nota pembelaan (pledoinya) meminta supaya dibebaskan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU).

“Yang Mulia, saya merasa sebagai korban dalam perkara ini, ini dapat menghancurkan masa depan saya dan suami,” ucapnya sembari menangis.

Dalam pledoinya, Rizki juga mengatakan bahwa harusnya ada beberapa pihak yang lebih bertanggungjwab dalam perkara ini, pertama yakni tim konsultan manajemen kontruksi, panita pemerima hasil pekerjaan, bendahara pengeluaran yang disebutnya menandatangani dokumen pencairan dan melakukan pembayaran yang tidak sesuai.

“Seluruh pihak itu sudah pernah diminta keterangannya oleh penyidik Polda Sumut, namun hingga kini mereka masih bebas di luar sana,” ucapnya.

Sembari menangis tersedu-sedu, Rizki memohon kepada Majelis Hakim agar dibebaskan dari penjara.

“Saya mohon bebaskan saya Yang Mulia, maafkan saya, bebaskan saya dari tuntutan penuntut umum. Saya tidak pernah bersepakat dengan siapapun, saya tidak pernah dijanjikan apalagi menerima suap kegiatan lelang pembangunan gedung kuliah, saya tidak pernah menyerahkan dokumen HVS kepada siapapun,” ucapnya.

Terdakwa mengaku bahwa ia tidak ada memerintahkan siapapun untuk memenangkan lelang proyek pembangunan kampus tersebut.

“Saya tidak pernah meminta apalagi memerintahkan untuk memenangkan pihak tertentu dalam lelang. Saya sama sekali tidak terkait dengan kerugian keuangan negara. Tolong bebaskan saya, tolong izinkan saya untuk pulang,” ucapnya.

Usai mendengar pledoi terdakwa, Tim JPU menyatakan tetap pada tuntutannya.

Selanjutnya, Majelis Hakim yang diketuai Immanuel Tarigan menunda sidang pekan depan depan agenda putusan.

Diberitakan sebelumnya, bahwa JPU menuntut ketiga terdakwa dengan hukuman yang berbeda-beda.

Yang mana Direktur PT multikarya Bisnis Perkasa (MBP) Marhan Suaidi Hasibuan dituntut 4 tahun penjara.

Sedangkan Wakil Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Marudut Harahap serta Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Rizki Anggraini dituntut masing-masing 3 tahun penjara.

Tidak hanya itu, JPU juga menuntut para terdakwa membayar masing-masing sebesar denda Rp 500 juta subsider 3 bulan kurungan.

JPU menilai ketiga terdakwa terbukti bersalah turut serta atau bersama- sama eks rektor UINSU Prof Saidurrahman dan Syahruddin Siregar (sudah dihukum) melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama terhadap pembangunan kampus UINSU sehingga merugikan negara Rp 10,3 miliar.

Sementara itu, JPU dalam dakwaannya menuturkan, bahwa perkara ini bermula pada tahun anggaran 2018 Universitas Islam Negeri Sumatera Utara mendapat anggaran berdasarkan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Nomor : SP-DIPA-025.04.2.424007/2018 untuk pembangunan gedung perkuliahan terpadu Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) yang dananya bersumber dari dana APBN Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dengan nominal pagu anggaran sebesar Rp 50 miliar.

Terungkap juga eks Rektor Saidurahman (telah divonis bersalah) meminta agar panitia pelelangan proyek pembangunan Gedung Kuliah Terpadu Kampus II UIN Sumut memenangkan PT Multikarya Bisnis Perkasa untuk melaksanakan proyek itu.

“Bahwa untuk merealisasikan hal tersebut, terdakwa Marudut menemui Ketua Pokja terdakwa Rizki Anggraini meminta bantuannya agar mau bekerjsama agar dalam proses lelang, panitia Pokja memenangkan perusahaan PT Multikarya Bisnis Perkara yang akan melaksanakan pembangunan Gedung Kuliah Terpadu,” sebut JPU.

Singkat cerita, Panita Pokja pembangunan akhirnya memenangkan PT Multikarya Perkasa dengan dengan nilai kontrak Rp 44.973.352.461.

Namun belakangan, pembangunan gedung itu kemudian mangkrak dan berpotensi merugikan keuangan negara sesuai hasil audit kerugian negara yaitu sebesar Rp 10.350.091.337,98 (Rp10,3 miliar).

 

Sumber : tribunnews.com