Divonis 2 Tahun 7 Bulan Penjara, Tim Kuasa Hukum Yogi : Finalnya Terdakwa Tetap Harus Direhabilitasi

0
314
Dewa Made Satria Wijaya SH, Tim Kuasa Hukum dari terdakwa Yogi Saputra saat diwawancarai usai persidangan. (Foto/AGS)
Dijual Rumah

Buktipers.com – Ketapang (Kalbar)

Yogi Saputra (21), terdakwa penyalahgunaan Narkotika (pecandu narkoba), akhirnya menjalani sidang putusan, di Pengadilan Negeri (PN) Ketapang, Kamis (18/7/2019) sore lalu, pukul 16.00 WIB.

Majelis hakim yang diketuai, Yuni Prasetya Ningsih dan didampingi dua orang hakim anggota, Hendra Wardana dan Ershin, menjatuhkan vonis 2 tahun 7 bulan kurungan penjara terhadap terdakwa Yogi Saputra, dikurangi masa penahannya yang sudah dijalani.

Terkait putusan tersebut, tim kuasa hukum terdakwa, Imron Rosyadi SH, menyatakan masih  pikir – pikir atas putusan itu kepada majelis hakim.

Dewa Made ‎‎Satria Wijaya SH yang juga penasehat hukum  terdakwa saat dikonfirmasi Buktipers.com, Kamis (18/7/2019), mengatakan “Memang putusan hakim tadi lebih rendah 5 tahun dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum‎ (JPU) yang mana dalam tuntutannya, JPU menuntut terdakwa Yogi Saputra dengan 7 tahun 8 bulan kurungan penjara, dengan menetapkan terdakwa melanggar Pasal 112 UU RI No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Maka dari itu, kami menilai hakim sangat jeli melihat hasil fakta-fakta persidangan, meskipun hasil putusannya tidak sesuaki keinginan kita. Dan terkait putusan  2 tahun 7 bulan kurungan penjara tersebut, kami masih pikir -pikir ‎guna melakukan upaya pertimbangan agar klien kami tidak dituntut penjara, melainkan direhabilitasi kembali,”paparnya.

Chat Resume Asesmen sebagai bukti rekam jekak terdakwa Yogi Saputra, pernah direhab di RBM Bumi Khatulistiwa Pontianak selama 4 bulan. (Foto/AGS)

Lanjutnya, klien mereka (terdakwa Yogi Saputra) ini pernah dimasukan orang tunya sendiri, di panti rehabilitasi RBM Bumi Khatulistiwa Pontianak, pada Maret 2016 hingga Agustus 2016 lalu. Pada saat terdakwa Yogi Saputra ini berumur 17 tahun. Namun karena keterbatasan biaya ekonomi keluarga, ayahnya memberhentikan proses rehab dan menjemput terdakwa pulang, beritahunya.

Sambungnya, untuk pembuktian di depan hukum, bahwa  terdakwa Yogi Saputra ini pernah direhab, pihaknya sudah menghadirkan saksi dan bukti chat resume asesmen dari RBM Bumi Khatulistiwa Pontianak, di persidangan sebelumnya.

Disamping itu juga, dalam pledoi, kami telah membawa Pasal 55 UU Narkotika tahun 2009, yang mana di Undang-Undang tersebut menjelaskan tentang adanya pengecualian tuntutan untuk orang yang pernah dilakukan rehabilitasi medis yang sudah melaporkan diri, atau sudah dilaporkan keluarganya maupun di Rumah Sakit, Puskesmas atau Panti-panti Rehabilitasi yang telah ditunjuk pemerintah itu tidak dapat dilakukan penuntutan, ujarnya.‎

‎”Meskipun sudah kita ungkap di fakta persidangan, namun jaksa tidak melihat terdakwa. Kami juga tidak mengerti, seperti apa standar tuntutan dari Jaksa Penuntut Umum. Masa dengan barang bukti ‎0,35 gram, bisa dituntut 7 tahun lebih, namun ada terdakwa lain dengan barang bukti seberat 5 gram, hanya dituntut di bawah itu. Untuk itu, terhadap klein kita ini, apapun yang terjadi finalnya, kita tetap mempertahankan agar direhabilitasi,”tutupnya.

 

(AGS)  ‎