Djarot dan Terdakwa Hoaks Dewi Budiati Bertemu di PN Medan, Bersalaman tapi Hukum Harus Ditegakkan

0
158
Terdakwa Dewi Budiati dan saksi Djarot S di Pengadilan Negeri Medan, Rabu (4/9/2019). tribun medan/victory
Dijual Rumah

Medan, buktipers.com – Mantan Calon Gubernur Sumut, Djarot Saiful Hidayat hadir dalam persidangan Kasus UU ITE status Hoaks dengan terdakwa Dewi Budiati (54) di Pengadilan Negeri Medan, Rabu (4/9/2019).

Saat bersaksi dalam persidangan Djarot menerangkan dirinya kecewa karena dirinya difitnah.

“Saya sangat kecewa dan prihatin dengan fitnah tersebut, karena sangat berbahaya bagi kehidupan demokrasi kedepannya.

Saya tidak merasa tercemar tapi terhina, karena ini bukan tentang orang per orangan.

Tapi bagaimana sehatnya demokrasi bangsa kita ke depannya,” ungkapnya saat ditanya Majelis Hakim yang diketuai Sri Wahyuni.

Djarot menegaskan membantah dirinya ada terlibat penyuapan seperti yang dituliskan terdakwa Dewi Budiati.

“Jadi saya diundang, karena kebetulan pulang dari Asahan, oleh asosiasi Kepala Desa Simpang Kawat Asahan.

Saya diundang untuk silahturahmi, saya sharing pengalaman pernah menjadi gubernur bagaimana mengelola anggaran keuangan di desa.

Tidak ada perkataan kampanye sama sekali. dan itu hanya sekitar 30 menit saya di situ langsung pulang,” tegasnya.

Djarot mengatakan hal yang membuatnya sedih karena adanya opini dan halusinasi dalam memposting status melalui smartphone.

“Atas fakta di lapangan, saya sangat sedih, karena ini opini dan halusinasi yang berbahaya.

Ini tidak tentang kalah atau menang.

Seperti yang saya katakan ini tentang kehidupan berdemokrasi.

Di mana tanpa adanya klarifikasi membuat postingan dan ini sangat merugikan.

Ini pembelajaran bagi setiap warga negara bagaimana menggunakan smartphone, di mana penggunanya harus juga yang smart,” tegas Djarot.

“Karena sebentar lagi kita akan menghadapi Pilkada serentak pada 2020 mendatang, ini menjadi pembelajaran untuk kehidupan demokrasi kita yang lebih dewasa. Status Hoaks harus kita berantas,” tambahnya.

Selanjutnya, kejadiannya berlanjut, Djarot melihat postingan terdakwa tersebut dari rekannya hingga akhirnya melaporkan postingan tersebut ke Polda Sumut.

“Awalnya itu saya dikasih tunjuk oleh Rion dan Rosmansyah. Teman-teman bilang, karena kita negara hukum ya kita laporkan ke kepolisian,” tuturnya.

Saat ditanya Hakim mengenai adanya usaha perdamaian antara dirinya dengan terdakwa.

Djarot menegaskan dirinya sudah memaafkan terdakwa.

“Ada saya mendapatkan informasi (perdamaian) dari penasihat hukum tapi belum sempat ketemu. Saya mengingkan damai, itu pasti karena kita sesama anak bangsa harus saling memaafkan. Tapi karena ini sudah berjalan secara hukum, ya tetap dijalankan. Karena tindakan seperti ini tidak benar,” pungkasnya.

Sesuai sidang, ada pemandangan cukup menarik karena Djarot dan terdakwa bersamalaman dan menyepakati untuk menyelesaikan hukum harus ditegakkan.

“Kita harus tegakkan hukum,” cetus Djarot.

Disambut Dewi dengan “Benar pak kita harus tegakkan hukum,” sambil bersalaman.

Djarot yang mengenakan kemeja putih ini tampak tersenyum lebar saat bersalaman dengan terdakwa.

Sedangkan terdakwa yang mengenakan baju dengan balutan warna emas dengan jilbab emas tampak tenang saat menyalami Djarot.

Dalam dakwaan Jaksa, disebutkan bahwa terdakwa pada tanggal 6 Juni 2018 sekitar pukul 19.35 WIB dimana akun facebook atas nama Legros Aliyah melakukan postingan dengan tulisan/kalimat berupa

“Djarot tertangkap tangan tengah menyuap Kades2 di Asahan, tepatnya di acara rapat ketua ketua Abdesi simpang kawat Asahan.

Saat ini tim investigasi tengah mengumpulkan bukti bukti untuk diteruskan keranah hukum.

Djarot sempat dilarikan ke kantor polisi dan bawaslu namun dilepas, beberapa bukti termasuk keterangan warga yang sudah sebagian didapat.

Termasuk sobekan kertas pengikat uang berjumlah Rp 10 Juta rupiah beberapa lembar yang tercecee dilantai pertemuan mohon doa agar kasus ini terbuka lebar kemata publik guna menyelamatkan Sumut dari tangan tangan kotor yang dengan hasrat politik yang membabi buta”.

Disertai dengan memposting foto saksi Drs H Djarot Saiful Hidayat MS yang dibubuhi kalimat “Djarot tertangkap tangan tengah menyuap Kades di Asahan.

Kemudian terdakwa Dewi Budiati dengan akun facebooknya nama Dewi Budiati Teruna pada tanggal 7 Juni 2018 sekira pukul 03.36 WIB melakukan postingan tulisan/kalimat yang isinya:

“Ini bukan hoaks, kejadian kemarin malam tempat desa Simpang Empat Kecamatan Simpang Empat saat rapat Apdesi Kabupaten Asahan, relawan Eramas mendapat info dari warga bahwa Djarot mendatangi para Kades yang tengah rapat, lalu relawan menggerebek Djarot yang datang dari acara Sei Rengas.

Agar tak disebut hoak, pertemuan berlangsung tanggal 6 Juni jam 21.00 alamat pertemuan dikantor Apdesi Asahan, sekali lagi alamat pertemuan di desa Simpang Empat Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Asahan nama ketua Apdesi yang memfasilitaai Inisial H.U dihadirin 48 Kades yang menggerebek Djarot relawan Eramas yang mendapat lalu segera meluncur, Djarot baru saja mengikuti acara di Sei Rengas lalu diatur acara Apdesi yang telah diseting sebelumnya.”

Bahwa kemudian terdakwa pada tanggal 7 Juni 2018 sekira pukul 4.17 wib dengan akun facebook dengan nama Dewi Budiati Teruna kembali memposting lagi kalimat tulisan yang isinya;

“Berita Djarot dan Kades Asahan bukan hoak, tempat kejadian tanggal 5 Juni jam 21.00 WIB Tempat kantor Apdesi Kabupaten Asahan Desa Simpang Empat.”

Terdakwa didakwa melanggar Pasal 27 ayat (3) Jo Pasal 45 ayat (3) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi Transaksi Elektronik.

 

Sumber : tribunnews.com