Dua Wanita Penyalur TKI Ilegal Cuma Divonis 4 Tahun Penjara oleh Hakim PN Medan

0
1
Majelis hakim diketuai Lucas Sahabat Duha (kanan) saat membacakan amar putusan di Pengadilan Negeri (PN) Medan. TRIBUN MEDAN/GITA NADIA PUTRI TARIGAN
Dijual Rumah

Medan, buktipers.com – Dua wanita penyalur Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ilegal ke Malaysia, yakni Anggi Pratiara Br Surbakti alias Bunda dan Suprapti alias Prapti divonis masing-masing cuma empat tahun penjara di Pengadilan Negeri Medan.

Majelis hakim yang diketuai Lucas Sahabat Duha menyatakan, kedua warga Sumut iti terbukti bersalah melakukan tindak pidana Pasal 81 Jo Pasal 69 UU N0 18 Tahun 2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.

“Menjatuhkan para terdakwa dengan pidana penjara masing-masing selama empat tahun, denda Rp 1 miliar, apabila denda tidak dibayar maka diganti dengan pidana 3 bulan kurungan,” ujar hakim dalam amarnya, Kamis (23/6/2022).

Majelis hakim dalam amarnya menyatakan, adapun hal yang memberatkan, terdakwa menjadi bagian kerusakan jasa pengiriman TKI ke luar negeri.

“Keadaan yang meringankan, para terdakwa sopan selama persidangan, mengakui dan menyesali perbuatannya,” urai Lucas.

Vonis majelis hakim lebih ringan 1 tahun dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Yuliati Ningsing yang sebelumnya menuntut kedua terdakwa dengan pidana penjara masing-masing selama 5 tahun, denda Rp 1 miliar, subsidair 6 bulan.

Sementara itu, JPU dalam dakwaannya menuturkan bahwa perkara ini berawal dari  tim Petugas Polda Sumut mendapatkan informasi bahwa kedua  terdakwa, melakukan kegiatan pelayanan ilegal kepada para Calon Pekerja Migran Indonesia.

Para terdakwa, merekrut masyarakat untuk bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) atau Pekerja Migran Indonesia dengan jalur tidak resmi / ilegal ke Negara Malaysia sejak tahun 2000.

Adapun modus operandi yang dilakukan oleh terdakwa Anggi Pratiara adalah setelah mendapatkan calon pekerja migran, selanjutnya para pekerja migra tersebut akan terdakwa berangkatkan ke Malaysia dari Kota Medan melalui Pelabuhan Tikus di Kota Dumai Provinsi Riau dengan cara tidak resmi.

“Yaitu dengan menggunakan Kapal Speedboat yang dikemudikan oleh Ashari Setiawan Alias Adi Alias Ari (belum tertangkap),” ujar JPU.

Sesampainya di Malaysia, para calon pekerja migran tersebut akan ditampung oleh rekan para terdakwa di Malaysia yaitu Cici Alias Sabrina yang beralamat di Jalan Sri Sedeli 7 Sri Andalas Klang Selangor Malaysia.

Pekerjaan yang dijanjikan oleh terdakwa kepada Calon Pekerja Migran Indonesia yakni sebagai pembantu rumah tangga dan juga cleaning service dengan gaji sebesar RM 1.200 atau sekitar Rp 3.8 juta dan gaji Calon Pekerja Migran Indonesia, akan dipotong selama 3 bulan oleh Cici Alias Sabrina (warga Negara Malaysia) yang menampung para Pekerja Migran Indonesia selama di Malaysia.

Terdakwa akan mendapatkan keuntungan sebesar RM 4.000 atau sekitar Rp 12 juta dari satu orang Calon Pekerja Migran Indonesia yang dikirimnya kepada Cici Alias Sabrina.

Uang tersebut, dikirim Cici Alias Sabrina kepada terdakwa 1 melalui  rekening terdakwa 2 dengan cara bertahap yaitu RM 1.000 atau sekitar Rp 3 juta untuk pengurusan pasport, RM 2.000 atau sekitar Rp 6 juta untuk pengurusan keberangkatan ke Malaysia.

“Setibanya di Malaysia, terdakwa akan mendapatkan keuntungan sebesar RM 1.000 atau sekitar Rp 3 juta yang seluruhnya dikirim ke rekening terdakwa Suprapti.

Pada awal bulan Nopember 2021 kedua merekrut 5  orang Calon Pekerja Migran Indonesia yaitu saksi Sariani, Lisma Rumondang Hutasoit, Siti Khodijah, Fransiska dan Herni Anastasia Sitorus.

Dimana setiap merekrut calon pekerja migran tersebut, Anggi memberikan uang pertinggal kepada keluarga calon TKI masing-masing sebesar Rp 1 juta, dan akan ditampung sementara di Kos-kosan miliknya di Jalan Jamin Ginting Kelurahan Selayang Kecamatan Medan Tuntungan, sambil mempersiapkan pasport keberangkatan para pekerja migran tersebut yang diurus langsung oleh kedua terdakwa.

Terdakwa Suprapti lantas menjemput para calon pekerja migran dari rumah kos tersebut untuk diantar membuat paspor di Gerai Eazy Paspor di Jalan Karya Wisata  Medan.

Sebelum pembuatan pasport para pekerja migran tersebut, terdakwa menghubungi saksi Robi Budi Darma yang bekerja di bagian layanan pasport di Gerai Easy Pasport Medan

“Mengingatkan kepada para pekerja migran yang akan membuat pasport apabila saat wawancara pembuatan paspor di Imigrasi jika ditanya tujuan ke Malaysia adalah melancong atau berwisata,” ujar JPU.

Pada tanggal 19 November 2021 sebelum sampai di Malaysia, para Calon Pekerja Migran Indonesia tersebut,  dibawa para terdakwa ke Kota Dumai Provinsi Riau dengan maksud sementara waktu tinggal dipenampungan sementara milik Hasanah Alias Bunda Ana (belum tertangkap).

Lalu, pada Jumat 21 Nopember 2021, sekira pukul 20.00 WIB Tim Opsnal Subdit IV Ditreskrimum Polda Sumut mendapat  Informasi bahwa kedua terdakwa akan memberangkatkan kembali  2 calon  Pekerja Imigran Indonesia illegal  untuk diberangkatkan ke Malaysia melalui Kota  Dumai Provinsi Riau.

Kemudian mendapati kedua terdakwa calon Pekerja Imigran Indonesia yaitu saksi Nursimah Alias Yuyut dan saksi Wiji Mulyo Alias Wiwit beserta  dokuken-dokumen yang akan dipergunakan untuk memberangkatkan Calon Pekerja Imigran Indonesia ke Malaysia.

“Kedua terdakwa tidak ada memiliki Surat Ijin Perekrutan Pekerja Migran Indonesia (SIP2MI), untuk merekrut dan atau melaksanakan penempatan pekerja migran dari Indonesia ke Malaysia dari pejabat berwenang dalam hal ini Dinas Ketenagakerjaan,” pungkas JPU.

 

Sumber : tribunnews.com