Einstein-nya Indonesia, Pantur Silaban Tutup Usia 84 Tahun, Fisikawan Terkemuka asal Sidikalang

0
3
Pantur Silaban, seorang fisikawan dan guru besar Institut Teknologi Bandung (ITB), meninggal dunia pada Senin, (1/8/2022) di Rumah Sakit Santosa, Bandung. TRIBUN MEDAN/HO
Dijual Rumah

Medan, buktipers.com  – Sosok Pantur Silaban sudah tidak asing di dunia pendidikan, terutama bidang Fisika. Dia seorang fisikawan terkemuka di dunia sehingga dijuluki Einstein-nya  Indonesia.

Pantur Silaban yang juga Guru Besar ITB meninggal dunia pada Senin (1/8/2022) di Rumah Sakit Santosa.

Fisikawan ini tutup usia di 84 tahun.

Jenazah Pantur Silaban kini disemayamkan di rumah duka Jalan Industri 21 Bandung.

Sebelum dimakamkan di San Diego Hills, ITB akan melakukan prosesi pelepasan jenazah purnabakti Guru Besar Kelompok Keahlian Fisika ITB Teoritik Energi Tinggi itu.

Sosok Pantur Silaban

Pantur Silaban Guru besar fisika teori ITB per Januari 1995 kelahiran Sidikalang, 11 November 1937 ini dan pensiun akhir 2002.

Lulus dari Fisika ITB pada 1964, Pantur sempat menjadi dosen di almamaternya lalu melanjutkan studi pada 1967 di Syracuse University, New York.

Di sana ia menekuni Teori Relativitas Umum yang dikenalkan Albert Einstein.

Pantur sebagai doktor pertama di bidang yang mendalami teori relativitas Einstein di Indonesia.

Pada tahun 1967, 3 tahun setelah diangkat menjadi staf pengajar Fisika (1964), Pantur Silaban berangkat ke Amerika Serikat untuk belajar relativitas umum dan ia diterima di pusat kajian gravitasi Universitas Syracuse.

Di sana Pantur Silaban memasuki isu paling hangat yakni mengawinkan Mekanika Kuantum dan Relativitas Umum untuk memikat Teori Kuantum Gravitasi.

Itulah impian terkenal Albert Einstein yakni meramu keempat interaksi yang ada di alam semesta dalam satu formulasi yang gagal ia peroleh sampai akhir hayatnya: Grand Unified Theory.

Pekerjaan ini diselesaikan dengan disertasi yang berjudul “Null Tetrad, Formulation of the Equation of Motion in General Relativity” pada tahun 1971.

Setelah kembali ke Indonesia, Pantur Silaban menjadi orang pertama di Indonesia yang mempelajari relativitas Einstein sampai tingkat doktor. Beberapa risetnya diterbitkan Journal of General Relativity and Gravitation

Sekian banyak makalahnya dimuat berbagai proceedings. Seniornya, Achmad Baiquni (almarhum), selalu menyebut nama Pantur Silaban sebagai otoritas bila menyinggung nama Einstein dan beberapa kali diundang sebagai pembicara di International Centre for Theoretical Physics

Pantur Silaban selalu mencermati indikasi akan keberhasilan Teori Kuantum Gravitasi hingga kini.

Melansir dari laman fisika.net.lipi yang dikutip dari Harian Kompas terbitan 2004, Pantur Silaban memiliki ciri yang tidak terlupakan yakni guyonnya yang autentik dan terus mengalir, asap rokoknya yang laten mengepul, butir kapur tulis yang terkelupas oleh papan tempat ia menoreh tanda matematik saban menjelaskan fisika, dan serta kemeja lengan panjang dan pantalon berukuran pas di tubuhnya yang tak kunjung kusut sepanjang hari.

Fisikawan pertama Indonesia dalam Relativitas Umum ini tergolong langka di bidangnya, juga di kawasan Asia Tenggara.

Pantur Silaban merupakan anak dari Israel Silaban dan ibunya Regina br Lumbantoruan seorang pedagang yang buta huruf.

Namun, Pantur terdidik sampai PhD lalu profesor di lembaga pendidikan terkemuka: ITB.

Pantur Silaban menikah dengan Rugun Lumbantoruan. Dari pernikahannya itu, mereka memiliki empat putri.

Seluruh putrinya menempuh pendidikan yang tinggi.

Empat putri Pantur Silaban:

  1. Anna lulusan Ekonomi Universitas Padjadjaran.
  2. Ruth dokter spesialis saraf Universitas Padjadjaran
  3. Sarah lulusan Teknik Sipil ITB dan magister Universitas Teknologi Chalmers, Swedia
  4. Mary si bungsu sarjana geologi ITB.

Nama putrinya berbau Semit, demikian pula ketiga cucunya: Joshua Bala, Jeremy Binsar Gultom, dan Joseph Gultom.

“Saya memang terkesan dengan etos kerja Yahudi,” kata Pantur Silaban dalam kutipan di situs fisika.net.lipi.

“Anda tahu Syracuse itu universitas orang Yahudi. Hanya ada dua jenis manusia yang diterima di sini. Kalau bukan Yahudi, ya pasti orang pintar. You tahu saya bukan Yahudi.”

“Saya selalu menjawab sebagai orang yang puluhan tahun bekerja dalam Relativitas Umum, saya tidak pernah mengatakan apakah teori Einstein benar atau salah,”ujarnya.

Anda punya segudang lelucon, darimana?

“Saya suka dengar dan baca joke yang ada moral ceritanya. Kadang saya ciptakan sendiri. Sering manusia dengan segala cara membenarkan diri. Jarang orang membuka kartu bahwa ini kesalahan saya. Lelucon sering menguliti kita dari bungkus kemunafikan”

Kemarin Anda kutip Alexander Solzhenitsyn tentang bahaya kekuasaan. Baca sastra juga?

“Saya baca buku apa saja. Yang selalu saya ambil pesan moralnya. Dari lagu juga saya dapat. Pernah dengar lirik lagu Amerika: How many ears must one man have before he can hear people cry? Enak lagunya, tapi mari merenungkan artinya. Sebelum bisa mendengar rintihan orang lain, berapa telinga yang harus dia punya? Saya bandingkan dengan kisah Alkitab, Yesus menyembuhkan orang tuli. Kita sekarang tidak mendengar jeritan orang. Kitalah yang tuli. Lalu siapa yang menyembuhkan kita yang tuli?”

Suka dengar musik klasik

“Saya suka, entah Bach entah Beethoven. Menurut saya, musik instrumental pun menyuarakan pesan moral melalui nada, irama, dinamika. Hanya saja, mengapa Jerman yang banyak menghasilkan musik, sastra, filsafat yang sarat makna bisa melahirkan Hitler yang beringas dan orang kejam. Barangkali ada kaitan dengan hukum aksi-reaksi dalam fisika: di mana timbul sesuatu yang positif, selalu diusahakan timbul aspek jahat yang akan menghancurkan yang baik,”

 

Sumber: tribunnews.com