Eks Asisten Apoteker Klaim Temukan Obat Covid-19, Dinkes Kalbar: Harus Ada Bukti

0
71
Kadinkes Kalbar, Harisson (Foto: Antara/Rendra Oxtora)
Dijual Rumah

Pontianak, buktipers.com – Saat ini banyak pihak mengklaim menemukan obat virus corona atau Covid-19. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, Harisson pun meminta warga tidak mudah percaya.

Harisson mengatakan, saat ini warga mudah percaya dengan klaim orang yang berasal dari mulut ke mulut. Padahal temuan tersebut tidak pernah diuji coba.

“Kita tidak boleh mengklaim telah menemukan obat corona hanya dengan bukti yang katanya sudah bisa mengobati beberapa orang Orang Dalam pengawasan (ODP),” ujar Harisson di Pontianak, Minggu (5/4/2020).

Dia menjelaskan, kasus ODP belum tentu terkonfirmasi Covid-19. Bahkan, pasien dalam pengawasan (PDP) pun belum dipastikan positif Covid-19.

Harisson menambahkan, dalam dunia ilmiah ilmu kedokteran diperlukan pembuktian suatu zat mempunyai efek terapi tertentu. Penelitiannya akan sangat panjang, mulai dari penelitian secara invitro maupun invivo.

“Dalam penelitian pun akan ada metode pembandingan atau komparasi misalnya antara efek atau pengaruh pada orang yang terinfeksi yang diberikan obat atau zat ini dan efek pada orang yang terinfeksi tapi tidak diberikan zat yang sedang diteliti,” ucapnya.

Perbandingan ini akan membuktikan apakah benar obat itu dapat memberikan efek terapi atau malah orang yang tidak diberi obat yang sedang ditelitipun ternyata bisa sembuh. Karena Covid-19 merupakan self limiting disease yang artinya pasien dapat sembuh dengan sendirinya asal daya tahan tubuh nya kuat.

“Penelitian ini akan sangat panjang, termasuk harus diteliti dalam dosis berapa obat tersebut tidak mempunyai efek, dalam dosis berapa obat tersebut mempunyai efek terapi dan dalam dosis berapa obat tersebut justru meracuni,” katanya.

Mantan Kadis Kesehatan Kapuas Hulu itu menambahkan, dirinya sangat mendukung ilmua Kalbar untuk meneliti penyakit ini. Namun gunakan metode penelitian secara ilmiah, agar hasil memang benar-benar sudah teruji dan sahih.

“Jangan buru-buru melempar ke masyarakat terhadap hasil yang belum terbukti secara ilmiah, karena hanya akan menimbulkan kegalauan,” kata Harisson.

Apa yang disampaikan Harisson tersebut berkaitan dengan adanya klaim dari seorang mantan asisten apoteker di Pontianak, Fahrul Lutfi yang mengklaim menemukan Formav-D pada 10 tahun lalu untuk menyembuhkan pasien Demam Berdarah Dengue (DBD).

Namun dia yakin obat tersebut juga bisa digunakan untuk mengobati Covid-19.​​​​​, karena dia sudah menguji pada dirinya sendiri dan kepada lima ODP yang ada di Pontianak.

Atas beberapa contoh kasus itulah, Lutfi meyakini kalau temuannya 10 tahun lalu itu juga bisa digunakan untuk mengobati Covid-19. Lutfi menjelaskan, Covid-19 merupakan virus yang memiliki dinding sel protein. Untuk menghadapinya, diperlukan obat yang dapat menghancurkan dinding sel tersebut. Hal itu dapat dilakukan Formav-D yang pada dasarnya memiliki kandungan enzim.

 

Sumber : iNews.id