Hina Pemerintahan Jokowi, Pemuda Serdang Bedagai Didakwa UU ITE

0
205
Juara Seherman alias Kembar (29) dipaksa duduk di kursi pesakitan Ruang Cakra II Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (22/1/2019) sore. TRIBUN MEDAN/ALIJA MAGRIBI
Dijual Rumah

Buktipers.com –  Medan (Sumut)

Hina Jokowi, warga Jalan Dusun I Desa Suka Beras, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), Juara Seherman alias Kembar (29), dipaksa duduk di kursi pesakitan Ruang Cakra II Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (22/1/2019) sore.

“Bahwa terdakwa Juara Seherman alias Kembar menyatakan perasaan permusuhan kebencian atau penghinaan kepada Pemerintah Indonesia,” kata Jaksa Penuntut Umum (JPU), Septebrina Silaban, membacakan dakwaan.

Menurut JPU, perbuatan terdakwa bermula saat Juara di akun Fabebook miliknya bernama Kocu Tato, menuliskan sebuah kalimat tentang Presiden Jokowi.

Pada tanggal 9 Oktober 2018 tersebut, Juara memposting ‘Hanya orang kafir dan pki lah yg memilih jokowi’ di Grup akun facebook Jokowi Presiden RI 2019.

“Selanjutnya pada tanggal 25 September 2018, terdakwa juga memposting di dinding akun facebooknya dengan kalimat ‘Taik sama pemerintahan sekarang bukanya mensejaterahin rakyatnya mala mencekik rakyatnya,, Dasar jokonDasar jokon***’,” ucap Septebrina.

Tak hanya itu, terdakwa juga memposting ‘Jokowi harus kita lengserkan, Indonesia gk butuh pemimpin yg penipu yg takut dengan janda’.

“Perbuatan terdakwa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 154 KUHP jo Pasal 28 ayat (2) Pasal 45A ayat (2) UU RI No 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas UU RI No 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE),” tegas JPU dalam dakwaannya.

Usai mendengarkan dakwaan, JPU menghadirkan saksi yakni Sastra SH Mkn selaku Ketua DPD Banteng Muda Indonesia Sumut. Dihadapan majelis hakim yang diketuai oleh Achmad Sayuti itu, Sastra mengakui, bahwa dirinya mengetahui postingan terdakwa yang menghina Jokowi pada tanggal 12 Oktober 2018.

“Pada saat saya lihat postingan yang menghina Jokowi itu, saya belum tau siapa pemilik akunnya. Akun Facebook milik terdakwa bisa dilihat semua orang karena publik,” katanya.

Kemudian, Sastra mengirim surat resmi tentang keberatan atas postingan tersebut ke Polda Sumut. “Saya sebagai Ketua DPD Banteng Muda Indonesia merasa keberatan dengan postingan tersebut dan mengirim surat resmi ke Polda Sumut,” lanjutnya.

Dia melakukan hal itu supaya terdakwa jera dan tidak ada lagi-lagi yang menghina Presiden RI di medsos.

Sepanjang sidang, terdakwa tampak hanya bisa tertunduk. Juara tampak menggenggam kedua tangannya sembari mendengarkan dakwaan JPU.

Terpisah seusai sidang, orangtua Juara yang ditemui wartawan mengaku anaknya tak mengetahui apa-apa. Josua, imbuhnya tak punya pendidikan.

“Dia ini ikut-ikutan dari teman-temannya. Bagaimana mungkin anak saya yang tak punya tamatan sekolah berani menghina Presiden Jokowi,” ucap Ibunda Juara.

Kepada wartawan, Ibunda Juara mengatakan bahwa dirinya meminta maaf sebesar-besarnya kepada Presiden RI ke tujuh tersebut dan seluruh rakyat Indonesia.

“Saya minta maaf akibat ulah anak saya ini. Saya gak tahu lagi minta tolong kemana lagi. Anak saya gak ada pengacaranya,” ujarnya yang tampak bingung.

Kini atas ulahnya menghina presiden Jokowi, Juara terancam pidana penjara selama 7 tahun dan Denda Rp 4.500.

Sumber : tribunnews.com