Beranda Lintas Provinsi Homoseksual Penyebab Terbesar Kasus HIV di Bandung

Homoseksual Penyebab Terbesar Kasus HIV di Bandung

102
0
Foto: Mukhlis Dinillah

Bandung, buktipers.com – Perilaku hubungan sesama jenis (homoseksual) menjadi penyebab tertinggi angka penderita HIV dan AIDS di Kota Bandung. Sehingga, pemahaman mengenai bahaya HIV/AIDS perlu digalakkan sejak usia remaja sebagai langkah pencegahan.

Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Kota Bandung Bambang Sukardi mengatakan sejak tahun 1991 hingga Juni 2019, tercatat jumlah penderita HIV/AIDS mencapai 4.825 orang. Jumlah tersebut terdiri dari 2.709 (HIV) dan 2.116 (AIDS).

“Ini menjadi tantangan berat untuk Kota Bandung. Karena Bandung juga menjadi pusat pengobatan ODHA dengan fasilitas 38 rumah sakit dan 80 puskesmas. Jadi pasiennya tidak hanya dari Kota Bandung saja, tapi Cimahi, Bandung Barat,” kata Bambang disela-sela kegiatan Hari AIDS Sedunia di CFD Dago, Kota Bandung, Minggu (1/12/2019).

Baca Juga!  Pria di Bandung Begal PNS Denpom hingga Dirawat di Rumah Sakit

Ia menuturkan penyebaran infeksi HIV beragam mulai dari seks bebas, narkoba dan lainnya. Sejauh ini persentase terbesar karena perilaku hubungan sesama laki-laki (homoseksual).

“Terus terang pergaulan seks sesama laki-laki besar mencapai 30 persen. Heteroseksual besar. Pasangan suami istri juga. Pengguna narkoba juga. Paling tinggi homoseksual memang,” jelas dia.

Menurutnya jumlah tersebut belum tentu berasal dari warga Kota Bandung saja. Karena pasien yang ditangani fasilitas kesehatan di Kota Bandung juga berasal dari wilayah Cimahi, Bandung Barat dan Kabupaten Bandung.

“Jelas angka tersebut tidak hanya Bandung saja, ada epidemi masuk wilayah lain yang pengobatan. Karena fasilitas di kami lebih lengkap,” tutur dia.

Baca Juga!  Diputus Pacar Bulenya, Pria Ini Curi Obat HIV Senilai Rp 75 Juta

Dia menegaskan komitmen bersama dalam menekan angka ODHA ini penting dilakukan melibatkan unsur pemerintah dan masyarakat. Termasuk juga penyuluhan harus dilakukan sejak usia dini mengenai bahasa HIV/AIDS.

“Tingkat SMP usia 15 tahun sampai 24 tahun perlu kita genjot sosialisasinya kerja sama dengan Disdik. Masalah reproduksi harus sering pertemuan,” ujar Bambang.

 

Sumber : iNews.id

 

Loading...