Hujan dan Angin Kencang Melanda, Pengungsi Buruh Selamatkan Diri ke Rumah – rumah Penduduk

0
122
Kondisi tenda darurat yang dihuni para buruh dilanda hujan dan angin kencang.
Dijual Rumah

Riau, buktipers.com – Pasca 14 hari setelah ‘pengusiran paksa’ oleh pihak PTPN V, dari perumahan milik perusahaan, alam (cuaca,red) mulai tidak bersahabat bagi para buruh yang pengungsi di tenda – tenda darurat.

Hampir siang dan malam turun hujan. Sehingga menimbulkan kekhawatiran para pengungsi akan nasib dan kesehatan mereka.

Salah seorang buruh, Tukul, ketika diminta keterangannya oleh tim pendamping, berharap pemerintah hadir, melihat kondisi para buruh yang memperjuangkan hak mereka.

Agar mereka bisa sama-sama merasakan penderitaan yang kami alami ini. Tidak hanya sekedar duduk di kantor, dan bersantai ria, seperti pada saat didatangi perwakilan dari rekan-rekan buruh, kemarin, ke Disnaker, ujarnya.

Masih katanya, Pemerintah seharusnya buka mata dan peduli terhadap persoalan mereka saat ini. “Jangan terkesan membiarkan dan mencueki, “ujar Tukul dengan nada kesal.

Buruh lainnya, Mula Jonny Sihotang, juga mengaku masih sangat trauma atas kejadian pengusiran paksa tersebut.

Karena uang Rp. 7 juta dan emas ditaksir seharga tiga juta delapan ratus ribu rupiah yang dikumpul selama 14 tahun bekerja, di perusahaan (PTPN V,red), raib sudah, ujarnya.

Padahal, rencananya, uang tersebut akan digunakan untuk biaya opname putrinya, di salah satu Rumah Sakit, di Medan.

Hendri Sihombing, Wakil Ketua FSBSI saat bersama para buruh.

Dia sangat berharap, agar kasus ini segera mendapat titik terang. Dan semua kerugian yang mereka derita selama ini, agar segera diselesaikan oleh perusahaan atau pemerintah.

Dan dia juga berpesan, supaya pemerintah juga menindak perusahaan yang tidak bertanggungjawab atas kecelakaan kerja setiap buruh.

Pengakuan Jonni Sihotang, dirinya pernah mengalami kecelakaan kerja sekitar pada bulan 11 akhir tahun 2017, lalu.

Dia pernah kejatuhan buah kelapa sawit, di bagian dada saat “mengeggrek” (memanen). Namun, saat dia sakit (istirahat) kurang lebih 4 bulan lamanya, pihak perusahaan tidak mau peduli. Bahkan, biaya rumah sakitnya, dari awal dia berobat hingga istirahat di rumah, dibiayai sendiri. Dengan uang hasil pinjaman kepada keluarga. Klo tidak pemerintah, siapa lagi yang dapat membantu kami? Ujarnya.

Hendri Sihombing, selaku Wakil Ketua FSBSI ketika ditanya sudah sejauh mana perkembangan penanganan pejuang buruh, dalam penyelesaiannya? Dia mengatakan, sejauh ini proses penyelesaiannya “Masih jalan ditempat”. Artinya, belum mendapat titik terang. Kita selaku perwakilan FSBSI sedang berusaha melakukan pendekatan-pendekatan, yang mengarah juga kepada proses hukum. Sembari menunggu arahan dari pengurus MPC FSBSI yakni Ibu Kormaida Siboro, ucapnya, Kamis (5/9/2019).

Dia juga mengatakan, hari ini, mendapat undangan dari pihak Polsek Tandun. Untuk memerintahkan 3 orang anggota pejuang buruh (Syamsuri, Rianto dan Supri), agar hadir dalam memenuhi undangan tersebut, pada pukul 09.00 WIB, untuk dimintai keterangan.

Terkait “Interogasi dalam perkara dugaan memberikan/menjanjikan fasilitas berupa gaji pokok dan bonus serta THR” kepada Sdr. Dedi Susanto Cs (Penghianat Pejuang Buruh), yang terjadi pada bulan Juni 2019 lalu, ungkapnya.

Dalam hal ini, Hendri Sihombing menilai undangan yang dilakukan pihak Polsek tersebut terkesan mencari-cari kesalahan para pejuang buruh. Hanya untuk sekedar melemahkan semangat para pejuang, katanya.

Terbukti, pada saat itu, undangan semacam ini juga sudah pernah dilayangkan. Namun, masih dilakukan interogasi pada satu orang perwakilan buruh. Ketika itu, pas mau tanda tangan BAP, ternyata isi BAP tersebut mengandung dugaan tindak pidana. Maka secara spontan, Hendri Sihombing memerintahkan anggota pejuang buruh untuk tidak menandatangani BAP tersebut, dan memerintahkan anggota pejuang buruh pulang ke camp.

(Rls)