Jaksa Setop Perkara Ibu Rumah Tangga Curi Ponsel demi Biaya Kontrakan Rumah

0
4
Foto: Jaksa menghentikan kasus pencurian dengan tersangka seorang ibu rumah tangga, Shinta (dok.istimewa)
Dijual Rumah

Jakarta, buktipers.com – Cabang Kejaksaan Negeri Makassar (Kejari Makassar) menghentikan kasus pencurian dengan menerapkan restorative justice atas nama tersangka Shinta binti Syamsuddin. Pelaku yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga itu terpaksa mencuri ponsel untuk membayar kontrakan rumah.

Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung Ketut Sumedana menerangkan kasus ini bermula ketika Shinta ditagih membayar uang kontrakan senilai Rp 400 ribu yang sudah menunggak beberapa bulan. Shinta yang tinggal bersama suami dan 4 orang anaknya ini diminta pemilik kontrakan untuk segera meninggalkan rumah jika tidak sanggup membayarnya.

“Pada hari Kamis 2 Desember 2021 pagi, pemilik kontrakan tempat tinggal Shinta binti Syamsuddin datang dan menagih uang kontrakan sebesar Rp 400.000 (empat ratus ribu) dikarenakan Shinta binti Syamsuddin dan suaminya sudah menunggak beberapa bulan dan pemilik kontrakan juga meminta Shinta binti Syamsuddin dan keluarganya untuk meninggalkan kontrakan miliknya apabila tidak membayar pada hari itu,” kata Ketut dalam keterangan pers tertulisnya, Minggu (27/3/2022).

Kala itu, Shinta tidak memiliki sepersen pun uang untuk membayar kontrakan. Sedangkan sang suami yang bekerja sebagai buruh harian pun belum mendapatkan penghasilan karena situasi pandemi Corona (COVID-19).

“Saat itu, tidak memiliki uang sebesar Rp 400.000 (empat ratus ribu) tersebut dan suaminya belum mendapatkan penghasilan sebagai buruh bangunan karena pandemi COVID-19,” kata Ketut.

Sejak saat itu, kata Ketut, sempat terlintas di benak Shinta untuk menjual ponsel yang dimiliki satu-satunya itu. Namun, kata Ketut, hal itu urung dilakukan mengingat anak Shinta masih bergantian memakai ponsel untuk sekolah daring.

“Dirinya mengingat bahwa hanya handphone itulah yang digunakan oleh anak-anaknya secara bergantian apabila sekolah sedang menerapkan metode pembelajaran jarak jauh (daring) sehingga Shinta binti Syamsuddin mengurungkan niatnya untuk menjual handphone tersebut,” ujar Ketut.

Shinta lalu pergi ke sana ke mari untuk mencari pinjaman sampai berkeliling ke Pasar Sentral New Makassar Mall. Namun, tak ada juga yang mau meminjamkan uang kepadanya.

“Shinta binti Syamsuddin kemudian pergi mencari pinjaman kepada tetangga hingga berkeliling di Pasar Sentral New Makassar Mall dengan harapan ada temannya yang bersedia meminjamkan uang kepada dirinya, namun hingga siang hari, Shinta binti Syamsuddin belum mendapatkan pinjaman uang,” kata Ketut.

Saat meninggalkan pasar, Shinta melewati toko KM yang saat itu korban inisial N sedang melayani pembeli. Tak pikir panjang, Ketut menyebut Shinta langsung mengambil ponsel milik N yang terletak di atas rak. Ponsel itu kemudian dibawa ke rumahnya.

“Pada pukul 15.30 Wita, saat hendak meninggalkan Pasar Sentral New Makassar Mall dan kembali ke rumah kontrakannya, Shinta binti Syamsuddin melewati toko KM yang saat itu korban N sedang melayani pembeli. Kala itu, Shinta binti Syamsuddin melihat melihat 1 (satu) buah handphone merek Vivo Y15 warna phantom black milik korban N terletak di atas rak, dan tanpa pikir panjang Shinta binti Syamsuddin langsung mengambil handphone tersebut dan kembali ke rumah kontrakannya,” ujarnya.

Pada Jumat (3/12/2021), Shinta bertemu dengan saksi inisial D untuk meminjam uang dengan jaminan ponsel yang dicurinya itu. Saksi D menyetujui dan meminjamkan uang Rp 700 ribu ke Shinta.

“Shinta binti Syamsuddin bertemu dengan pemilik kontrakan dan membayar sewa kontrakannya sebesar Rp 400.000,- (empat ratus ribu rupiah) kemudian sisanya sebesar Rp 300.000,- (tiga ratus ribu rupiah), digunakan oleh Shinta binti Syamsuddin untuk membeli susu formula dan kebutuhan anak-anaknya yang lain,” lanjut Ketut.

Beberapa hari kemudian, Shinta ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka serta langsung ditahan dalam kasus pencurian ini. Shinta sangat menyesali perbuatannya dan mengaku sedih harus berpisah dengan anak-anaknya terutama anak bungsunya yang masih berusia 7 bulan.

“Namun beberapa hari kemudian, Shinta binti Syamsuddin ditangkap, ditetapkan sebagai tersangka, dan akhirnya ditahan untuk mempertanggung perbuatannya. Tersangka Shinta binti Syamsuddin menyesali perbuatannya dan harus berpisah dengan anak-anaknya, terutama anaknya yang masih berusia 7 bulan dan mengharuskan anaknya SI menjaga adiknya sementara suaminya mencari pekerjaan,” kata Shinta.

Berkas perkara Shinta dilimpahkan ke Cabang Kejaksaan Negeri Makassar di Pelabuhan Makassar dan dipelajari oleh jaksa peneliti. Ketut menyebut saat itu jaksa peneliti bersama kepala Cabang Kejaksaan Negeri Makassar di Pelabuhan Makassar melakukan pertemuan dengan Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan R. Febrytrianto, Asisten Pidana Umum Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan Andi Darmawansyah dan Kasi Oharda Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan Andi Irfan, untuk mengajukan permohonan atas nama Shinta dapat dihentikan penuntutannya berdasarkan keadilan restoratif (restorative justice).

“Selanjutnya, penuntut umum Irtantoi Hadi Saputra, melaksanakan Tahap II pada Senin 14 Maret 2022 dan melakukan pertemuan antara tersangka Shinta binti Syamsuddin dan korban N. Saat mendengarkan latar belakang perbuatan tersangka, korban menangis dan sebagai sesama seorang ibu, korban berbesar hati dan memaafkan perbuatan tersangka Shinta binti Syamsuddin dan kini tersangka bebas tanpa syarat setelah permohonan penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif atas nama Shinta binti Syamsuddin yang diajukan oleh Cabang Kejaksaan Negeri Makassar di Pelabuhan Makassar disetujui oleh Jaksa Agung Muda Pidana Umum Fadil Zumhana melalui ekspose secara virtual pada Selasa 22 Maret 2022 lalu,” kata Ketut.

Ada pun alasan lain pemberian penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif ini diberikan, yaitu:

-Tersangka baru pertama kali melakukan perbuatan pidana/belum pernah dihukum

-Tindak pidana dalam hal terdapat kriteria atau keadaan yang bersifat kasuistik

-Tersangka menyesali perbuatannya dan korban N memaafkan perbuatan tersangka serta korban tidak merasa keberatan sehingga perkara tidak dilanjutkan ke persidangan

-Tersangka berjanji tidak akan lagi mengulangi perbuatannya

-Alasan tersangka mencuri dikarenakan untuk membayar uang kontrakan dan tersangka adalah seorang ibu yang memiliki 4 (empat) orang anak yang masih kecil.

“Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum dalam ekspose secara virtual mengapresiasi dengan setinggi-tingginya kepada kepala cabang Kejaksaan Negeri Makassar di Pelabuhan Makassar, kasi pidum, jaksa peneliti dan jaksa penuntut umum yang menangani perkara Shinta binti Syamsuddin yang telah berupaya menjadi fasilitator mendamaikan dan menyelesaikan perkara tersebut dengan mediasi penal antara korban dengan tersangka serta melibatkan tokoh masyarakat setempat sehingga terwujudnya keadilan restoratif,” ujar Ketut.

 

Sumber : detik.com