Jelang Akhir Tahun, Bulog Diminta Antisipasi Lonjakan Harga Beras

0
278
Dijual Rumah

BuktiPers.com – Jakarta

Dalam mengantisipasi lonjakan harga beras di akhir tahun, Badan Urusan Logistik (Bulog) diminta untuk melakukan antisipasi dini dan mengoptimalkan menyerap beras petani.

Sekretaris Umum Dewan Pimpinan Pusat Serikat Petani Indonesia (DPP SPI), Agus Ruli menyebutian minimnya penyerapan harga beras petani disebabkan harga pembelian gabah dari pemerintah melalui Bulog lebih rendah dibanding harga di lapangan.

“Kita bisa memprediksi di akhir atau di awal tahun ini panen kita tidak maksimal” ujar Agus seperti dilansir dari laman Investor Daily, di Jakarta. Selasa kemarin.

Pihaknya berharap, Bulog bisa membeli dari petani dengan harga yang layak. Selain itu, menurutnya, petani harus diberikan insentif dan dukungan. Kemudian, Bulog harus menyiapkan gudang penampungan dan pengeringan beras dari petani, agar kualitasnya baik dan bisa lama disimpan. “Intinya, bagaimana memaksimalkan beras dari petani,” jelasnya.

Bahkan, menurut Agus, tidak hanya Bulog, melainkan juga kementerian terkait yang dipimpin oleh Presiden langsung. Ia menegaskan, terlebih dalam tahun politik Indonesia saat ini, persoalan pangan harus terjamin. “Karenanya, menjadi pertanyaan jika harga beras mahal dan ada defisit,” tandasnya.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Ahmad Heri Firdaus, mengatakan, Bulog seharusnya antisipatif terhadap kenaikan harga beras. Beberapa daerah, contohnya Riau, bahkan telah menyatakan mengalami defisit beras. Padahal, di sisi lain, stok beras di gudang Bulog melimpah ruang hingga 2,5 juta ton.

“Harusnya diantisipasi. Buat pemetaan di tiap daerah. Kan banyak gudangnya Bulog, bisa dipantau dari tiap gudang di daerah masih aman atau tidak,” ujar dia.

Pemetaan menjadi penting agar Bulog tidak sekadar menjadi pemadam kebakaran yang baru menggelontorkan beras ketika harga sudah merangkak naik. Lewat pemetaan, harusnya Bulog bisa memahami gejala stok beras di tiap daerah untuk kemudian memutuskan melakukan operasi pasar atau tidak. Tidak adanya pemetaan stok beras di tiap daerah juga membuat Bulog tak bisa mengklaim cadangan beras benar berlebih.

Saat ini, harga beras di semua provinsi sudah melebihi harga eceran tertinggi (HET) beras yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 9.450 per kilogram. Berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategi Nasional, harga beras terendah pada Senin lalu terpantau di NTB senilai Rp 9.900 per kilogram. Sementara itu, harga beras tertinggi didapati di Sumatra Barat, di mana harga per kilogram beras menembus Rp 14.100.

Pada kesempatan lain, menanggapi harga beras yang terus naik, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Dwi Andreas mengatakan, pada Agustus 2018 lalu dirinya sempat meminta Bulog agar menahan stok beras sampai September karena saat itu masih panen. Menurutnya, Bulog seharusnya menggelar operasi pasar (OP) pada Oktober dan November ini.

“Kenaikan harga beras memang tidak bisa dihindari. Tetapi paling tidak bisa di rem lajunya. Ini saatnya Bulog berperan penting,” ungkap dia. (Admin/BS.Net)