Kasus Penipuan Berkedok Investasi di Medan, Perempuan Ini Divonis 2 Tahun 9 Bulan

0
1
Ilustrasi vonis hakim. (Net)
Dijual Rumah

Medan, buktipers.com – Majelis Hakim Pengadilan Negeri Medan menjatuhkan hukuman pidana selama 33 bulan atau 2 tahun 9 bulan penjara kepada Naikta Revina Sembiring.

Warga Jalan Sawit Raya Perumnas Simalingkar, Kelurahan Mangga, Kecamatan Medan Tuntungan, Kota Medan ini menjadi terdakwa dalam kasus penipuan berkedok investasi.

Terdakwa diketahui merupakan pengelola investasi ‘Titip Trading Usaha Bersama’.

Vonis terhadap terdakwa dibacakan dalam persidangan secara virtual yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Sayed Tarmizi dari Ruang Cakra 3, Pengadilan Negeri Medan, Rabu (25/8/2021).

Dalam amar putusannya, Hakim menilai perempuan paruh baya itu terbukti bersalah melakukan tindak pidana penipuan sebagaimana dakwaan pertama penuntut umum. Perbuatan Naikta menghimpun uang dari korbannya dengan iming-iming imbal hasil berlipat ganda dalam beberapa hari, dianggap melanggar Pasal 378 KUHPidana.

“Menjatuhkan kepada terdakwa hukuman 2 tahun 9 bulan penjara,” kata hakim Tarmizi. Hal memberatkan hukuman Naikta karena perbuatan terdakwa meresahkan masyarakat. Sedangkan hal meringankan, terdakwa belum pernah dihukum sebelumnya.

“Terdakwa juga sopan selama persidangan dan telah menyesali perbuatannya,” kata Hakim.

Vonis Majelis Hakim lebih ringan 3 bulan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU). Sebelumna JPU Irma Hasibuan menuntut terdakwa agar menjalani pidana 3 tahun penjara. Atas putusan tersebut, terdakwa menyatakan menerima. Begitu juga dengan jaksa penuntut umum.

Kasus penipuan berkedok investasi ini terjadi antara tahun 2018 dan 2019. Saat itu terdakwa menghimpun dana hingga miliaran rupiah dari sejumlah korban. Tak sedikit korbannya yang menyetorkan uang hingga ratusan juta rupiah.

Dalam upaya memuluskan aksinya, terdakwa menawarkan sejumlah paket investasi yang diberi nama Titip Trading Usaha Bersama (TTUB).

Terdakwa menjanjikan imbal hasil investasi hingga dua kali lipat dalam kurun waktu beberapa hari. Dia bahkan mengaku punya dana cadangan hingga Rp2 miliar sebagai jaminan atas paket investasi yang ditawarkan.

Korban yang tergiur dengan besarnya imbal hasil investasi tersebut tertarik dan menyetorkan dana mereka. Awalnya pembayaran imbal hasil berjalan baik. Korban yang menyetor dana ratusan juta bisa mendapatkan imbal hasil hingga puluhan juta rupiah.

Namun belakangan imbal hasil tak dibayarkan dan terdakwa tidak mengembalikan modal investasi yang disetor para korban. Kasus itu pun kemudian dilaporkan ke polisi hingga berujung ke pengadilan.

 

Sumber : iNews.id