Kata Kepsek SDN 122350 Siantar, Orangtua yang Anak-anaknya Dianiaya Guru Menolak Berdamai

0
502
SD Negeri 122350 Pematangsiantar, termpat terjadinya penganiayaan terhadap enam anak didik, yang diduga dilakukan seorang oknum guru inisial EYC.(foto/dokBP/net)
Dijual Rumah

Buktipers.com – Siantar (Sumut)

Kasus penganiyaan yang diduga dilakukan seorang oknum guru SD Negeri 122350 Kota Siantar, inisial EYC (53), sepertinya bakal berbuntut panjang.

Hal ini diketahui setelah Buktipers.com menghubungi Kepala Sekolah (Kepsek) SD 122350, Hotlen Manik melalui sambungan telepon, Sabtu (20/10/2018) sekitar pukul 11.45 Wib.

Kepala sekolah itu mengatakan, keenam orang tua murid yang anak-anaknya jadi korban penganiayaan, baru saja datang ke sekolah untuk menyampaikan aspirasi mereka.

“Barusana saja orangtua murid itu datang ke sekolah ini, yang datang semuanya,” kata Hotlen Manik.

Sebelum menyampaikan tujuannya, lanjut Hotlen, keenam orangtua murid itu katanya terlebih dahulu meminta maaf karena secara tidak langsung telah merepotkan pihak sekolah.

Surat Tanda Penerimaan Laporan STPL) Polres Pematangsiantar, dalam kasus penganiayaan terhadap pelajar SD.[foto/ist]
Hotlen Manik bahkan mengaku sempat menawarkan jalan terbaik menyelesaikan masalahnya, tapi keenam orangtua murid itu menolaknya dan menegaskan agar kasusnya terus dilanjutkan dan diproses secara hukum.

“Kata mereka, biarlah kasusnya terus diproses di kantor polisi, agar jadi pembelajaran untuk dia,” ujar Hotlen Manik menjawab Buktipers.com dengan bahasa Batak menirukan ucapan orangtua murid yang datang ke sekolahnya, Sabtu (20/10/2018).

Perlu diketahui, kasus penganiayaan yang diduga dilakukan oknum guru PNS inisial EYC terhadap enam pelajar SD itu, telah resmi dilaporkan ke Polres Pematangsiantar.

Salah satu pelapor adalah, Sentiyani Elfrida Butarbutar (37) penduduk Jalan Mual nauli IV, Kelurahan Siopat Suhu, Kecamatan Siantar timur, Kota Pematangsiantar.

Laporan itu dibuktikan terbitnya Surat Tanda Penerimaan Laporan (STPL) No.Pol: STPL/291/X/2018/SU/STR tanggal 19 Oktober 2018, yang diterima petugas Ipda R.Sitorus.

Dalam laporan itu dijelaskan, korban penganiayaan itu adalah murid SD di sekolah itu, yang salah satunya tak lain adalah anak pelapor dan masih berusia 11 tahun.

Terlapor dalam kasus ini diduga melakukan tindak pidana kekerasan terhadap enam anak didiknya, dijerat UU No 35 tahun 2014 tentang  Perubahan atas UU No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang terjadi di sekolah itu tanggal 19 Oktober 2018 sekitar pukul 09.00 Wib.(red)

 

Editor : Maris