Kejelasan BUMDes Tempirai Selatan Dipertanyakan Warga

0
236
Ilustrasi. (Net)
Dijual Rumah

Pali, buktipers.com – Rupanya upaya pemerintah untuk mendongkrak sektor perekonomian masyarakat, melalui BUMDes, yang disalurkan ke pelosok desa, lewat Alokasi Dana Desa (ADD), disinyalir belum membuahkan hasil yang signifikan.

Terbukti, masih ada warga yang mempertanyakan kejelasan program BUMDes yang berada di Desa Tempirai Selatan, Kecamatan Penukal Utara, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI).

Seperti yang disampaikan ED (minta namanya diinisialkan), salah satu warga setempat yang mempertanyakan kegiatan usaha gas elpiji 3 Kg, Kamis (1/8/2019), lalu.

Ia menuding, pengelolaan BUMDes selama ADD bergulir, tidak pernah berjalan dengan baik. Bahkan, katanya, jenis usaha yang sudah ada, seperti penjualan gas elpiji ukuran 3 Kg, tidak jelas siapa sebenarnya pengurusnya.

Sedangkan anggarannya sangat besar, bahkan sejak berdiri dari tahun 2016 sampai 2019, terus ditambah untuk permodalan. Namun usahanya sekarang, diduga tidak sesuai jumlah tabung gas dengan modal yang sudah dikucurkan, ucapnya.

Terpisah, AT yang masih warga desa setempat, juga meminta namanya diinisialkan, menilai pembelian tabung gas usaha BUMDes juga sangat tidak sesuai dengan jumlah peredaran tabung gas yang ada di BUMDes. Sedangkan di tahun 2019 ini, permodalan BUMDEs, ditambah hampir ratusan juta rupiah, katanya.

“Nah, ini yang mesti segera disikapi oleh pihak terkait,  jangan sampai pengelolaan BUMDes itu sendiri dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi dan golongan tertentu,”harapnya.

Ia menilai, jumlah tabung gas elpiji sangat tidak sebanding dengan total modal yang sudah dikucurkan, bahkan tidak sesuai dengan bentuk usaha di lapangan.

Hingga muncul persepsi di masyarakat, bahwa program BUMDes di Desa Tempirai Selatan diduga syarat KKN dalam pengrealisasian Dana Desa (DD) dan ADD, cetusnya.

Karena, sambungnya, sejak didirikan BUMDes, pada tahun 2016, dalam pengurusan usahanya pun diduga dikelolah oleh istri kades sendiri.

Bahkan dinilai untuk penyerepan tenaga kerja bagi warga Desa Tempirai Selatan, sangatlah minim. “Coba lihat saja fakta di lapangan,”ajak AT.

Dijelaskan AT, Jika benar setiap tahun dianggarkan penambahan modal usaha BUMDes tersebut, maka sudah pasti secara otomatis jumlah tabung gas elpiji semakin banyak.

Tapi anehnya, jumlah tabung gas yang ada di Desa Tempirai Selatan, hanya berkisaran kurang dari 100 tabung gas saja, tentu ini tidak sebanding dengan jumlah modal yang telah dikucurkan pemerintah untuk BUMDes tersebut.

Akan tetapi jika diduga ada usaha lain, dimana dan apa bentuk usaha BUMDes-nya, tanyanya.

Kemudian dikirimkan video melalui ponsel oleh Lin, warga setempat ke awak media.

Video tersebut diduga hasil siaran lansung akun facebook milik Deni, «selaku keluarga kades” berisi kolam tempat penangkaran ikan lele sebanyak dua kolam yang diduga milik Alokasi Dana Desa (ADD) yang tercatat di papan infomasi, sebagai sub bidang usaha perikanan dan kelautan.

Yang diakuinya, diduga sebagai usaha milik pribadi dan hasilnya diduga akan digunakan sebagai lauk seluruh warga Desa Tempirai selama acara Pilkades nanti. “Nah, kolam kitek buat makan wang setempirai angat ikak kurang lebih 80 ton ikan dalam kolam ikak”. Begitu isi siaran lansung itu.

Sementara itu, Kepala Desa Tempirai Selatan, Paradi Husin, menyangkal tudingan masyarakat, bahwa pengelolaan dana BUMDes diduga diselewengkan Kades.

“Itu tidak benar. Dan penambahan modal sudah kami realisakan untuk beli tabung gas elpiji. Tentunya kami sangat terbuka dengan masyarakat, coba kamu lihat desa tetangga, “tegasnya.

(Dedi & Tim)