Keluarga Korban Penganiayaan dan Percabulan Minta Kapolres Sibolga Tahan Pelaku

0
796
Korban penganiayaan yang meminta Polisi agar menahan pelaku.
Dijual Rumah

Buktipers.com – Sibolga (Sumut)

Keluarga korban penganiayaan dan kekerasan percabulan sesuai dengan Nomor :STPLP/187/XII/SPKT dan Laporan Polisi Nomor: LP/264/XII/2018/SU/RES SBG.13 Desember 2018, meminta Kapolres Sibolga agar tahan pelaku.

Hal ini dikatakan  Toloaro Ndraha, sebagai pelapor, melalui kuasa hukumnya, Famoni Gulo, SH, M.Pd, C.P.L kepada wartawan melalui whatsapp (WA), Kamis (24/1/2019).

Famoni mengatakan, bahwa kasus ini terjadi, pada Sabtu (8/12/2018) atau  sudah 1 (satu) bulan lebih, dilaporkan di ke Polres Sibolga, namun sampai sekarang diduga  pelaku bernisial  STP masih belum ditahan.

Tambahnya, bahwa berdasarkan fakta hukum :

1.Bahwa si korban FN mengalami kekerasan penganiayaan dan percabulan. Muka korban  memar dan membengkak mata kanan dan di dalam kelopak matanya berdarah, dan sebelah kiri membiru.

2.Bahwa akibat  penganiayaan dan kekerasan pencabulan tersebut, korban FN dirawat nginap di rumah sakit Sibolga selama 3 hari. Saat itu orang tua Korban melapor ke  Polres Sibolga sesuai Nomor STPLP, bahwa anaknya telah dianiaya oleh seseorang diduga (pelaku STP-red ). Setelah korban dirawat dan sehat, dia menceritakan kepada orang tuanya, bahwa dirinya telah mengalami penganiayaan dan kekerasan percabulan yang dilakukan pelaku STP.

3.Bahwa terbukti  melalui visum, benar korban dianiaya.

4.Bahwa baju si korban sobek atas perbuatan si terlapor, pada saat ada perlawanan.

5.Bahwa si terlapor ( STP-red) dahulunya mengakui, bahwa tidak  kenal dengan si korban, dan setelah diperiksa, baru ada suatu pengakuan, benar saya sudah minta air minum.

6.Bahwa saat pelaku datang di rumah korban telah mengakui kepada orang tua korban, bahwa saya sudah datang di rumah untuk  menagih uang tagihan rekening  air.

Famoni Gulo juga mengatakan, bahwa berdasarkan Peraturan Kapolri (Perkap)  No. 14 Tahun 2012 pasal 1 poin 21, mengatakan, bahwa bukti permulaan adalah alat bukti, berupa Laporan Polisi dan 1 (satu) alat bukti yang sah, yang digunakan untuk menduga, bahwa seseorang telah melakukan tindak pidana sebagai dasar untuk dapat dilakukan penangkapan.

Poin 22 mengatakan, bahwa bukti yang cukup adalah alat bukti berupa Laporan Polisi dan 2 (dua) alat bukti yang sah, yang digunakan untuk menduga, bahwa seseorang bisa ditahan.

Dan masalah tentang dugaan percabulan dan pemerkosaan itu, pelaku tidak melakukannya di depan umum, jelas kasusnya tidak ada saksi, ungkap Famoni tegas.

Famoni merasa kesal, ketika dikonfortir di Polres Sibolga antara pelaku dan korban. Saat itu korban FN mengatakan, bahwa STP yang melakukan penganiayaan dan kekerasan percabulan terhadap dirinya, tapi aneh bahwa  diduga (Pelaku STP-red) dahulunya ditetapkan sebagai tersangka dan akhirnya pihak jupernya, status diduga pelaku STP  dirubah menjadi saksi.

Ketika hal ini dikonfirmasi kepada Kapolres Sibolga, AKBP Edwin Hariandja melalui WA mengatakan, bahwa kasus tersebut sudah menjadi  atensinya.

Namun kendalanya, kita akan turunkan tim ahli, dan untuk lebih lengkap, perlu datang di kantor, tutur Kapolres dengan tegas. (Aro Ndraha-red)