Ketua LAMI Kepri Tuding Pemkab Lingga Tidak Berkutik Hadapi PT. TBJ

0
463
Kapal kargo berlabuh di perairan Laut Pulau Pandan, wilayah Kabupaten Lingga, Kepri.
Dijual Rumah

Lingga, buktipers.com – Kedatangan kapal kargo/tanker berbendara Liberia, bernama MV. ASL Mercury, di wilayah perairan laut Pulau Pandan Lingga untuk mengangkut stok pael biji bouksit milik perusahaan tambang Telaga Bintan Jaya (TBJ), sangat disayangkan Ketua Lembaga Aspirasi Masyarakat Indonesia (LAMI) Kepri, Abdul Karim.

Bahkan, dia menuding Pemkab Lingga tidak berkutik menghadapi PT. TBJ tersebut.

Abdul Karim yang akrab dikenal dalam dunia medsos facebuker dengan sebutan Agus Ramdah ini, menuturkan, sebelumnya pihak Pemkab Lingga, melalui intansi terkait, pernah menyatakan “Kita tidak bermaksud menghalangi ataupun menghambat aktivitas setiap investor. Namun kita hanya minta kepada setiap pihak perusahaan tambang yang beroperasi di wilayah Kabupaten Lingga agar sebelum melakukan aktivitasnya, terlebih dahulu melunasi segala kewajibannya, termasuk melunasi hutang dana DKTM yang sekarang diganti nama dana CSR kepada masyarakat”.

Namun pernyataan tersebut, lanjutnya,  sepertinya bukanlah menjadi tanggapan serius pihak perusahaan TBJ.

Sebagaimana fakta di lapangan saat ini, jelas sekali segala himbauan yang dinyatakan Pemkab itu, ibarat pepatah “Anjing menggonggong, Khafilah tetap berlalu,” ucapnya kepada wartawan, Selasa (4/2/2020).

Dengan berlabuhnya kapal kargo di perairan laut Pulau Pandan itu, maka kita tidak salah  menduga kalau pihak Pemkab Lingga, tidak berkutik menghadapi perusahaan tambang TBJ. Sehingga aktivitas louding biji bouksit mentah yang akan diekspor ke luar negeri tetap akan berjalan lancar, katanya lagi.

Menurutnya, kejadian ini benar-benar ‘menakjubkan’, padahal di tahun sebelumnya, tepatnya pada tahun 2014 lalu, semua aktivitas tambang bouksit dihentikan oleh pemerintah pusat.

Karena menurut ketentuan undang-undang, tidak dibenarkan mengeksport bahan baku mentah ke luar negeri dan wajib membangun pabrik smilter pengolahan bahan baku, menjadi setengah jadi, ungkapnya.

Namun sekarang ini, faktanya jauh lebih beda yang dilakukan perusahaan TBJ. Mereka (TBJ,red) akan tetap mengeksport bahan baku mentah biji bouksit ke luar negeri, hanya dengan dalih stok pael yang lama, bukan dari hasil aktivitas tambang sekarang ini.

Dan dalam hal ini, kita dari lembaga LAMI Kepri, minta Pemkab Lingga, agar sebelum kegiatan louding tersebut berjalan, hendaknya Pemkab Lingga terlebih dahulu berbuat yang terbaik, demi memperjuangkan haknya mapun yang menjadi hak masyarakat, wilayah beroperasinya aktivitas tambang tersebut, ujarnya.

Ditegaskan, LAMI Kepri sama sekali tidak mempermasalahkan perusahaan tmbang (PT) mana, sekalipun yang mau buka tambang di wilayah Kkabupaten lingga. Asalkan sudah memenuhi syarat yang sudah diatur dalam peraturan eksport biji bouksit. Yang perlu dipertanyakan disini, apakah perusahaan tambang tersebut sudah menjalankan kewajibannya ? Seperti membangun pabrik smilter yang salah satu termasuk kewajiban terpenting bagi pihak perusahaan tambang. Karena itu merupakan syarat untuk ekspor biji bouksit, pungkasnya.

 

(Zul)