Ketua MABMI Tebing Tinggi Kunjungi Kantor IWO Sergai, Beberkan Sejarah Melayu

0
17
Ketua MABMI Tebing Tinggi kunjungi Kantor IWO Sergai.
Dijual Rumah

Sergai, buktipers.com – Ketua Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia (MABMI) Kota Tebing Tinggi, OK. Khairul Aswar yang bergelar Datuk Amar mengutarakan, dalam menggalakan budaya adat Melayu ini, tidak saja hanya menampilkan tarian-tarian menu khas Melayu, namun perlunya juga menjaga cagar budaya dan kuburan para pemangku adat yang ada di daerah masing-masing.

Paling baiknya lagi, budaya Melayu ini bisa dimasukan dalam kurikulum pelajaran untuk siswa sehingga generasi muda maupun penerus mengetahui akan sejarah Melayu tersebut.

Hal ini diungkapkannya saat mengunjungi Kantor Ikatan Wartawan Online (IWO) Kabupaten Sergai, sekaligus silaturahmi di Desa Firdaus, Selasa (10/11/2020).

“Kita sangat berharap nantinya ada generasi penerus dapat memahami budaya Melayu dan dikhawatirkan dengan masuknya budaya luar, maka adat budaya yang ada di Kabupaten Deli Serdang, Sergai dan Kota Tebing Tinggi bisa pudar,”katanya.

Ditambahkannya, bahwa, ia yang bergelar Datuk Amar memiliki wilayah khusus di Padang Deli meliputi Kecamatan Dolok Merawan, Sipispis, Bandar Khalipah dan Kota Tebing Tinggi. Banyak sejarah Melayu yang bisa digali, namun ini perlu dukungan semua pihak pemangku adat.

Nah, untuk di Kecamatan Tanjung Beringin misalnya, dahulu ada Kerajaan Padang Bedagai, namun kini yang tinggal hanya tunggul batu kerajaan tersebut. Begitu juga di Kecamatan Bandar Khalipah, menurut sejarahnya ada Pelabuhan Syahbandar.

Masyarakat Kota Tebing Tinggi yang ingin menunaikan ibadah Haji dahulunya melalui Pelabuhan Syahbandar naik kapalnya itu namanya Kecamatan Bandar Khalipah sekarang, ujarnya.

Selain itu, di Kecamatan Bandar Khalifah itu ada juga kuburan Raja Pangeran Kerajaan Padang Deli yang belum lama ini telah di jiarahi oleh pemangku adat juga H. Darma Wijaya dan H.Adlin Umar Tambunan. Sementara di Kota Tebing Tinggi ada juga ada namanya bangunan Istana Kerajaan Padang Deli dan bangunan Kantor Keprapatan Kerajaan yang berdiri di Kelurahan Bulian Kecamatan Tebing Tinggi. Banyak lagi sejarah Melayu ini yang harus digali dan jika pelu dibuatkan dalam rangkuman buku lalu diseminarkan, sehingga banyak orang nantinya bisa mempelajari budaya Melayu ini.

Jika melirik dari sejarah dahulunya, Kerajaan Padang di Tebing Tinggi berdiri meliputi, sebelah Timur dengan Kabupaten Asahan, sebelah Barat dengan Bedagai, sebelah Selatan dengan Kabupaten Simalungun dan sebelah Utara dengan Selat Malaka yang juga Kabupaten Deli Serdang. Kerajaan Padang ini merupakan sejarah budaya Melayu di Tebing Tinggi terdiri 4 kecamatan sebagaimana dijelaskan tadi.

Setiap kecamatan diperintah oleh seorang Asisten Wedana yang sekarang disebut Camat.

Jika dibuka sejarah di masa Pemerintahan Belanda, kewedanan disebut Difdeling Padang Bedagai yang ada di dalam Afdeling Deli Serdang. Afdeling Deli Serdang saat itu berkedudukan di Medan, Istana Maimun yang diperintah oleh Asisten Residen dan onder afdeling Padang dan Bedagai termasuk Kerajaan Deli.

“Menurut legenda naskah tua pustaka dari Zuriyat Kerajaan Padang Tebing Tinggi yang ditulis dengan aksara arab berbahasa Melayu asal-usul berdirinya Kerajaan Padang. Bahwa keturunan raja di dalam negeri Padang yakni turunan dari Hulu Raya pada zaman dahulu adalah Raja Batak Raya, namanya Raja Gukguk. Dia pergi berburu pelanduk ke hutan, karena istrinya sedang hamil dan mengidam ingin memakan pelanduk, maka pergilah Raja Gukguk bersama orang kepercayaan kerajaan dan masyarakatnya membawa anjing buruannya,” kata Datuk Amar mengutip dari penjelasan Tengku Nurdinsyah Al Haj atau bergelar Tengku Maharaja Bongsu Negeri Padang ke XIII yang merupakan turunan Kerajaan Padang di Tebing Tinggi.

 

(ML.hrp)