Beranda Samosir Kisah Mistis di Jembatan Sidua-dua, Boru Sinaga dari Tomok Memohon pada...

Kisah Mistis di Jembatan Sidua-dua, Boru Sinaga dari Tomok Memohon pada Boru Sinenag Naga

226
0
Elisa Santika Sinaga (30) dari Desa Tomok, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, di saat di tempat kejadian longsor, Jumat (25/1/2019). Dan sekitar pukul 13.30 WIB, Elisa membuat rempah persembahan untuk memohon kepada penghuninya ‘Namboru Boru Sinenag Naga’. (Foto/Stg)
Loading...

Buktipers.com – Simalungun (Sumut)

Belum berakhirnya ‘tragedi lumpur’ yang kerap menimpa jembatan kembar, di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) Sibaganding-Parapat, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun, justru mengundang ‘misteri’ baru dengan hadirnya Elisa Santika Sinaga (30) dari Desa Tomok, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, di tempat kejadian longsor, Jumat (25/1/2019).

Dan sekitar pukul 13.30 WIB, Elisa membuat rempah persembahan untuk memohon kepada penghuninya ‘Namboru Boru Sinenag Naga’

Elisa ternyata masih belum menikah dan sejak kecil, ternyata dia jarang bersahabat sesama kawannya. Bukan karena kemauannya, tetapi terkadang begitulah situasinya, dan menurut Boru Sinaga, dia kerap didatangi ‘Namboru Boru Sinaeng Naga’ (mahluk gaib) yang berhati baik.

Sekaligus meminta Elisa datang ke tempat kejadian, di jembatan kembar, di Lombang Sidua-dua, untuk melakukan beberapa hal diantaranya, membuat sesajen dari buah-buahan, berupa durian, pisang, dan tidak lupa puluhan pangir (jeruk purut) dan aek sitis-tio (air bersih).

Baca Juga!  Wagubsu Langsung Menurunkan Exc Longarm ke Jembatan Sidua - dua

Awak media buktipers.com yang kebetulan hendak mengabadikan pengerjaan pengorekan lumpur sampai di kedalaman 7 meter dengan alat berat yang didatangkan dari PT TPL, justru melihat kejadian unik.

Sekaligus mendekati Elia br Sinaga yang menyusun sejumlah demban (daun sirih,red) dengan berbentuk gumpalan-gumpalan besar, dan sesekali mulutnya terlihat komat-kamit, bahkan kadang juga melirik seketika.

Lalu Elia berkata, “jangan takut , sebab kita hanya memomohon sama Namboru itu. Saya adalah Elia Santika Nagalaut, “ujarnya sambil mengunyah sirih.

Santika mengajak Op Daud Sinaga yang kebetulan sebagai pemilik warung dekat TKP yang kerap dijuluki sebagai Posko.

Kalian pun ikut ajalah, nggak apa-apa, supaya bisa juga memegang sirih ini, karena saya sudah sediakan tiga bagian (3 gepok) dan mari kita sama-sama memohon, supaya lumpur-lumpur yang turun ini tidak mengambil korban, dan sayapun sudah datang kesini dari Samosir sana.

Baca Juga!  Tinjau Longsor di Jembatan Sidua-dua, JR Saragih : Jalan Alternatif Segera Dibangun

Juga karena disuruh Namboru Sineang Naga. Maka dengan demikian, jikalau saya bisa disuruhnya, maka sayapun bisalah bermohon, dan ayok lah, katanya sembari menujuk Oppung Daud.

Kamipun beranjak dengan rasa takut mendengar Elia bermohon dengan suara berat dan kecil diapun berkata, “namboru/oppung unang sai muruk ho, marpanganju ma ho, sai manghorasi ma ho, unang paila au, alana hodo namarsuru au, nga huboan be napinangidomi, sosadia nian on, alai onmajo natarpatupa, sai makkorasi ma hamu da?”

Pada initinya dalam permohonan, Elia berharap agar penghuni ‘Namboru Sinenag Naga’ yang juga bisa menguasai laut, danau, udara dan langit untuk tidak marah lagi. Jangan mempermalukan Elia Santika Naga Laut, karena atas petunjuknyalah bentuk sesajen dari buah-buahan dan sirih serta lainnya itu disediakan di sana. Walau yang saya bawa tidak seberapa, tetapi inilah dulu dan biarlahkanlah supaya kita semua sama-sama selamat (horas), kira-kira demikian.

Baca Juga!  DPO Kejari Sibolga Berhasil Diamankan di Medan

Sebelum meletakkan sesajen, Elia Santika Sinaga menghehtikan sejenak pengerukan dengan alat berat. Kita biarkanlah dulu, sesajen kita ini diterima namboru itu, nanti kalian lanjutkan, pintanya.

Usai meletakkan sesajen berbentuk demban tiar (sirih), dia menceritakan mimpinya. Sebelum kemari, saya telah bermimpi, gunung ini longsor besar dan semakin besar.

Sayapun disruhnya ke sini, dan tadi pagi saya datang, sekaligus berbelanja di Pekan Tigaraja (dulu Pekan Tiga Raja itu adalah pekannya Raja-raja, dan ada tiga raja besar di sana, termasuk Raja Sisinga Mangaraja), kisahnya.

Demikianlah kisah yang yang diceritakan dan diharapkannya juga, supaya pengendara agar tidak membuang puntung rokok sembarangan di sana, dan jaga kebersihan, pesan namboru itu.(Stg)

Loading...