Korban Investasi Bodong Bisnis Frozen Food Rp 60 M Lapor ke Polda Riau

0
2
Foto ilustrasi penipuan. (Mindra Purnomo/detikcom)
Dijual Rumah

Pekanbaru, buktipers.com- Korban investasi bodong di Pekanbaru melapor ke Polda Riau. Para korban mengaku telah tertipu investasi modal usaha frozen food senilai Rp 60 miliar.

“Kami yang melapor hari ini ada 6 orang. Total seluruhnya kami ada ratusan orang dan nilai kerugiannya bervariasi antara Rp 50-60 juta,” kata korban, Ana saat ditemui di Polda Riau, Kamis (2/12/2021).

Senada dengan Ana, Rahmi juga menjadi salah satu korban investasi bodong dan mengalami kerugian Rp 2,1 miliar. Rahmi mengaku ikut berinvestasi karena dapat tawaran keuntungan besar.

“Awalnya dari teman-teman juga, melihat teman ada yang berhasil. Makanya saya tergiur, tetapi malah rugi Rp Rp 1,3 miliar,” katanya.

Rahmi mengaku baru bergabung pada Agustus lalu. Namun tak lama setelah bergabung, desas-desus investasi bodong mencuat di teman-temannya.

“Saya masuk terakhir, mulai dari Agustus, jadi pas macet saya baru gabung. Modal saya Rp 1,3 miliar, dijanjikan keuntungan sekitar Rp 800 juta, siapa yang tak tergiur,” kata Rahmi didampingi kuasa hukumnya, Mirwansyah.

Adapun pihak terlapor adalah MA, warga Bukit Tinggi, Sumatera Barat. MA awalnya mengaku punya usaha frozen food, yakni sosis dan yoghurt.

Seiring berjalannya waktu, MA mengajak teman-teman kenalannya untuk ikut dan berinvestasi. Ia menjanjikan keuntungan fantastis dari modal yang disetorkan ke dirinya.

“Kita laporkan MA, kerugian yang dialami klien kita, kurang lebih Rp 60 miliar,” kata Mirwansyah sambil menunjukkan laporan polisi yang diterima Polda Riau.

Mirwansyah mengatakan MA mengajak teman-temanya berinvestasi dengan dalih bisnis frozen food, seperti sosis Kanzler dan yoghurt. Produksinya didistribusikan hingga ke luar negeri.

“Modusnya bilang ada pengiriman produk untuk di dalam dan luar negeri. Contoh ke Malaysia itu modalnya Rp 1,3 juta per boks selama 25 hari akan cair, keuntungannya hampir 45 persen,” katanya.

Setelah banyak korban bergabung, sekitar Februari 2021 pembayaran yang dijanjikan mulai macet hingga Agustus 2021. Bahkan memasuki September, pembayaran kepada korban tidak ada sama sekali.

“Sekarang kerugian klien kita hampir Rp 60 miliar dan ini korbannya hampir 200 orang. Tapi kita sinyalir ini banyak korban-korban lainnya yang akan melapor, Rp 60 miliar itu dari 6 korban,” katanya.

Atas laporan itu, korban berharap pelaku MA segera diusut tuntas. Termasuk soal aliran dana investasi bodong miliaran itu.

 

Sumber : detik.com