Krisis Air Melanda Hajoran Kecamatan Pandan, Ini Harapan Warga pada Pemkab Tapteng

0
151
Parulian Silitonga. (Foto/Job Purba)
Dijual Rumah

Buktipers.com – Tapteng (Sumut)

Krisis air bersih melanda Kelurahan Hajoran Induk dan Kelurahan Hajoran Indah, Kecamatan Pandan,  Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera utara. Sekitar dua ratusan Kepala Keluarga (KK), di dua kelurahan bertetangga ini, mengalami krisis air bersih.

Krisis air bersih diakibatkan karena pasokan air yang mengalir pada instalasi pipa milik Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Mual Nauli, tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan warga.

Hal ini ditenggarai akibat jumlah konsumen yang semakin banyak. Sementara debet air yang mengalir semakin mengecil.

“Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, warga terpaksa membeli air ke depot-depot penjualan air bersih. Sementara untuk mencuci pakaian, warga eksodus ke sungai Sibuluan,” terang Parulian Silitonga, warga Hajoran Indah, Selasa (18/6/2019).

Parulian menuturkan, kalau krisis air bersih ini mulai terasa sejak awal Ramadhan kemarin.

Ia menyebut diakibatkan oleh sumber air menuju bak penampungan air mengecil, sementara warga yang membutuhkan semakin banyak. Dan ini lah fenomena yang saat ini berimbas  pada pelanggan, katanya.

“Debet airnya tidak memenuhi standar, kenapa konsumen ditambah lagi. Sampai ada yang membayar Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta. Apakah hanya gara-gara mengejar setoran, pelayanan dinomor duakan?,” kata Parulian dengan nada kesal.

Ketua BKM Al Mustaqim Bugis Kelurahan Hajoran Indah ini, berharap  PDAM Mual Nauli menambah debit air, di wilayah mereka. Biaya masuk dan rekening bulanan yang dibebankan sebaiknya diikuti dengan perbaikan kualitas dan peningkatan layanan pihak direksi PDAM Mual Nauli, katanya.

“Seharusnya kewajiban yang dibebankan kepada pelanggan harus diikuti penambahan debit air dan peningkatan layanan,” harapnya.

Ia juga meminta agar Pemerintah Kabupaten  (Pemkab) Tapteng turun tangan dalam  menangani persoalan tersebut. Karena bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, krisis air bersih sudah merambah ke kebutuhan ibadah warga. Beberapa masjid sudah tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan air wudhu para jama’ah, ungkapnya.

“Untuk ambil air uduk di masjid Al Mustaqim pun air sudah tidak ada.  Akibatnya pengurus mesjid juga yang disalahkan,” pungkasnya.

Masyarakat di sini mengharapkan agar pihak terkait segera mencari solusi dan menyelesaikan permasalahan ini.

Karena merupakan kebutuhan yang sangat vital.

“Kami berharap pemerintah Tapteng lewat dinas terkait bisa mengambil kebijakan tentang permasalahan air ini. Ini kebutuhan hidup, lho!,”ujarnya.

 

(Job Purba)