Kronologi Anggota TNI AL Duel dengan Petani di Pesisir Barat, Bermula dari Sengketa Lahan

0
50
Serka Imron saat dievakuasi oleh Polri dan Warga Menggunakan Tandu (Enrico Ngantung/MNC Portal)
Dijual Rumah

Pesisir Barat, buktipers.com – Anggota TNI Angkatan Laut (AL) duel menggunakan senjata tajam dengan petani di Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung. Keduanya dievakuasi dalam kondisi luka terbuka di beberapa bagian tubuh.

Peratin (Kepala Desa) Pekon Cahaya Kuningan Faizal Hakim mengatakan, mereka yang terlibat perkelahian yakni Serka Imron bin Yusuf (52) dengan warga bernama Syafei bin Ikhwan (58), warga Pekon Gedung Cahaya Kuningan, Ngambur. Peristiwa ini terjadi Selasa (2/3/2021) sore.

Serka Imron dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdoel Moeloek Bandarlampung guna perawatan intensif karena mengalami luka cukup serius di bagian wajah. Sementara Syafei dirawat di Puskesmas Ngambur. Kronologi bermula dari sengketa lahan kelapa sawit seluas 2 hektare.

Mereka sudah berselisih kurang lebih selama delapan tahun hingga akhirnya berujung duel berdarah.

Keduanya diketahui berduel menggunakan senjata tajam jenis golok. Karena mereka memang biasa membawa golok saat pergi berkebun.

“Keduanya duel di perkebunan sawit di Pemangku Sukajadi,” ujar Faizal, Rabu (3/3/2021).

Faizal menceritakan, perselisihan antara Serka Imron dan Syafei sudah berlangsung sejak lama. Keduanya merasa sama-sama memiliki kewenangan untuk kebun kelapa sawit dan hasilnya. “Ributnya sudah lama sekitar 8 tahunan. Pak Imron merasa memiliki hak karena dia punya surat jual beli dengan Pak Sudirman (pemilik tanah). Sedangkan Syafei merasa memiliki karena orang tuanya yang membuka lahan pada waktu itu,” kata Faizal.

Selama sengketa, Lanjut Faizal, pemanenan buah kelapa sawit dilakukan Syafei dan selalu dibiarkan Serka Imron. “Ya karena selalu ribut terus makanya Pak Imron mengalah mundur. Mungkin karena dia tentara makanya dia menghindar supaya tidak ribut,” katanya.

Perebutan lahan ini pernah dilaporkan ke aparat penegak hukum beberapa tahun yang lalu, namun tidak ada tindak lanjut sampai sekarang. Hingga dua pekan sebelum kejadian berdarah, Serka Imron yang merasa mempunyai hak atas kebun, mengunduh (memanen) buah sawit untuk dijual.

Syafei yang mengetahui hal itu, langsung menghampiri Serka Imron dan terjadilah perselisihan.

“Sempat ada saksi yang melihat cekcok keduanya yaitu Pak Rohim, tapi ia lari karna takut dan meminta pertolongan ke warga sekitar. Jadi gak tau siapa yang menebas duluan, yang jelas mereka bawa golok semua karna pergi ke kebun,” katanya.

 

Sumber : iNews.id