Mengapa Saat Nyepi Tidak Boleh Keluar Rumah? Ada 4 Larangan Saat Nyepi

0
2
Mengapa Saat Nyepi Tidak Boleh Keluar Rumah (Suasana Nyepi di Bali tahun 2021 / Foto: ANTARA FOTO/FIKRI YUSUF)
Dijual Rumah

Jakarta, buktipers.com – Mengapa saat Nyepi tidak boleh keluar rumah sebenarnya berkaitan dengan makna Hari Raya Nyepi. Dalam perayaan Hari Raya Nyepi, umat Hindu melepaskan sifat-sifat serakah yang melekat pada diri manusia.

Perayaan Hari Raya Nyepi didasarkan pada penanggalan atau kalender Saka. Tahun ini, Hari Raya Nyepi jatuh pada Kamis (3/3/2022).

Lantas, mengapa saat Nyepi tidak boleh keluar rumah? simak informasinya berikut ini.

Mengapa Saat Nyepi Tidak Boleh Keluar Rumah? Ini Jawabannya

Mengapa saat Nyepi tidak boleh keluar rumah? Perayaan Nyepi identik dengan keadaan yang sunyi. Dilansir dari Surat Edaran Parisada Hindu Dharma Indonesia tentang pelaksanaan Hari Raya Nyepi, Nyepi dilakukan selama sehari penuh selama 24 jam.

Dari pukul 06.00 WITA sampai dengan pukul 06.00 WITA keesokan harinya, umat beragama Hindu di Bali tidak boleh keluar rumah. Ada 4 larangan saat Nyepi yang tidak memperbolehkan umat Hindu untuk keluar rumah. 4 larangan itu disebut dengan Catur Brata Penyepian. Berikut 4 larangan yang dimaksud:

1.Amati Geni: Dilarang menyalakan api/lampu termasuk api nafsu yang mengandung makna pengendalian diri dari segala bentuk angkara murka.

2.Amati Karya: Dilarang melakukan kegiatan fisik/kerja dan yang terpenting adalah melakukan aktivitas rohani untuk penyucian diri

3.Amati Lelungan: Dilarang berpergian ke luar rumah, akan tetapi senantiasa introspeksi diri dengan memusatkan pikiran astiti bhakti ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi /Ista Dewata.

4.Amati Lelanguan: Dilarang mengadakan hiburan/rekreasi yang bertujuan untuk bersenang-senang, melainkan tekun melatih bathin untuk mencapai produktivitas rohani yang tinggi.

Catur Brata Panyepian ini harus dilaksanakan dengan tertib dengan tidak ada bunyi pengeras suara dan tidak menyalakan lampu pada waktu malam hari. Namun, hal ini dapat dikecualikan bagi yang sakit atau membutuhkan layanan untuk keselamatan dan hal-hal lain dengan alasan kemanusiaan.

Mengapa saat nyepi tidak boleh keluar rumah saat ini sudah diketahui. Berikut adalah informasi lainnya mengenai perayaan Hari Raya Nyepi yang sudah detikcom rangkum.

Perayaan Hari Raya Nyepi: Upacara Melasti dan Ida Bhatara Nyejer

Masih melansir Surat Edaran Parisada Hindu Dharma Indonesia tentang pelaksanaan Hari Raya Nyepi, Hari Raya Nyepi dilakukan dengan sejumlah acara keagamaan. Salah satunya adalah Upacara Melasti yang dilakukan mulai hari Minggu, 27 Februari hingga Rabu, 2 Maret 2022.

Sekembalinya dari Upacara Melasti, acara dilanjutkan dengan diadakannya Ida Bhatara Nyejer di Pura Bale Agung atau Desa sampai dengan 2 Maret 2022. Selanjutnya setelah selesai Ngaturang Tawur Kesanga, Ida Bhatara kembali ke Kahyangan masing- masing manut dresta soang-soang.

Mengapa saat Nyepi tidak boleh keluar rumah sudah terjawab. Selanjutnya mari simak perayaan Hari Raya Nyepi di halaman berikutnya.

Perayaan Hari Raya Nyepi: Upacara Tawur Kesanga

Selain Upacara Melasti dan Ida Bhatara Nyejer, umat Hindu juga melaksanakan upacara Tawur Kesanga.

Dalam perayaan Hari Raya Nyepi, upacara Tawur Kesanga dilakukan dalam beberapa tingkatan, berikut di antaranya:

1.Tingkat Kabupaten/Kota: Menggunakan Upakara Tawur Kesanga dengan segala kelengkapannya. Dilaksanakan pada Pukul 12.00 Wita

2.Tingkat Kecamatan: Menggunakan Upakara Caru Panca Sanak yaitu dengan lima ekor ayam (Panca Sata) ditambah itik belang kalung beserta kelengkapannya atau sesuai dengan kemampuan (manut Dresta).

3.Tingkat Desa Adat: Menggunakan Upakara Caru Panca Sata beserta kelengkapannya atau sesuai dengan kemampuan desa Adat masing-masing dengan mengambil tempat di Catus Pata Desa Adat pada Pukul 16.00 wita

4.Tingkat Banjar: Menggunakan Upakara Caru Eka Sata yaitu Ayam Brumbun dengan olahan urip 33 (Urip Bhuwana) beserta kelengkapannya atau sesuai dengan kemampuan Banjar masing-masing, dengan mengambil tempat di Catuspata pada waktu “Sandi Kala”

5.Tingkat Rumah Tangga: Menghaturkan Segehan Manca Warna sebanyak 9 (siya) tanding manut pengideran dengan olahan ayam brumbun, disertai tetabuhan tuak, arak, berem dan air (toya anyar) ditujukan (sambat) Sang Kala Bhucari

 

Sumber : detik.com