Nyawa Happy Damanik Melayang, Dokter RSUD Amri Tambunan Ngaku Salah dan Minta Damai

0
5
Aprianto Manurung menunjukkan surat tanda Terima laporan polisi atas laporan dua orang oknum dokter RSUD Amri Tambunan didampingi dua orang ahli hukum kesehatan di Lubukpakam, Jumat (5/8/2022). TRIBUN MEDAN/INDRA GUNAWAN SIPAHUTAR
Dijual Rumah

Deliserdang, buktipers.com – Ada dua dokter di RSUD Amri Tambunan yang sekarang dilaporkan ke polisi, terkait dengan dugaan kelalaian dalam penanganan medis, terhadap Happy Yansdika Damanik.

Sebelumnya, Happy Yansdika Damanik meninggal dunia setelah menjalani operasi caesar di RSUD Amri Tambunan.

Adapun dua dokter RSUD Amri Tambunan yang dilaporkan ke polisi masing-masing dr Jekson Lubis, Sp. OG serta dr Dodi Iskandar, M. Ked (An), Sp. An.

Pelapornya adalah Aprianto Manurung, warga Desa Wono Sari, Kecamatan Tanjungmorawa, Kabupaten Deliserdang.

Aprianto merupakan suami dari Happy Yansdika Damanik, ibu yang sempat menjalani operasi caesar dan meninggal dunia beberapa waktu lalu.

Adapun laporan terhadap dua dokter tersebut tertuang dalam bukti lapor STTLP/B/1382/VIII/2022/POLDA SUMUT.

Untuk melawan dua orang dokter ini, Aprianto dan keluarga didampingi oleh ahli hukum kesehatan dari Riau.

Keduanya adalah Dian Wahyuni SKM. MM. Kes dan Agus Sahat Sitompul SKM. MH.

“Saya melaporkan ini karena ingin mencari keadilan,” tegas Aprianto di Lubukpakam, usai membuat LP ke Polda Sumut, Jumat (5/8/2022).

Sementara itu, menurut Dian Wahyuni, ahli hukum kesehatan yang mendampingi Aprianto Manurung, pihaknya sudah dilibatkan sejak awal kasus ini bergulir.

“Ada berbagai hal yang membuat kami kemudian melaporkan kasus ini. Kami minta resume medik pun tidak dikasih, padahal itu adalah hak dari keluarga pasien,” kata Dian.

Ia mengatakan, pihak RSUD Amri Tambunan kala itu cuma memberikan Ringkasan Pasien Pulang (RPP).

“Kami menolak terimanya. Dari resume medik yang kami minta itu sebenarnya bisa diketahui keluarga, mengenai mulai pasien masih hidup sampai mati, sehingga enggak bolak-balik lagi keluarga bertanya dan bisa puas,” ucap Dian Wahyuni.

Ia mengatakan, jika dalam kasus ini pihak managemen RSUD Amri Tambunan juga sempat mengejar-ngejar mereka untuk berdamai.

Hal ini lantaran disebutnya dalam pertemuan dengan para dokter dan managemen dokter yang menjadi terlapor mengakui ada kesalahan yang dilakukannya.

Pihak managemen RSUD Amri Tambunan juga bahkan sampai mendatangi dirinya untuk membicarakan perdamaian sampai ke Riau.

“Rumah sakit mau damai dengan kesanggupan Rp 130 juta. Ini ditolak mentah-mentah sama pihak keluarga,” kata Dian.

Ia tidak menampik kalau pihak keluarga juga ada menyampaikan angka dalam kasus ini.

Disebut dari catatan-catatan mengenai angka ini ada kerugian imateril karena faktanya ada nyawa yang sudah hilang dalam kasus ini. Diakui kalau angkanya sekitar Rp 2 miliar.

“Mendiang ini saja kerja gajinya sebulan sekitar Rp 5 jutaan itu dikalikan sampai dia pensiun. Baru soal hitungan pendidikan anak-anak yang ditinggalkan ini juga ada hitungannya. Angka Rp 2 miliar ini sempat kami bunyikan, dan mereka enggak sanggup. Kalau cuma Rp 130 juta, pihak keluarga sampaikan hidupkan lagi saja mendiang itu. Atau nyawa dibayar nyawa, “kata Dian.

Disebut adapun yang menjadi persoalan dari kasus ini dianggap Dian adalah pra operasi.

Ia menyebut idealnya dokter yang menjadi penanggungjawab lebih dahulu menyampaikan kepada keluarga resiko-resiko yang akan dihadapi apa bila operasi dilakukan pada saat itu.

Disebut pasien ini bukan pasien emergency sehingga dianggap terlalu terburu-buru melakukan operasi.

“Hasil lab menunjukkan bahwa pasien ini anemia. Terbukti karena HB nya 7.1 gr persen. Pada surat ringkasan pasien pulang yang diberikan kepada keluarga pasien atau yang dikuasakan di situ dilihat hasil anamnesa. Disitu dilihat paru paru normal, Jantung normal, pernapasan normal, denyut jantung normal tidak ada tanda tanda membahayakan pada janin, “katanya.

Dari sini diartikannya sebenarnya sudah petunjuk bagi dokter sehingga dipertanyakan kenapa buru melakukan operasi.

Disebut pasien tidak ada pendarahan yang sifatnya mendadak atau urgen dipertanyakan juga kenapa ditransfusi.

” Di jawab dokter saat itu dia anemia. Lalu pertanyaannya kenapa nggak diatasi dulu anemia nya?. Kecuali pasien ini pingsan, pecah ketuban dan ibunya kesakitan tapi ini tidak sama sekali. Masih ada waktu 11 hari lagi sebenarnya. Dari sisi biaya, pasien ini juga tidak keberatan kalau itu ditangani dulu masalahnya karena mereka pakai BPJS Kesehatan, “katanya.

Sementara itu Direktur RSUD Amri Tambunan, dr Hanif Fahri SpKJ menyebutkan karena sudah dilaporkan pihaknya nanti akan melakukan tindaklanjut sesuai ranah hukum dan ketentuan yang berlaku.

Mengenai perdamaian yang sempat diajukan oleh pihaknya sesuai keterangan keluarga ia pun memilih tidak berkomentar.

“No comen bang? (130 juta). Mohon maaf dokter kita juga dlm posisi tertekn batin dan susah harap dimaklumi,”kata Hanif.

 

Sumber : tribunnews.com