Omicron BA.4 dan BA.5 Masuk RI, Yakin Baru Ada 4 Kasus?

0
1
Epidemiolog mengungkapkan potensi situasi COVID-19 di RI kini merupakan fenomena 'gunung es'. Foto: Antara Foto/Andreas Fitri Atmoko
Dijual Rumah

Jakarta, buktipers.com – Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 sudah masuk Indonesia sejak Mei 2022, teridentifikasi pada empat kasus di Bali sejak Kamis (10/6/2022) malam. Diduga, kedua subvarian ini memicu kenaikan kasus COVID-19 RI sepekan terakhir.

“Kenaikan sesudah hari raya itu antara 27 hari sampai 35 hari, sejak hari raya besar Natal ataupun Lebaran, ini Lebaran kita kan kemarin 2 Mei, kok nggak naik, ya belum naik, karena kan biasanya kejadiannya 27 sampai 35 hari jadi kenaikan itu pertama normal setiap hari raya besar pasti ada kenaikan,” ujarnya saat ditemui di Gedung Kementerian Kesehatan RI, Jumat (10/6/2022).

“Kedua, kita juga ada varian baru, varian baru juga sudah kita identifikasi tadi malam, tapi itu sebenarnya kejadiannya di akhir bulan Mei. Nah dari dua fakta itu memang pasti akan ada kenaikan,” imbuh Menkes.

Waswas Kasus COVID-19 RI bak Fenomena ‘Gunung Es’

Seiring itu, epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, menyorot rendahnya kapasitas deteksi kasus COVID-19 hampir di seluruh wilayah Indonesia. Terlebih, banyak pasien COVID-19 tidak bergejala sehingga peningkatan kasusnya tidak bisa langsung terlihat. Imbasnya lebih lanjut, penularan pada kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak berusia lima tahun ke bawah menjadi tak terdeteksi.

“Kita harus waspadai dengan kesadaran bahwa dalam penyebaran penyakit COVID-19 ini fenomena puncak gunung es itu selalu terjadi. Kemudian juga kita harus waspadai karena COVID ini didominasi oleh kasus yang tidak bergejala. Artinya, kasus sebenarnya bisa jauh lebih tinggi. Namun karena mereka tidak bergejala (menjadi tidak terdeteksi),” terang Dicky pada detikcom, Jumat (10/6/2022).

Memang, kenaikan kasus COVID-19 di RI kini belum bisa disebut serius. Akan tetapi, Dicky mengingatkan subvarian Omicron seperti BA.4 dan BA.5 menyebar lebih kuat dibandingkan varian Corona lainnya. Kedua subvarian ini juga diketahui bisa menjangkit orang-orang yang sebelumnya sudah pernah terinfeksi virus Corona, atau pernah divaksin COVID-19.

“Kita juga harus menyadari bahwa kecenderungannya, bicara Omicron dan turunan-turunannya, ini menunjukkan bahwa mereka tidak melemah. Virulensi mereka bahkan meningkat, bahkan pada orang yang sudah divaksinasi sekali pun bisa tetap terinfeksi dan menularkan meskipun gejalanya bisa sangat ringan atau tidak ada,” beber Dicky.

“Kenapa tren meningkat? Sekali lagi, kita melihat bahwa dalam pandemi COVID-19 ini fenomena penurunan proteksi imunitas itu terjadi setelah empat bulan. Khususnya kalau bicara di dua dosis, meskipun termasuk dari yang terinfeksi. Kemudian adanya potensi reinfeksi juga terjadi termasuk adanya subvarian baru yang lebih efektif seperti BA.4 dan BA.5 atau BA.2.12.1 yang menyebar jauh lebih efektif, bahkan dibandingkan Delta,” pungkasnya.

 

Sumber : detik.com