Pernyataan Kombes Budhi soal Bharada E Jago Nembak yang Kini Diragukan

0
2
Bharada E menggunakan kemeja dan masker hitam saat tiba di Komnas HAM (Rifkianto Nugroho/detikcom)
Dijual Rumah

Jakarta, buktipers.com – Bharada E, yang diduga terlibat baku tembak menewaskan Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat atau Brigadir J di rumah Irjen Ferdy Sambo, sempat disebut penembak jagoan. Namun narasi itu mulai diragukan.

Pernyataan soal Bharada E sebagai jago tembak sempat disampaikan Kapolres Metro Jakarta Selatan nonaktif Kombes Budhi Herdi Susianto dalam rapat konferensi pers di Mapolres Metro Jakarta Selatan, Selasa (12/7/2022).

Budhi saat itu awalnya menjelaskan soal peristiwa yang disebutnya sebagai baku tembak Bharada E dengan Brigadir Yoshua di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo, Kompleks Polri, Duren Tiga, Jakarta Selatan, Jumat (8/7) pukul 17.00 WIB. Budhi mengatakan peristiwa itu diawali dugaan pelecehan oleh Brigadir Yoshua terhadap istri Ferdy Sambo.

Budhi mengatakan istri Ferdy Sambo berteriak. Teriakan itu kemudian didengar Bharada E, yang bertugas sebagai pengawal Irjen Ferdy Sambo. Bharada E pun bertanya tentang apa yang terjadi, tapi direspons dengan tembakan oleh Brigadir Yoshua.

Brigadir Yoshua, yang bertugas sebagai sopir istri Ferdy Sambo, dan Bharada E kemudian disebut terlibat baku tembak. Brigadir Yoshua tewas dalam baku tembak itu.

Budhi mengatakan Brigadir Yoshua berada di lantai bawah saat baku tembak, sementara Bharada E ada di lantai atas. Dia mengatakan Bharada E menembak dengan Glock 17 yang berisi 12 peluru. Dia menyebut Bharada E melepaskan lima tembakan dan menyebabkan tujuh luka tembak di tubuh Brigadir Yoshua.

Sementara itu, Brigadir Yoshua menggunakan senjata HS 16 dan melepaskan tujuh peluru. Menurutnya, tak ada satupun tembakan dari Brigadir Yoshua yang mengenai Bharada E.

Budhi pun menjelaskan soal Bharada E sebagai polisi yang jago menembak. Dia mengatakan Bharada E merupakan pelatih menembak di resimennya. Berikut pernyataan lengkap Kombes Budhi soal Bharada E jago menembak yang merupakan jawaban saat sesi tanya jawab:

Tanya: Ada luka tembak yang masuk ke Bharada E?

Jawab: Tidak ada. Jadi kebetulan, sebagai gambaran informasi, kami juga melakukan interogasi terhadap komandan Bharada RE. Bahwa Bharada RE ini sebagai pelatih vertical rescue dan di resimen pelopornya dia sebagai tim penembak nomor satu kelas satu di Resimen pelopor. Ini yang kami dapatkan.

LPSK Dapat Keterangan Lain

Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) mengungkapkan sejumlah hasil penelusuran timnya terhadap Bharada Richard Eliezer atau Bharada E. Menurut LPSK, Bharada E tidak lebih jago menembak dibandingkan dengan Brigadir Yoshua.

“Informasi itu kami peroleh (Bharada E tak jago tembak). Artinya, kalau dibandingkan dengan Yoshua, Yoshua lebih jago tembak,” ujar Wakil Ketua LPSK Edwin Partogi saat dihubungi, Kamis (4/8/2022).

Edwin menyampaikan hal ini diperoleh LPSK dari hasil penelusuran dan investigasi terhadap sejumlah narasumber yang kompeten. Investigasi dilakukan untuk mengumpulkan bahan nantinya apakah Bharada E ini bisa mendapatkan perlindungan dari LPSK.

“Kan kami dalam proses penelaahan dan investigasi. Dalam proses investigasi ini kami himpun informasi dari mana pun. Tentu informasi yang kami himpun (adalah) informasi yang bisa kami percaya sumbernya, kompeten menyampaikannya,” jelasnya.

Namun Edwin mengatakan bukan masalah jago menembak atau tidak yang menjadi persoalan. Dia mengatakan Bharada E telah memiliki kompetensi dalam memegang senjata api.

“Soal megang pistol kan bukan soal jago nembak, tetapi memenuhi (di antaranya) tes psikologi,” imbuhnya.

Edwin juga mengungkapkan keterangan Bharada E soal kejadian ‘tembak-menembak’. Edwin kemudian meminta agar diksi ‘tembak-menembak’ tidak digunakan sebelum terungkap kebenaran peristiwanya seperti apa.

“Ya itu cerita E (ada tembak-menembak). Tapi apakah cerita itu, ini LPSK itu tidak mau masuk ke dalam peristiwanya. Kenapa? Karena yang diceritakan E juga belum tentu kebenaran, gitu. Yang disampaikan oleh E bahwa dia nembak, tetapi apakah benar dia nembak, kan kita belum tahu sebenarnya,” jelasnya.

Bharada E Diduga Menembak dari Jarak Dekat

LPSK juga mengungkap hasil penelusuran timnya terhadap Bharada E. LPSK menemukan Bharada E menembak Brigadir Yoshua dalam jarak dekat.

“Iya jaraknya dekat, dan tidak butuh keahlian dalam melakukan penembakan dalam jarak itu,” kata Wakil Ketua LPSK Edwin Partogi Pasaribu di kantor LPSK, Jakarta Timur (Jaktim), Jumat (5/8).

Edwin mengatakan diperoleh LPSK dari hasil penelusuran dan investigasi terhadap sejumlah narasumber yang kompeten. Investigasi dilakukan untuk mengumpulkan bahan nantinya apakah Bharada E ini bisa mendapatkan perlindungan dari LPSK.

Edwin enggan merinci jarak pasti Bharada E menembak Brigadir J. Namun, dia menekankan dari informasi yang diterima LPSK tidak dibutuhkan keahlian untuk menembak pada jarak tersebut.

“Jaraknya kami tahu, tapi tidak kami sebutkan meterannya berapa. Sebab dekat jauh juga bisa jadi relatif. Tapi setidaknya jarak tembak itu kalau berdasarkan informasi yang diperoleh, tidak membutuhkan keahlian,” tuturnya.

Komnas HAM Sebut Tak Ada Saksi Bharada E Tembak Menembak dengan Yoshua

Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik mengatakan tak ada yang melihat penodongan pistol oleh Brigadir Yoshua ke istri Ferdy Sambo. Dia juga mengatakan tak ada yang saksi melihat tembak-menembak Brigadir Yoshua dengan Bharada E.

“Sama dengan Bharada E ini kan baru keterangan Bharada E sendirian, yang kemudian diperkuat oleh keterangan Ricky, yang juga berada di lantai bawah. Tetapi Ricky sebenarnya tidak melihat langsung tembak-menembak itu. Dia katanya melihat Yoshua mengacungkan senjata, kemudian ketika ada suara tembakan, dia sembunyi. Jadi dia nggak tahu sebenarnya lawan tembaknya Yoshua itu siapa menurut kesaksian dia. Setelah kemudian suara tembakan berhenti, baru dia keluar. Dia lihat Yoshua sudah telungkup, kemudian dia lihat Bharada E turun dari tangga,” kata Taufan dalam diskusi secara daring, Jumat (5/8/2022).

Kasus ini sendiri baru diungkap ke publik tiga hari kemudian atau Senin (11/7). Sejumlah pihak, mulai Menko Polhukam Mahfud Md hingga Ketua Komisi III DPR Bambang Wuryanto, menilai ada kejanggalan dalam kasus ini.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit pun membentuk tim khusus untuk mengusut kasus ini. Selain itu, Komnas HAM dan Kompolnas ikut mengusut sebagai tim eksternal.

Terbaru, Bareskrim telah menetapkan Bharada E sebagai tersangka dugaan pembunuhan. Dia juga telah ditahan.

Kapolri juga telah memutasi 25 orang polisi terkait dugaan menghambat penanganan kasus Brigadir J. Salah satu yang dimutasi ialah Irjen Ferdy Sambo.

 

Sumber : detik.com