PLN Putuskan Ratusan Lampu Jalan di Simalungun, Pemkab Menunggak hingga 3 Bulan

0
9
Seorang warga berjalan melintasi lampu jalan di Jalan Umum Tiga Raja - Parapat, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun. Tribun-Medan.com/Alija Magribi

Simalungun, buktipers.com – PT PLN Unit Pelayanan III Pematangsiantar mengambil langkah tegas dengan memutuskan ratusan lampu jalan di wilayah Kabupaten Simalungun.

Langkah ini dilatari Pemkab Simalungun tak membayar tagihan selama tiga bulan.

Melalui siaran persnya, PLN menyebutkan Pemkab Simalungun belum melunasi tagihan pembayaran Lampu Penerangan Jalan Umum (LPJU) selama tiga bulan, yakni Juni-Agustus 2020.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh PLN, baik secara tertulis maupun komunikasi langsung untuk percepatan pembayaran.

Namun, Pemkab Simalungun tak kunjung membayarkan tagihan tersebut.

Sebelumnya pemberitahuan pemutusan LPJU ini telah disampaikan PLN secara tertulis pada tanggal 24 Agustus 2020 dan telah dikomunikasikan kepada Pemkab.

“Komunikasi terakhir tanggal 24 Agustus. Kita sudah bersurat juga, tapi pihak pemda mengatakan tunggu ketok palu APBD-P,” ujar Humas PLN UP III Pematangsiantar, Rudi Fernando Perangin-angin, Jumat (28/8/2020) siang.

PLN menyadari tindakan yang dilakukan dengan memutus sejumlah LPJU pastinya akan memberikan ketidaknyamanan pada masyarakat, khususnya yang berada di Simalungun.

Sejumlah LPJU tersebut berada di Daerah Kerja PLN UP3 Pematangsiantar diantaranya ULP Siantar Kota, ULP Sidamanik, ULP Parapat, ULP Tanah Jawa, ULP Perdagangan. Kemudian ULP Dolok Masihul di Serdangbedagai dan ULP Limapuluh di Batubara.

Adapun total LPJU yang selama ini dilayani oleh PLN sebanyak 357 Pelanggan dengan total daya tersambung 3,205,940 VA. Pemutusan Lampu Penerangan Jalan Umum (LPJU) ini dilakukan sudah sesuai prosedur.

“Pemutusannya mulai hari ini, ya,” ujar Rudi kembali.

Ia menyebutkan, tunggakan tersebut menjadi beban perusahaan. Seharusnya rekening LPJU dibayarkan setiap bulannya, dan PLN telah memberikan toleransi selama tiga bulan namun tak kunjung dibayarkan.

Ia menambahkan, pihak PLN telah menerima Surat Penangguhan Pembayaran dari Pemkab Simalungun dikarenakan masih menunggu pengesahan Perubahan APBD 2020.

PLN berharap Pemkab Simalungun dapat segera melakukan pembayaran rekening listrik LPJU agar penyambungan kembali aliran listrik dapat dilakukan.

Di kesempatan yang lain, Kadis Informasi dan Komunikasi Pemkab Simalungun Wasin Sinaga meminta PLN UP III Pematangsiantar bersabar.

Sebab, rapat Perubahan APBD Simalungun akan digelar dalam waktu dekat.

“Kita meminta lah PLN untuk bersabar. Sebab selama Pandemi Covid-19. Pemerintah Kabupaten Simalungun melakukan refocussing anggaran. Kita sudah menyurati mereka untuk menahan dulu pemutusan ini,” pinta Wasin.

Sebelum Diputus, Sebagian Simalungun Memang Gelap

Ketua DPRD Simalungun Timbul Jaya Sibarani menyesalkan adanya tunggakan tagihan Pemkab Simalungun pada PLN UP III Pematangsiantar.

Sebab, tunggakan itu tanpa alasan dan sejatinya anggarannya sudah disiapkan.

“Kita sangat menyesalkanlah. Sebab sedari awal untuk pembayaran tagihan PLN itu kan sudah ditaksir dan disediakan,” ujar Timbul.

Untuk itu, DPRD Simalungun akan memanggil Pemkab Simalungun untuk mempertanggungjawabkan tunggakan yang berujung pemutusan lampu jalan ini.

Sementara itu, warga Parapat, Roy Caroll mengakui ada petugas PLN datang memeriksa lampu jalan di depan rumahnya.

Ia pun menyayangkan ini terjadi dan berharap Pemkab secepatnya menyelesaikan masalah ini.

“Parapat ini kan kawasan wisata. Kecewalah kalau gelap gulita. Kita harap segera dibayarkanlah biar wisatawan nyaman ke sini,” pinta Roy.

Roy menyampaikan, jauh sebelum ada pemutusan ini, jalanan di Parapat sudah remang-remang. Ia pun tak bisa membayangkan bagaimana semua lampu jalan diputuskan oleh PLN..

“Sebenarnya gak gitu pun, jalanan udah sebagian gelap,” ujarnya.

Senada dengan Roy, warga Perdagangan, khawatir minimnya penerangan akan berdampak pada keselamatan berkendara. Sebab beberapa titik di jalanan ada yang bergelombang dan cenderung melintasi perkebunan.

“Yang mana yang diputuskan? Kalau diputuskan khawatir juga sama yang melintas malam hari. Kalau jalanan bergelombang atau berlubang, kasihan yang lewat, apalagi lewat kebun. Kan gelap,” ujar perempuan bernama Giok.

 

Sumber : tribunnews.com