Polisi Pastikan Mayat Wanita di Parkiran DPRD Gantung Diri, Sudah 4 Tahun Nikah Siri Tinggal Sendiri

0
3
Kolase mayat PNS wanita di dalam mobil di parkiran basement DPRD Riau dipastikan polisi karena gantung diri. TRIBUNPEKANBARU.COM/RIZKY ARMANDA
Dijual Rumah

Medan, buktipers.com – Akhirnya polisi menyimpulkan hasil penyeledikan mayat wanita di basement DPRD Riau gantung diri,

Hasil ini berdasarkan puluhan saksi yang sudah diperiksa kepolisian.

Adapun identitas mayat wanita bernama Fitria Yulisunarti (40). Ia ditemukan tewas pada Sabtu (10/9/2022) lalu.

Ternyata sang korban semasa hidupnya sudah empat tahun nikah siri tapi tak serumah.

Kasat Reskrim Polresta Pekanbaru, Kompol Andrie Setiawan mengatakan, saksi yang sudah diperiksa sampai hari ini, Jumat (16/9/2022), sudah mencapai 28 orang.

Para saksi terdiri dari keluarga korban, teman di kantor dan lingkungan kerja korban, serta saksi umum lainnya.

Sementara untuk barang bukti (barbuk), polisi mengamankan mobil korban merk Toyota Terios warna silver.

Kemudian kemasan minuman mineral, gunting, pisau, minyak zaitun, tisu, sampel darah, hingga sidik jari.

“Berdasarkan hasil gelar perkara, didapatkan rekomendasi bahwa berdasarkan alat bukti keterangan saksi, ahli, surat, petunjuk, dan keterangan terlapor, belum ditemukan fakta mendukung pada peristiwa dugaan tindak pidana (pembunuhan) sebagaimana dimaksud pasal 338 KUHP,” papar Andrie, Jumat (16/9/2022).

Korban, merupakan istri siri dari pria berinisial F, yang bekerja di Kantor DPRD Riau. Mereka sudah menikah siri selama 4 tahun namun tidak tinggal serumah.

Polisi membeberkan sejumlah temuan fakta terkait kasus gantung diri wanita dalam mobil di parkiran basement Kantor DPRD Riau.

Polisi menyebut korban bernama Fitria Yulisunarti (40) itu, bunuh diri dengan cara gantung diri di dalam mobilnya. Fitria bukan merupakan korban pembunuhan.

Ketika ditemukan Sabtu (10/9/2022) siang lalu, posisi korban terlentang di jok tengah mengarah ke sebelah pintu kanan dalam keadaan lehernya tergantung.

Di bawah jasadnya, ditemukan handphone miliknya.

 

Dari hasil pengecekan terhadap handphone tersebut, ternyata diketahui korban sempat selfie dengan kamera handphone miliknya tersebut.

Pada sehari sebelumnya, Jumat sekitar pukul 11.30 WIB, korban melakukan komunikasi dengan temannya berinisial HAM.

Lalu pukul 14.14 WIB, korban mengirimkan pesan WhatsApp kepada anaknya yang pada intinya menyampaikan permohonan maaf.

“Tim terus melakukan pendalaman. Saksi HAM yang berada di Kepri, kita datangi. Karena penting untuk ditelusuri,” ucap Andrie, saat konferensi pers, Jumat (16/9/2022).

Polisi kata Andrie, juga mendapati fakta bahwa korban kerap menyampaikan keluh kesahnya kepada guru spiritualnya berinisial SM.

Beberapa kali korban pernah melakukan rukiyah dan berobat.

Tak hanya itu, korban juga pernah berkomunikasi dengan F yang merupakan suami sirinya. Korban sempat melontarkan ancaman yang mengarah kepada bunuh diri.

Andrie tak menampik jika korban sempat terlibat cekcok dengan F.

“Kita lakukan pendalaman, kita rekonstruksi, berdasarkan keterangan saksi, sebelumnya ada peristiwa keributan antara keduanya (korban dan F, red). Masih di areal kantor DPRD, arah lapangan tenis,” tutur Andrie.

Keduanya, sempat berencana hendak sarapan pagi di hari Jumat, sehari sebelum korban ditemukan tewas.

Korban dan F, diketahui terlibat pertengkaran cukup hebat. F bahkan memegang bagian leher dan tangan korban.

“Kembali lagi, kita sesuai hasil forensik penyebab kematian utamanya,” terang Andrie.

Kesimpulan Polisi Penyebab Tewas karena Gantung Diri

Setelah 7 hari proses penyelidikan mendalam, akhirnya polisi mengambil kesimpulan bahwa wanita bernama Fitria Yulisunarti (40), yang ditemukan tewas dalam mobil di parkiran basement Kantor DPRD Riau, Sabtu (10/9/2022) lalu, adalah akibat gantung diri.

Hal ini disampaikan Kasat Reskrim Polresta Pekanbaru Kompol Andrie Setiawan saat konferensi pers, Jumat (16/9/2022).

Disebutkan Andrie, korban melakukan aksi gantung diri di mobil miliknya jenis Toyota Terios warna silver.

 

Berdasarkan hasil pemeriksaan visum dan bedah mayat diungkapkan Andrie, ditemukan sejumlah memar dan luka di bagian tubuh korban.

Diantaranya memar ujung lidah, punggung dan tangan, luka lecet pada leher sisi depan kiri, atas dan punggung tangan, luka lecet tekan seperti kertas perkamen pada daerah leher, resapan darah pada otot leher sisi depan sebelah kiri.

“Ditemukan pelebaran pembuluh darah dan tanda-tanda mati lemas, asfiksia. Ditemukan lidah tergigit dan terjulur. Sebab mati karena kekerasan tumpul pada daerah leher yang menekan jalur nafas. Tidak ditemukan luka atau kekerasan lain yang mematikan pada daerah tubuh lain,” kata Andrie.

Perkiraan korban meninggal dunia sebelum jasadnya ditemukan, yakni antara 24 hingga 36 jam.

Berdasarkan pola dan gambaran luka pada daerah leher terang Andrie, sesuai dengan kasus gantung.

“Fakta pemeriksaan-pemeriksaan luar dan bedah mayat guna menilai organ-organ pada kasus tersebut, tidak bertentangan kasus gantung diri. Karena tidak ditemukan kekerasan lain yang mematikan selain luka lecet tekan yang melingkar leher,” urainya.

Andrie mengungkapkan, luka lecet tekan yang melingkar leher dengan gambaran mengarah ke belakang, memberikan gambaran adanya penekanan nafas yang signifikan, sehingga menyebabkan kematian.

Andrie menerangkan, proses autopsi atau bedah mayat dilakukan di RS Bhayangkara Polda Riau.

Terkait kasus ini, petugas melakukan serangkaian penyelidikan dan penyidikan.

Ini diawali dengan proses olah Tempat Kejadian Perkara (TKP), pengambilan sidik jari, serta mengamankan sejumlah barang yang ada di dalam mobil korban.

“Barang berharga seperti handphone dan barang pribadi lainnya masih ada di mobil. Kita lakukan penelusuran terkait alat bukti keterangan saksi dan alibi-alibi kita ambil persesuaian dengan melakukan langkah koordinasi dengan tim Ditreskrimum Polda Riau, untuk melakukan analisa berdasarkan scientific investigation. Dilakukan pendalaman penggabungan informasi dan fakta-fakta,” beber Andrie.

Penemuan mayat korban bermula saat sekira pukul 09.00 WIB, 2 orang petugas keamanan gedung DPRD Riau sedang melakukan pengecekan situasi areal kantor, termasuk di parkiran basement.

Ketika itu, saksi melihat pintu mobil korban dalam keadaan terbuka. Kedua petugas keamanan itu mengenal korban karena sering datang ke Kantor DPRD Riau. Keduanya lantas tak begitu menghiraukan dan kembali ke pos jaga.

Selanjutnya pada pukul 11.00 WIB, petugas keamanan kembali berpatroli. Saksi melihat, pintu mobil korban masih dalam kondisi terbuka.

Saksi pun berinisiatif mendatangi mobil korban. Ternyata didapati korban telah meninggal dunia dalam keadaan leher terikat kain yang terhubung ke bagian hand grip plafon mobil.

Korban dalam keadaan duduk di bangku mobil bagian tengah. Atas kejadian itu, saksi melapor ke Komandan Regu, yang kemudian berkoodinasi dengan polisi.

Kasat Reskrim Polresta Pekanbaru, Kompol Andrie Setiawan memimpin langsung kegiatan olah TKP, Sabtu siang pekan lalu.

Pantauan Tribunpekanbaru.com di lokasi, korban ditemukan dalam mobil Daihatsu Terios warna silver dengan pelat BM 1389 VX.

Catatan redaksi:

Jika Anda memiliki tendesi untuk bunuh diri atau membutuhkan layanan konseling atau teman curhat, Anda dapat menghubungi kontak di bawah ini.

Kesehatan jiwa merupakan hal yang sama pentingnya dengan kesehatan tubuh.

Jika semakin parah, disarankan untuk menghubungi dan berdiskusi dengan pihak terkait, seperti psikolog, psikiater, maupun klinik kesehatan jiwa.

LSM Jangan Bunuh Diri (021 9696 9293) LSM Jangan Bunuh Diri adalah Lembaga swadaya masyarakat yang didirikan sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan jiwa.

Tujuan dibentuknya komunitas ini adalah untuk mengubah perspektif masyarakat terhadap mental illness dan meluruskan mitos serta agar masyarakat paham bahwa bunuh diri sangat terkait dengan gangguan atau penyakit jiwa.

Anda dapat menghubungi komunitas ini melalui nomor telepon (021 0696 9293) atau melalui email [email protected]

 

Sumber : tribunnews.com