Beranda Hukum PRT Bunuh Bayinya karena Takut Dipecat, Berlinang Air Mata saat Mengakui Kesalahan

PRT Bunuh Bayinya karena Takut Dipecat, Berlinang Air Mata saat Mengakui Kesalahan

34
0
Sidang pembunuhan bayi yang dilakukan Seorang PRT, Dewi Purnama Sari (28) kembali digelar dengan agenda keterangan terdakwa di PN Medan, Rabu (7/8/2019). Tribun Medan/Victory Hutauruk
Loading...

Medan, buktipers.com – Sidang pembunuhan bayi yang dilakukan seorang PRT, Dewi Purnama Sari (28) kembali digelar dengan agenda keterangan terdakwa di PN Medan, Rabu (7/8/2019).

Ibu asal warga Tulung Mili Indah, Kotabumi, Kab Lampung Utara, Provinsi Lampung merupakan PRT di Perumahan Malibu Indah Raya Blok H No. 27 Kel Suka Damai, Medan.

Sidang yang diketuai majelis hakim, Richard Silalahi itu awalnya dihadirkan saksi Jasmanto Siagian selaku petugas kebersihan yang menemukan bayi dan dokter Ritonga dari RS Bhayangkara Medan yang melakukan autopsi.

Kedua saksi itu memberikan keterangan secara bergantian.

“Saya menemukan bayi itu ketika membongkar sampah di tempat penampungan Pak Hakim.

Awalnya saya pikir bungkusan plastik hitam itu berisi nasi sisa.

Namun, keluar tangan mungil seperti tangan anak bayi.

Karena penasaran, lalu saya koyak plastik itu. Ternyata isinya mayat bayi perempuan,” ucap Jasmanto.

Selanjutnya atas penemuan itu, Jasmanto kemudian melaporkan kepada pimpinannya dan diteruskan ke pihak kepolisian.

Sementara itu, hasil visum dalam dan luar yang dilakukan dokter Ritonga menyebutkan bayi itu baru saja dilahirkan.

Baca Juga!  Kades Rambung Estate Sergai Diadili di PN Medan

Prakiraan lama kematian kira-kira 6 jam hingga 24 jam.

“Bayi itu meninggal karena pernafasan (mati lemas).

Ada tanda ruam di lehernya seperti bekas cekikan,” beber dokter Ritonga di persidangan.

Menurutnya, hitung-hitungannya dari hasil observasi, bayi itu kurang lebih berumur 9 bulan di dalam kandungan.

“Artinya bisa dilahirkan secara normal.

Tidak menutup kemungkinan si ibu bisa melahirkan sendiri tanpa ada bantuan orang lain kalau umur kandungan sudah 9 bulan,” ungkap saksi ahli tersebut.

Usai mendengarkan keterangan kedua saksi tersebut, Majelis Hakim selanjutnya memeriksa keterangan terdakwa Dewi sendiri.

Awalnya saat dicerca pertanyaan oleh Hakim Ketua Richard, terdakwa sempat berkelit.

Ia mengatakan, saat mengandung bayinya itu selama 9 bulan tak ada merasakan tanda-tanda kehamilan seperti perempuan kebanyakan.

“Saya mens setiap bulan.

Tidak ada juga muntah-muntah.

Saya memang tidak merasakan sedang hamil,” cetus Dewi.

Mendengar itu, jelas saja hakim dan jaksa kebingungan.

Bahkan hakim anggota Deson Togatorop bertanya hingga mendetail.

“Mana mungkin.

Kami kan punya istri juga.

Tapi maaf dulu ya, apa payudaramu mu apa tidak membesar dan mengeluarkan susu?

Baca Juga!  Pemikul Lima Kilogram Sabu Santai Dihukum 15 Tahun Penjara

Karena kalau hamil pasti keluar air susu,” tanya Hakim Deson.

Lagi-lagi, Dewi mengatakan tidak ada tanda-tanda seperti itu.

Hingga akhirnya, hakim anggota Ali Tarigan yang berhasil membongkar kebohongan Dewi.

“Okelah kalau kau tak mengakuinya.

Terus hasil keterangan temanmu yang lainnya kemaren.

Katanya pas pertama kau datang ke rumah majikanmu itu.

Pakaianmu ketat-ketat.

Tapi kenapa setelah kerja kata mereka pakaianmu lebar-lebar.

Tak pernah lagi berpakaian ketat? Coba jawab, gak usah bohong,” cetus Hakim Ali.

Dicerca pertanyaan seperti itu, tiba-tiba Dewi meneteskan air mata.

Dia pun mengakui kebohongannya.

“Iya Pak Hakim.

Saya khilaf.

Saya memang sadar sedang hamil.

Saya takut ketahuan.

Saya malu,” kata Dewi berderai air mata.

“Kok malu kau.

Kenapa tidak kau kabarin suamimu di kampung?

Benar itu benih suamimu, nanti orang lain yang ‘tanam saham’.

Harusnya gak perlu kau malu.

Karena itu anakmu dan suamimu,” tambah hakim Richard.

Menjawab pertanyaan hakim Richard, Dewi bersikeras jika bayi itu merupakan hasil buah cintanya dengan suaminya di kampung.

Baca Juga!  Bekas Kepsek SMP HKBP Ambarita Ini Disidang di PN Medan

“Sehari sebelum datang ke Medan.

Saya dan suami melakukan hubungan suami istri dulu Pak Hakim.

Sumpah itu anak suami saya,” jelas Dewi.

Di akhir keterangannya, Dewi memohon agar hakim memberikan hukuman seringan-ringannya.

Dia mengaku sangat menyesal dan berjanji tak akan mengulangi perbuatannya lagi.

Majelis hakim kemudian menutup persidangan hingga pekan depan dengan agenda tuntutan.

Sebelumnya Jaksa Penuntut Umum (JPU) Evi Yanti Panggabean menjelaskan terbongkarnya kasus ini berawal dari penemuan mayat bayi perempuan di plastik kresek hitam oleh petugas kebersihan bernama Jasmanto Siagian pada Maret 2019 lalu di Perumahan Malibu Indah Raya Blok H Kel Suka Damai, Kec Medan Polonia.

Selanjutnya personel dari Polsek Medan Baru melakukan penyelidikan dan berhasil meringkus terdakwa Dewi saat dirawat di Rumah Sakit Materna, Medan.

Terdakwa Dewi mengaku nekat membunuh bayinya karena takut ketahuan dan dipecat oleh majikannya.

Akibat perbuatannya, terdakwa Dewi dijerat dengan Pasal 342 sub Pasal 341 KUHPidana.

 

Sumber : tribunnews.com

Loading...