Ratusan Personel Diterjunkan Untuk Amankan Demo di DPRD Kota Malang

0
248
Pengamanan di depan DPRD Kota Malang/Foto: Muhammad Aminudin
Dijual Rumah

Malang, buktipers.com – Ratusan personel aparat keamanan diturunkan untuk mengamankan demo depan DPRD Kota Malang. Itu merupakan langkah antisipasi mencegah kericuhan dalam demo mahasiswa dari berbagai aliansi hari ini.

Kapolres Malang Kota AKBP Dony Alexander mengatakan, personel yang diterjunkan menyesuaikan dari jumlah peserta aksi. Personel dari Polres Malang dan Polres Batu ikut dilibatkan untuk mendukung pengamanan.

“Kami sesuai SOP, ada satu SSK Brimob membantu pengamanan unjuk rasa hari ini,” kata Dony ditemui di gedung DPRD Kota Malang Jalan Tugu, Selasa (24/9/2019).

Dony menyampaikan, hadirnya satu unit water canon milik Brimob Polda Jawa Timur, juga mengacu pada SOP pengamanan unjuk rasa. Mobil water canon diparkir persis di utara Gedung DPRD. “Iya itu (water canon) menyesuaikan SOP,” tegasnya.

Selain water canon, dua unit kendaraan membawa kawat berduri juga disiapkan aparat di lokasi. Ia menambahkan, hari ini sejumlah aliansi mahasiswa menggelar unjuk rasa di DPRD Kota Malang. Namun, Dony tak mengetahui apakah mereka massa yang sama dengan yang demo pada Senin (23/9).

Pantauan detikcom, gelombang demo mahasiswa sudah terlihat sejak pukul 09.00 WIB. Kelompok mahasiswa pertama adalah Aliansi Mahasiswa Peduli Agraria NTT.

Mereka menggelar aksi dengan orasi menentang reformasi agraria. Aksi mereka tak berlangsung lama, kemudian menyusul gelombang Aliansi Rakyat Untuk Demokrasi (ARD) merupakan gabungan dari gerakan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Dengan mengenakan almamater UMM (merah) massa mengawali aksi dengan long march menuju depan gedung DPRD Kota Malang.

Massa melengkapi diri dengan beragam poster dan satu unit mobil pikap untuk membawa pengeras suara. Korlap terus menyerukan agar peserta aksi tetap berada dalam satu barisan.

Jumlah massa ARD ini lebih banyak dibandingkan Aliansi Pemuda Peduli Agraria NTT.

Massa ARD langsung menguasai jalan depan DPRD, yang sebelumnya digunakan untuk orasi kelompok mahasiswa dengan dress code hitam dari Front Rakyat Melawan Oligarki, Senin (23/9).

Orator ARD mengajak mereka bergabung untuk bersama-sama menyuarakan aspirasi. “Ayo…yang dari Front Rakyat Melawan Oligarki kita bergabung, karena kita di sini sama. Menyampaikan hak rakyat,” ucap orator ARD dari atas mobil komando.

Tak lama gelombang aksi mahasiswa dari BEM UB long march menuju DPRD Kota Malang. Mereka mengenakan dress code hitam dengan pita putih di lengah kanan.

Sejumlah spanduk dipasang mahasiswa di pagar gedung DPRD. Hingga berita ini diturunkan massa dari ARD belum memulai aksi untuk menyuarakan tuntutannya.

Namun berdasarkan rilis yang diterima detikcom, ARD menulis beberapa tuntutan, yakni menolak reformasi agraria dan tolak RUU Pertanahan. Kemudian meminta pemerintah menghentikan monopoli serta perampasan tanah petani, menghentikan intimidasi, kriminalisasi, teror terhadap kaum tani Indonesia, mewujudkan kedaulatan pangan, usut tuntas konflik agraria yang melibatkan petani, usut tuntas konflik agraria dan Berikan jaminan atas tanah, modal bagi petani.

 

Sumber : detik.com