Realisasi Dana BOS SDN 15 Krui Diduga Tidak Transparan dan Sarat Penyimpangan

0
155
Foto SDN 15 Krui.
Dijual Rumah

Pesisir Barat, buktipers.com – Realisasi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS)  di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 15 Krui, Pekon Kuta Marga, Kecamatan Bengkunat, Kabupaten Pesisir Barat, tahun 2020 sebesar Rp281.700.000, diduga tidak transparan dan sarat penyimpangan.

Pasalnya, Kepala Sekolah (Kepsek) SDN 15 Krui, selaku pengguna anggaran, disinyalir tidak berpedoman pada juknis dana BOS dan tidak mematuhi regulasi yang telah ditetapkan.

Betapa tidak, pantauan wartawan di lapangan, pada Senin (13/9/2021),  kondisi sekolahan tersebut terkesan sudah lama tidak dirawat. Cat dinding tampak kusam, plafon didalam dan di luar gedung terlihat jebol.

Padahal, dalam laporan rekapitulasi realisasi penggunaan dana BOS SDN 15 Krui, pada data laporan online rekapitulasi BOS, biaya sarana prasarana dan perawatan sekolah tahun 2020, besarannya sangat fantastis, dimana tahap 2 sebesar Rp59.720.500 dan pada tahap 3 Rp25.628.000 dengan total Rp85.348.000.

Kondisi perpustakaan SDN 15 Krui tampak memprihatinkan.

Tidak hanya itu, dalam data laporan rekapitulasi realisasi penggunaan dana BOS komponen No 3, pembiayaan pembelajaran dan ekstrakurikuler pada tahap kedua, tercantum sebesar Rp20.767.000., dan di tahap tiga Rp5.145.000.

Sedangkan kegiatan tersebut sudah ditiadakan dikarenakan adanya bencana non alam atau wabah Covid-19.

Begitu juga halnya pembiayaan untuk pengembangan perpustakaan sebesar Rp30.131.200., yang sangat tidak sesuai dengan fakta yang ditemui di lapangan.

Sebab, kantor perpustakaan yang dimaksud sangat jauh dari kata layak, sehingga dalam penggunaan dana BOS terkesan semau-maunya saja.

Foto bangunan SDN 15 Krui tampak memprihatinkan alias rusak parah.

Anehnya, Kepsek SDN 15 Krui, M. Najib, saat dikonfirmasi awak media ini, tidak bisa memberikan penjelasan secara detail terkait penggunaan dana BOS tahun 2020 yang ia kelola.

“Tahap satu dan dua penyesuain, kemudian masalah pembiayaan sapras itu untuk penjabaran pemeliharaan na gitu. Jadi begini, perpuskaan itu kan dibelakang WC, sehingga sering anak-anak itu ngambilnya (buku) acak-acakan, makanya buku pelajaran ditarok di kantor dan sebagian ada di perpus,”kelitnya sambari berharap agar permasalahannya tidak dipublikasikan di media, pada Selasa (14/9/2021).

“Kita cara kekeluargaan saja, kalau kalian menganggap saya saudara, tidak usah diberitakan,”rayunya sambil mengiming-imingi wartawan dengan sejumlah uang.

(Andi)