Ribuan Nelayan Sergai Gelar Aksi di Laut, Hujan Lebat tak jadi Penghalang

0
275
Ribuan nelayan turun ke laut dengan mempergunakan kapal motor, membawa spanduk yang bertuliskan "Tolak pukat yang tidak ramah lingkungan". (Foto/ML.hrp)
Dijual Rumah

Buktipers.com – Sergai (Sumut)

Sungguh menegangkan aksi memperjuangkan nasib nelayan tradisional ini. Meski di bawah guyuran hujan lebat, tampak ribuan nelayan turun ke laut dengan mempergunakan kapal motor, membawa spanduk yang bertuliskan “Tolak pukat yang tidak ramah lingkungan”.

Aksi yang dikomandoi Zulham, menyampaikan tuntutannya, persis di tengah laut, peraian Bandar Khalipah, kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) yang berbatasan dengan kecamatan Medang Deras, kabupaten Batubara, Sumatera Utara.

Ribuan nelayan tradisional yang tergabung dalam Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Sergai, meminta pukat trawl, jangan beroperasi lagi, karena telah melanggar Kepmen 02 Tahun 2015. Selanjutnya, pukat apung dan ancau, harus menjauh dari lokasi kegiatan nelayan tradiaional 4 mil ke atas, ujar Zulham.

Ribuan nelayan turun ke laut dengan mempergunakan kapal motor, membawa spanduk yang bertuliskan “Tolak pukat yang tidak ramah lingkungan”. (Foto/ML.hrp)

Disamping itu, sebut Zulham, nelayan tradisional sangat mengharapkan pihak yang berwenang menindak lanjuti tuntutan aksi nelayan tradisional yang berlangsung, pada hari ini (Kamis, 21/3/2019).

“Dikatakannya, nelayan tradisional secara tegas mengutarakan aspirasinya, bahwa jika masih lagi beroperasi pukat yang merugikan nelayan tersebut, maka nelayan akan mengambil tindakan sendiri,”tegasnya.

Aktivitas pukat trawl akhir-akhir ini, sebut Zulham, sudah sangat bebas beroperasi, di perairan Sergai. Bahkan dalam minggu ini, sempat terjadi permasalahan.

Ribuan nelayan turun ke laut dengan mempergunakan kapal motor, membawa spanduk yang bertuliskan “Tolak pukat yang tidak ramah lingkungan”. (Foto/ML.hrp)

Dimana ada 3 kejadian yang menyebabkan perahu nelayan hancur, akibat ditabrak pukat trawl dan mengakibatkan nelayan tradisional, mengalami luka-luka. Sekarang banyak nelayan yang kesulitan untuk memenuhi kebutuhan keluarga setiap harinya, karena hasil tangkap nelayan jauh berkurang sehingga banyak yang tidak melaut, ujarnya.

Sebelum turun ke tengah laut, semua nelayan berkumpul di Desa Bagan Kuala, kecamatan Tanjung Beringin, dengan ratusan kapal motor. Aksi ini, tampak dikawal oleh Polres Sergai, dan aparat Keamanan Laut.

Ironisnya, pukat trawl dan ancau, yang beroperasi, bukan di wilayah tangkapannya, tapi sudah melanggar zona yang ditentukan dan setiap hari mereka melaut, ungkap Zulham lagi.

(ML.hrp)